Thursday, 3 September 2015

Penciptaan Manusia dan Penentuan Takdir Sejak di Dalam Kandungan Ibu

Penciptaan merupakan suatu awal dari setiap permulaan bagi semua makhluk Allah SWT. mulai dari manusia, hewan, tumbuhan, batu, pasir, langit, bumi, bintang dan matahari serta apapun yang Allah ciptakan pasti memiliki awal yang dinamakan kelahiran atau kemunculan. Pada kalangan manusia Allah menciptaka laki-laki dan perempuan. Begitu juga pada hewan dan tumbuhan, sebagian mereka memiliki gender masing-masing.

Didalam menjalani hidup kita juga mengalami berbagai aktifitas dan kreatifitas yang kita peroleh dari pengetahuan dan ilham. Manusia menjalani aktifitasnya sebagai suatu rutinitas dan kebiasaan sehari-hari. Sebagai makhluk yang berakal dan berilmu, dalam menjalani hidupnya manusia memiliki berbagai prilaku dan variasi tingkah laku sehingga menuntun kepada yang namanya perubahan. Dengan perubahan ini manusia terus berkarya hingga terbentuk perubahan yang berbentuk suatu kebahagiaan atau kesengsaraan. Dan adupun kebahagian dan kesengsaraan inilah yang menjadi patokan dan sasaran dalam hidup. Bagi yang ingin mendapatkan kebahagiaan maka melakukan yang terbaik dan mereka yang menginginkan kesusahan bermalas-malaslah.

Kehidupan yang kita mulai bukanlah tidak memiliki yang namanya akhir. Kelak setelah kehidupan dunia akan kita temui kehidupan akhirat yang kekal yang sering disebut akhirat. Sebelum menuju kesana. Manusia sejak penciptaan pertama sudah ditentukan takdirnya sejak didalam kandungan. Yang mana semua itu adalah termasuk amalan-amalan yang akan kita kerjakan didunia. Tidak ada satupun dari setiap detik yang kita habiskan untuk menegerjakan sesuatu pekerjaan melainkan semuanya telah ditulis oleh Allah sejak dalam kandungan. Dan innilah yang kita sebut Takdir.

Proses penciptaan manusia bukanlah satu tahap saja akan tetapi melalui berbagai prose demi proses dialami dalam berbahai tahap. Seperti yang kita ketahaui bahwa Nabi Adam diciptakan oleh Allah dari Tanah maka tidak jauh berbeda dengan kita semua sebagai keturunan Nabi Adam. Hanya saja berbeda karena Nabi Adam tidak lahir dari rahim seorang ibu. Dan juga bukan pencampuran antara sperma dan ovum. Akan tetapi Allah menciptakanya langsung dari saripati tanah.

Penciptaan Manusia dan Penentuan Takdir Sejak di Dalam Kandungan Ibu|Proses-proses penciptaan manusia
Proses-proses penciptaan manusia meliputi banyak hal. Mulai dari pembentukan darah hingga menjadi sosok calon bayi atau janin yang tersimpan didalam rahim sang ibu. Sebelum membentuk darah, adapun asal manusia yang paling utama seperti yang kita ulas diatas tadi bahwa manusia berasal dari tanah yaitu sari pati tanah. Dari saripati tanah itu Allah SWT. dengan kekuasaannya menciptakan menjadi air mani atau campuran antara sperma dan ovum tadi membentuklah segumpal darah yang tersimpan didalam rahim. Segumpal darah ini atau yang disebut alaqah adalah seperti lintah (‘alaqah memiliki arti sesuatu yang menempel atau lintah atau gumpalan darah beku) yang menempel pada rahim. Sang embrio ini memang berprilaku seperti lintah karena ia mendapat suplay darah dari sang ibunya seperti halnya makhluk ini (lintah) penghisap darah. Proses ini bersangsung beberapa hari atau 3 sampai 4 minggu hingga terbentukklah selanjutnya daging-daging. Perkembangan demi perkembangan terus  berjalan hingga pada hari ke-42 terbentuklah tulang-tulangnya yang memberikan bentuk kepada kerangka sang janin. Pada tahap ini otot belumlah terbentuk nanti setelah minggu ketujuh dan awal minggu ke delapan otot baru terbentu. Yaitu tahap ini adalah tahap saat tulang-tulang dibalut oleh daging {berdasarkan penjelasan Dr. Zakir naik}. Allah SWT. telah menjelaskan tentang perkara ilmiah ini dalam surat Al Mukminum ayat 12-15;


وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍۢ مِّن طِينٍۢ | ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةًۭ فِى قَرَارٍۢ مَّكِينٍۢ | ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًۭا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًۭا ثُمَّ أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ
Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. (Qs. Al Mukminun 12-15)

Proses penciptaan manusia dalam perut ibunya dalam Al Quran dijelaskan sangatlah sempurnah, dari ‘alaqah atau gumpalan darah beku, kemudian diikuti dengan pembentukan daging, seterusnya tulang-belulang dan yang teakhir adalah membalutnya dengan daging hingga terbentuklah dia seorang anak manusia (calon bayi/janin). Pada tahap-penciptaan dalam kandungan, setelah semuanya terbentuk maka disana saat penentuan rezeki, ajal dan amalnya serta nasibnya sengsara ataukah bahagia.

Penentuan rezki adalah penentuan mengenai perebendaharaan yang dimiliki olehnya di dunia. Apakah dia seorang pejabat, apakah dia seorang pedagang, dimanakah rezki-rezkinya juga termasuk sampai batas mana rezkinya itu. Maka ketika batas rezkinya sudah habis datanglah ajal bagi seorang tersebut. Ketika ajal hendak menjemput malaikat diutus oleh Allah kepadanya sambil berkata “wahai anak adam, akau sudah mencari rezki-rezkimu disetiap pelosok negeri ini bahkan dunia ini mungkin rezkimu sudah tidak ada lagi di dunia ini.” Catatan tentang rezki merupakan catatan rezki yang akan kita dapatkan didunia, baik tentang cara atau pun jenis dari rezki tersebut.

Ajal yang merupakan batas kehidupan kita di dunia sudah menjadi catatan sejak dalam kandungan. Dimanakah kita akan hidup dan dimana akan kita mati. Walau ketika suatu waktu kita berada pada suatu tempat yang jauh pasti kita akan ketempat dimana kita akan mati dan pasti akan menuai kematian disana. Selaian itu, ajal atau kematian juga tidak bisa diperlambat atau dipercepat, seperti firman Allah SWT. berikut ini,

لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةًۭ ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai ajal. apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS. Yunus :49)

Sehingga, ketika detik saat kita akan wafat maka saat itulah nyawa kita melayang. Tidak ada nego-nego dengan malaikat maut. Walaupun malaikat maut kita tawarkan dengan harta benda yang kita miliki, baik emas mahupun permata malaikat akan tetap melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya.

Begitu juga dengan amalan yang akan kita lakukan didunia. Semua itu telah tertulis sejak kita dalam kandungan sang ibu. Apakah kita selaku pelaku amal baik ataukah pelaku amal buruk. Maka itu akan tercermin dalam kehidupan kita.

Tidak terkecuali dengan nasib, baik senang atau gembira maka sesungguhnya semua itu juga telah ditentukan oleh Allah sejak kita dalam kandungan. Adapaun semua hal yang menyangkut penentuan nasib sudah dijelaskan oleh Nabi Mustafa Muhammad SAW. Dalam sabdanya,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالُوا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ كِلَاهُمَا عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ ح و حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَاه عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بْنُ الْحَجَّاجِ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ إِنَّ خَلْقَ أَحَدِكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً و قَالَ فِي حَدِيثِ مُعَاذٍ عَنْ شُعْبَةَ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا وَأَمَّا فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ وَعِيسَى أَرْبَعِينَ يَوْمًا

 Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki'; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair Al Mahdani dan lafazh ini miliknya; Telah menceritakan kepada kami Bapakku dan Abu Mu'awiyah dan Waki' mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Zaid bin Wahb dari 'Abdullah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu -Ash Shadiq Al Mashduq-(seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar): 'Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.' Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh ada seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.' Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim keduanya dari Jarir bin 'Abdul Hamid; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim; Telah mengabarkan kepada kami 'Isa bin Yunus; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Abu Sa'id Al Asyaj; Telah menceritakan kepada kami Waki'; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakannya kepada kami 'Ubaidullah bin Mu'adz; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah bin Hajjaj seluruhnya dari Al A'masy melalui jalur ini, dia berkata di dalam Hadits Waki'; sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dimulai dari perut ibunya selama empat puluh malam. Dan di sebutkan di dalam Hadits Mu'adz dari Syu'bah empat puluh malam, kemudian empat puluh hari. Sedangkan di dalam Hadits Jarir, empat puluh hari. (Shahih Muslim No.4781)


Dalam Hadis lain :

حَدَّثَنِي أَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَرَفَعَ الْحَدِيثَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا فَيَقُولُ أَيْ رَبِّ نُطْفَةٌ أَيْ رَبِّ عَلَقَةٌ أَيْ رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقًا قَالَ قَالَ الْمَلَكُ أَيْ رَبِّ ذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى شَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ فَمَا الْأَجَلُ فَيُكْتَبُ كَذَلِكَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ 

Telah menceritakan kepadaku Abu Kamil Fudhail bin Husain Al Jahdari; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid; Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Abu Bakr dari Anas bin Malik -secara marfu'- dia berkata; Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengirim malaikat pada setiap rahim, dan malaikat itu berkata; Wahai Rabb nutfah (air mani) , Rabb 'alaqah (segumpal darah), Rabb mudhghah (segumpal daging). Jika Allah Azza wa Jalla hendak menentukan takdir pada mahluk-Nya, Malaikat itu berkata Wahai Rabb, laki-laki atau perempuan? celaka atau bahagia, bagaimana rizki dan bagaimana ajalnya? Maka ditulislah ketetapan itu dalam perut ibunya. (Shahih Muslim No.4785)
Dari kedua hadits diatas juga dijelaskan sangat merinci tentang penentuan nasib dan takdir seorang anak manusia. Apapun yang mereka lakukan dan mereka dapatkan di dunia adalah berdasarkan takdir mereka sendiri. Bahkan jika mereka merupakan ahli neraka, walau sudah melakukan kebajikan, namun karena takdir menentukan dia ahli neraka maka saat menjelang maut dia pasti melakukan ahli neraka. Begitu pula sebaliknya, jika dia adalah sebelumnya sering mengerjakan amal mungkar maka ketika hendak menjelang maut maka dia pasti mengerjakan amal baik dan taubat laantaran dia adalah ahli surga.

Banyak kejadia-kejadian seperti ini terjadi. Seperti contoh Syeih Barsisah yang masyhur dengan kealimannya. Sangking masyhur dan tinggi ilmunya, murid-muridnya bisa terbang menjelajahi awan. Maka tidak terbayangkan lagi bagaimana beliau. Akan tetapi suatu ketika belaiu terperdaya oleh iblis yang menyamar sebagai seorang yang Alim yang berzikir sepanjang waktu didalam masjid. Beliau kagum karena tiada makan dan minum orang tersebut (iblis yang menyamar) tetap berzikir kepada Allah SWT.. Lalu beliau mendatangi orang tersebut dengan bertanya bagaimana dia bisa seperti itu beribadah kepada Allah yaitu tanpa makan dan minum. Maka ditawarkanlah dengan tawaran menyesat seakan-akan itu adalah amal ma’ruf yang padahal itu adalah amalan kafir. Maka dikerjakanlah oleh Syeih pekerjaan tersebut. Panjang ceritanya sebenarnya, singkat saja ceritanya akhirnya beliau mati dalam keadaan kafir.

Begitu juga jika kehidupan seorang yang kafir yang ditakdirkan menjadi penghuni surga maka akan melaksanakan amal perbuatan baik atau bertobat pada akhir hayatnya seperti seorang yang kafir sebelumnya maka masuk islam ketika menjelang ajal. Adapun orang yang baru masuk islam laksana bayi yang baru lahir meskipun amal jahat pernah dilakukan. Karena amal itu akan dihapus dan dia adalah sebagai seorang yang bersih dari dosa sehingga buku amalannya yang baru akan dimulai ketika dia baru masuk islam. Amalan baik atu buruk akan dicatat pada buku amalan baru. Dan apabila dia mati pada saat baru masuk islam maka dia pasti akan masuk surga karena ini adalah janji Allah SWT. Kaum muslimin yang berbahagia,

Nah, sudah jelas bahwa tidak ada satupun amalan yang kita kerjakan didunia kecuali semua telah tercatat sejak dalam kandungan. Mungkin ada yang bertanya, jadi untuk apa kita beramal, jika memang semua yang kita lakukan adalah sudah tertulis sejak kita dalam kandungan. bagaimana jika kita berserah diri saja kepada Allah SWT.. Nah, untuk menjawab  pertanyaan ini, marilah kita simak kisah dari hadits nabi berikut ini,

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)

Bisa kita lihat dalam kehidupan ini, yaitu orang-orang yang melakukan amalan baik maka itulah amalan ahli surga dan itulah ciri-ciri para ahli surga. Begitu pula orang yang suka mengerjakan keburukan, itu adalah cerminan perbuatan ahli  neraka. Para ahli surga senantiasa mengerjakan amalan yang disuruh oleh Allah dan menjauhi larangan-Nya. Baik itu amalan sunnat dan amalan wajib. Misalnya shalat, puasa, haji, zakat, sedekah, berbaik sangka, bersykur dan menjauhkan dari amalan seperti mencuri, berzina, mengupat, melawan orang tua dan lain sebagainya. Adapun ahli neraka senantiasa melakukan amalan-amalan ahli neraka yaitu berbuat kemaksiatan-kemaksiatan, amalan jahat, mencuri, berzina, judi dan meninggalkan amalan-amalan shalih yang dianjurkan oleh Allah SWT.

Maka jika kita ingin menjadi salah satu ahli surga kerjakanlah amalan ahli surga dan juga apabila ingin mendapatkan kehidupan akhirat berupa neraka maka kerjakanlah amalan jahat dan mungkar. Karena kehidupan dunia akan menjadi cerminan bagaimana kehidupan akhirat anda nanti. Kemudian dari pada itu, ahli neraka juga akan nampak, mereka seakan tuli dengan ajaran agama. Mereka senantiasa menegerjakan amalan jahat meskipun diperintahkan untuk mengerjakan amalan shalih.

Ingatkah kita kepada kisah Nabi Adam AS. Mana kala Allah telah menciptakan bumi beserta lautan yang luasnya membentang dan gunung-gunung yang menjulang tinggi sebagai pengokoh dibumi. Bintang dan bulan yang beriringan, bintang yang menghiasi malam  Dan juga Allah menciptakan para malaikat serta makhluk yang dinamakan iblis. Dan tibalah saatnya Allah menciptakan makhluk lain yang akan mengisi bumi dan memeliharanya serta mengelola kekayaannya dengan hidup secara turun temurun hingga saat yang ditentukan. maka ketika Allah SWT. memberitakan ini kepada malaikat, mereka khawatir jika Allah menciptakan makhluk lain itu akan menjadi perusak bumi dan akan menumpah darah anatar sesama. Berkata mereka kepada Allah SWT.  : "Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami, padahal kami selalu bertasbih,  bertahmid,  melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya, sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, nescaya akan bertengkar satu dengan lain, akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."

Allah berfirman,  menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu: "Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepadanya, bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, karena Allah SWT.   melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya. "

Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah SWT.  dari segumpal tanah liat, kering dan lumpur hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.

Namun ketika mereka disuruh untuk bersujud kepada adam maka sujudlah mereka kecuali sesosok makhluk yang namanya iblis. Iblis tidak mahu bersujud kepada Adam lantaran dia diciptakan dari api sedangkan adam hanya dari tanah. Iblis menganggap mereka lebih mulia dari adam. Dan iblis sama sekali tidak mahu taubat kepada Allah SWT. Maka diusirlah iblis oleh Allah dari surga.

Baca juga Nabi Adam sebagi asal mula  dan nenek moyang umat manusia

Dari gerak-gerik penghuni surga atau neraka sudah nampak, yang mana para malaikat sujud kepada nabi adam dan iblis malah membangkang. Maka itulah maksud yang dikatakan dalam hadits diatas tadi bahwa jika seorang memang penghuni surga maka dia pasti akan melakukan perbuatan yang mengarah kepada surga tersebut dan begitu sebaliknya. Lihatlah kemungkaran dan kesombongan yang dilakukan iblis yang mana perbuatan ini merupakan perbuatan ahli neraka.

Kemudian karena telah diusir oleh Allah, iblis meminta izin kepada Allah untuk menggoda anak cucu Adam untuk mengikut kejalan mereka. Maka Allah mengabulkan permintaan iblis. Untuk pertama kalinya iblis menggoda adam dan istrinya memakan buah khuldi yang dilarang oleh Allah. Karena mereka menganggap bahwa adam adalah penyebab mereka terusir. Dengan berbagai rayuan dan  bujukan Nabi Adam juga belum terhasut oleh iblis namun ketika iblis marayu istrinya maka termakanlah oleh Hawa juga disusul oleh Nabi Adam. Sesuai dengan janji Allah akan mengusir mereka juga jika memakan buah khuldi maka Adam juga ikut terusir dari surga. Namun walaupun terusir Nabi Adam telah bertaubat dan Allah menerima taubatnya Nabi Adam AS.

Adapun hikmah dari kisah Nabi Adam, Allah SWT. memang sudah menciptakan bumi untuk manusia dan atau anak cucu adam. Dimana ketika Allah berbincang dengan para malaikat, para malaikat merasa khawatir akan kemunculan makhluk lain itu yang kemudian dikenal sebagai Nabi Adam. Kemudian Allah menjelaskan tentang perkara-perklara tersebut. Dan juga proses termakannya buah khuldi oleh Nabi Adam dan Siti Hawa adalah sebab mengapa mereka keluar dari surga. Karena sesungguhnya ketetapan Allah untuk menurunkan nabi adam kebumi memang sudah ada sejak sebelum nabi adam muncul. Dan inilah yang dinamakan takdir.

Pernah terjadi peredebatan antara Nabi Musa AS dan Nabi Adam AS. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW. dalam hadits yang diriwayaatkan oleh Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: Wahai Adam, kamu adalah nenek moyang kami, kamu telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: Kamu Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku? Nabi saw. bersabda: Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa, akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa. (Shahih Muslim No.4793)

Maka setiap makhluk yang telah ditentukan oleh Allah SWT. tentang takdirnya sungguh tidak dapat dihindari, apabila ketetapanya sebagi seorang yang beramal shalih maka dia akan senantiasa beramal shalih, apabila  ketetapanya sebagai hamba yang  berilmu maka amalannya senantiasa menuntut ilmu dan Allah memudahkannya menuntu ilmu. Begitu juga apabila dia seorang pencuri maka dia akan senantiasa mencuri. Apabila dian seorang pejudi maka amalanya itu tidak lepas dari perbuatan judi. Apabila ketetapannya sebagai orang seorang pezina maka kelakuannya adalah selalu bergelimang dengan zina.seperti sabda nabi SAW. berikut ini,

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya Allah telah menentukan kadar nasib setiap manusia untuk berzina yang pasti akan dikerjakan olehnya dan tidak dapat dihindari. Zina kedua mata ialah memandang, zina lisan (lidah) ialah mengucapkan, sedangkan jiwa berharap dan berkeinginan dan kemaluanlah (alat kelamin) yang akan membenarkan atau mendustakan hal itu. (Shahih Muslim No.4801)
Maka lihatlah mereka yang sering berbuat keburukan, mereka senantiasa melakukan keburukan itu meskipun berbagai tuntunan agama telah diajarkan kepadanya. Karena mereka telah ditetapkan sebagai penghuni neraka. Dan apabila dia memang ahli surga, dengan sekali dua kali dan tiga kali tuntunan agama yang diberikan, maka dia akan mendengarnya dan meninggalkan amalan jahat serta mengerjakan amalan shalih kerana sesungguhnya dia telah memiliki ketetapan sebagai ahli surga.

Artikel terkait: Nama-nama surga dan calon penghuninya berdasarkan amal perbuatan di dunia
Apakah kita harus tetap demikian? Tetap dalam amalan jahat? Berusahala menjadi lebih baik, mungkin takdir kita bukan yang demikian. karena hasutan dan rayuan setan itu sangat menyesatkan jiwa dan raga kita. Semoga kita menjadi lebih baik. aamiin ya rabbal 'alamiin

Demikian saja cerahan singkat ini, semoga mendapat ridha dari Allah SWT. dan selalu mendapat petunjuk-Nya. Aamiin aamiin yaaa rabbal ‘aalamiin.

Wednesday, 2 September 2015

Macam-macam Dosa Besar dan Azab Bagi Pelakunya

Hidup di dunia aka terombang-ambing dengan berbagiai macam hal. Baik itu masalah atau pun dosa. Dosa merupakan kesalahan-kesalahan yang timbul baik akibat perbuatan mauhupun perkataan yang akan berbuah kepada penyiksaan dihari penghakiman. 

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak berdosa, maka oleh sebab itu kita dianjurkan untuk memohon ampun kepada Allah sebagai mana yang telah kami cerahkan pada postingan lalu tentang ampunan dosa atau taubat. Dan adapun dosa itu ada terbagi dua, yaitu dosa besar dan dosa kecil. Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang dosa besar yang mana inilah yang paling berbahaya dalam kehidupan kita. Namun, walaupun demikian, dosa kecil tidak kalah bahaya dengan dosa besar bila dilakukan secara terus menerus. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. Berikut ini,

Baca Ampunan Allah SWT. sungguh sangat luas

Tidak menjadi dosa besar sebuah dosa bila disertai dengan istighfar dan bukan dosa kecil lagi suatu perbuatan bila dilakukan terus menerus. (HR. Ath-Thabrani)

Seperti kata pepatah, “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Maka sama juga dengan halnya dengan ini, apabila dosa yang kecil sering dilakukan atau diperbuat maka dosanya akan menjadi banyak bahkan menggunung. Nah, jika kita adalah orang yang terlanjur berbuat dosa, maka tidak salahnya jika kita memohon ampun kepada Allah SWT. agar dan supaya menghindari menumpuknya dosa yang seringkita lakukan. Selain itu, rajin-rajinlah melakukan ibadah kepada Allah SWT. karena dalam  hal beribadah dapat melunturkan dosa-dosa. Seperti sabda Rasulullah berikut ini, tentang suatu kejadian yang pernah terjadi pada zaman rasulullah SAW.

Dari ibnu mas'ud ra,  ia berkata ; ada seorang laki-laki mencium seorang wanita kemudia ia menghadap nabi SAW. dan menceritakan kepada beliau tentang apa yang telah ia kerjakan, kemudian turunlah firman Allah ta'ala; AQIMISH SHALATA THARAFAYIN NAHAARI WA ZULAFAN MINALLAILI INNAL HASANAATI YUDZIBNAS SAYYIATI (Dan dirikan lah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan malam, sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk,)  orang itu bertanya ; Wahai rasulullah apakah ini hanya untuk saya ? Beliau menjawab ; untuk semua umatku ((Hr. Bukhari dan muslim).

Ada banyak sekali dosa besar, diantaranya akan dijelaskan dalam hadits-hadits berikut ini:
Hadis riwayat Abdullah ra., ia berkata:
Aku bertanya kepada Rasulullah saw: Dosa apakah yang paling besar menurut Allah? Rasulullah SAW. bersabda: Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu. Aku berkata: Sungguh, dosa demikian memang besar. Kemudian apa lagi? Beliau menjawab: Engkau membunuh anakmu karena takut miskin. Aku tanya lagi: Kemudian apa? Rasulullah saw. menjawab: Engkau berzina dengan istri tetanggamu. (Shahih Muslim No.124)

Hadis riwayat Abdurrahman bin Abu Bakrah ra., ia berkata:
Kami sedang berada di dekat Rasulullah saw. ketika beliau bersabda: Tidak inginkah kalian kuberitahu tentang dosa-dosa besar yang paling besar? (beliau mengulangi pertanyaan itu tiga kali) yaitu; menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua dan persaksian palsu. Semula Rasulullah SAW. bersandar, lalu duduk. Beliau terus mengulangi sabdanya itu, sehingga kami membatin: Mudah-mudahan beliau diam. (Shahih Muslim No.126) 

Hadis riwayat Anas ra.:
Dari Nabi SAW. tentang dosa-dosa besar, beliau bersabda: Menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh manusia dan persaksian palsu. (Shahih Muslim No.127) 

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jauhilah tujuh hal yang merusak. Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, apa tujuh hal itu? Rasulullah saw. bersabda: Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, makan harta anak yatim, makan riba, lari dari medan pertempuran dan menuduh berzina wanita-wanita yang terjaga (dari berzina) yang lalai dan beriman. (Shahih Muslim No.129) 

taubat bagi pelaku dosa besar|tujuan taubat, pelaku dosa besar, azab bagi pelaku dosa besar, siksaan karena melakukan dosa besar

Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Di antara dosa-dosa besar, yaitu memaki kedua orang tua. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang dapat memaki kedua orang tuanya? Rasulullah SAW. menjawab: Dia memaki bapak orang lain, lalu orang lain itu memaki bapaknya. Dia memaki ibu orang lain, lalu orang lain itu memaki ibunya. (Shahih Muslim No.130) 

Maka dapat kita simpulkan beberapa orang yang termasuk kedalam golongan yang melakuakan dosa besar.
  1. Orang musyrik dan menyekutukan Allah;
  2. Mendurhakai kedua orang tua;
  3.  Orang yang membunuh anak karena takut miskin atau semacamnya atau membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar;
  4. Berzina dengan istri atau perempuan yang tidak halal baginya;
  5. Bersaksi atas kesaksian palsu;
  6. Pemakan harta anak yatim;
  7. Pemakan riba;
  8. Lari dari medan perang;
  9. Menuduh wanita baik melakukan zina;
  10. Dan lain-lain sebagainya.

Ad. 1. Orang musyrik dan menyekutukan Allah SWT.

Orang-orang musyrik adalah orang yang keluar dari agama islam dan beralih kepada agama lain atau bahkan tidak beragama lagi sama sekali. Orang-orang ini adalah termasuk juga orang yang suka menyembah berhala. Termasuk juga dalam hal ini orang-orang yang percaya kepada dukun, karena sesungguhnya dia telah beriman kepada dukun dengan  percaya kepadanya tanpa memohon pertolongan keapada Allah swt. seperti sabda rasulullah SAW. berikut ini,

Sesungguhnya pengobatan dengan mantra-mantra, kalung-gelang penangkal sihir dan guna-guna adalah syirik. (HR. Ibnu Majah)

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda :

Barangsiapa membatalkan maksud keperluannya karena ramalan mujur-sial maka dia telah bersyirik kepada Allah. Para sahabat bertanya, "Apakah penebusannya, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ucapkanlah: "Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, dan tiada kesialan kecuali yang Engkau timpakan dan tidak ada ilah (tuhan / yang disembah) kecuali Engkau." (HR. Ahmad)

Juga dalam hadits lain Nabi SAW. bersabda :
Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan percaya kepada ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad Saw. (Abu Dawud)

Selain itu, Allah tidak akan menerima shalat selama empat puluh hari bagi saipapun siapapun yang mendatangi dukun dengan maksud meminta tolong, atau dengan meminta kemanjuran dagangan dan lain sebagainya. Nabi Saw. Menjelaskan dalam haditsnya,

Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan bertanya kepadanya tentang sesuatu (lalu mempercayainya) maka shalatnya selama empat puluh malam tidak akan diterima. (HR. Muslim)

mungkin sahabat yang beriman bertanya, mengapa juga terkadang apa yang dijelaskan oleh dukun itu benar? Nah, kami rasa hadits berikut ini akan menjelaskan pada sahabat semunya,

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya beberapa dukun pernah menceritakan sesuatu kepada kami dan kami mendapati apa yang mereka ceritakan itu benar. Rasulullah saw. bersabda: Itu adalah kalimat benar yang disambar oleh jin lalu dengan cepat dilemparkan ke telinga walinya tetapi di dalamnya sudah dia tambahi dengan seratus kedustaan. (Shahih Muslim No.4134)

Nah, Jelas sekarang bahwa itu semua adalah Ulah jin-jin peliharaan sang dukun yang menyampaikanya. Yaitu dengan cepat dan tangkasnya dia menyammpaikan kepada walinya tersebut. Sehingga apa yang dia ucapkan akan kita percaya dan mendatanginya berulang kali. Bahkan sang dukun meminta kepada pasiennya untuk dibawakan berbagi macam persajian seperti ayam, jeruk purut dan lainnya. Entah untuk apakah itu, wallahu’a’lam (Sesungguhnya Allah yang lebih mengetahuinya.)

Ad. 2. Mendurhakai kedua orang tua

Orang tua adalah sosok yang sangat mulia di sisi Allah SWT.. Sebagai orang yang melahirkan dan yang mendidik dengan penuh kasih sayang hingga besar tanpa suatu keluh dan kesan. Dan ketahuilah bahwa apapun  yang akan kita lakukan hendaklah mendapat restu dari orang tua seperti sabda Nabi saw berikut ini,

Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

Namun, termasuk dosa besar apabila kita mendurhakai orang tua, termasuk mencaci maki, membuat orang tua sedih, membuat orang tua menangis, maka inilah yang termasuk dosa besar seperti sabda Nabi berikut ini,

Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki ibu-bapaknya. Mereka bertanya, "Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya sendiri?" Nabi Saw menjawab, "Dia mencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia mencaci-maki ibu orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-maki ibunya. (Mutafaq'alaih)

Jangankan untuk mencaci maki, bahkan untuk mengatakan uh saja tidak boleh, apalagi perkataan yang dapat membuat sedih orang tua bahkan memebuatnya kecewa, seperti firman Allah swt. berikut ini,
وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّۢ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًۭا كَرِيمًۭا

Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (QS. Al Israa’ ayat 23)

Rasulullah saw, pernah ditanyakan tentang peranan orang tua, Beliau lalu menjawab, "Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu." (HR. Ibnu Majah)

Artinya bukan berati orang tualah yang akan menjerumus kita ke dalam neraka. Akan tetapi maknanya adalah, apabila sahabat berbakti kepada orang tua maka Allah akan memberikan balasan kepada sahabat berupa surga dan begitu juga juga apabila sahabat mendurhaki keduanya, maka nerakalah yang akan mengobrak-abrik tubuh sahabat di neraka nanti. Selain itu Nabi saw. Juga pernah bersabda dalam hadits berikut ini,

Dari Abuddarda' r.a. bahwasanya ada seorang lelaki datang kepadanya: "Sesungguhnya saya mempunyai seorang istri dan sesungguhnya ibuku menyuruh kepadaku supaya aku menceraikannya." Kemudian Abuddarda' berkata: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Orangtua adalah pintu yang paling tengah diantara pintu-pintu syurga." Maka jikalau engkau suka, buanglah pintu itu (tidak perlu mengikuti perintahnya atau tidak berbakti padanya), tetapi ini adalah dosa besar, atau jagalah pintu tadi (dengan mengikuti perintah dan berbakti dan ini besar pahalanya)." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits shahih.

Orang tua mungkin punya alasan yang kuat dalam hal tersebut, seperti kisah diatas tadi. Bisa saja istri dia melakukan hal yang menentang dengan ajaran agama atau syariat. Akan tetapi, apabila orang tua menganjurkan kita kejalan yang salah alias kepada hal yang dapat menentang dari pundi-pundi agama, maka kita tidak wajib mengikutinya. Contohnya mengajak kepada kejahatan atau kemusyrikan. Namun hal ini adalah sangat jarang terjadi karan yang dinamakan orang tua adalah orang yang mendidik kita kejalan yang benar dan memebrikan contoh yang baik.

Baca juga Berbakti kepada orang tua (ibu dan ayah) adalah kewajiban seorang anak

Ad. 3. Orang yang membunuh anak karena takut miskin atau semacamnya atau membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar

Membunuh adalah sesuatu yang sangat  dilarang oleh Allah swt. apalagi yang kita bunuh adalah jiwa-jiwa yang haram dalam agama islam. Betapa tidak, setiap muslim dan mukmin adalah orang yang bersaudara dan tidak sah iman  seseorang  jika tidak mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Karena mukmin yang satu dengan mukmin yang lain adalah satu dan dia akan merasakan kesakitan juga apabila mukmin yang lain tersakiti. 

Beberapa hadits sudah kita jelaskan diatas, yaitu tentang orang-oarang yang membunuh jiwa yang haram dan ini adalah termasuk kedalam dosa besar. Orang-orang ini adalah orang yang berada dalam agama Islam. Termasuk juga apabila seseorang yang membunuh anak lantaran takut miskin dalam hidupnya. Padahal Allah-lah yang memeberikan rezki dalam hidupnya. Contohnya saja, orang yang memiliki banyak anak tetapi masih banyak rezki diberikan Allah swt. dan sebagian lain orang yang bahkan tidak memiliki anak tetapi hidupnya serba kekurangan. Maka jauhilah prinsip-prinsip salah seperti ini.

Mengenai membunuh, Rasulullah SAW. banyak mencerahkan dalam haditsnya. Sabda rasulullah saw. berikut ini,

Dari Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah Utusan Allah, kecuali salah satu dari tiga orang: janda yang berzina, pembunuh orang dan orang yang meninggalkan agamanya berpisah dari jama'ah." (Muttafaq Alaihi.)

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak halal membunuh seorang muslim kecuali salah satu dari tiga hal: Orang yang telah kawin yang berzina, ia dirajam; orang yang membunuh orang Islam dengan sengaja, ia dibunuh; dan orang yang keluar dari agama Islam lalu memerangi Allah dan Rasul-Nya, ia dibunuh atau disalib atau dibuang jauh dari negerinya." Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Hakim.

Maka sesungguhnya apabila seseorang yang membunuh maka kematian juga akan menjadi balasannya (yaitu membunuh dengan sengaja). Apalagi sekarang ini banyak terjadi pembunuhan yang tidak kita ketahui alasan kongkretnya. Seorang ayah membunuh anak, seorang anak membunuh ayahnya, anak membunuh bibi, cucu membunuh nenek atau kakenya, ada yang membunuh pacar dan ada juga yang membunuh para pemimpinnya. Sungguh sangat banyak kejadian-kejadian aneh lainnya. Kelak Allah akan membalas sesuai apa yang telah dia perbuat itu, seperti sabda Nabi berikut ini, 

Dari Samurah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa membunuh hambanya kami akan membunuhnya dan barangsiapa memotong hidung hambanya kami akan memotong hidungnya." Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits hasan menurut Tirmidzi. Ia berasal dari riwayat Hasan Bashri dari Samurah, namun masih dipertentangkan Hasan Bashri mendengarnya dari Samurah. Dalam riwayat Abu Dawud dan Nasa'i ada tambahan: "Dan barangsiapa mengebiri hambanya kami akan mengebirinya." Hakim menilai shahih dalam tambahan hadits ini.

Kemudian, apabila seseorang yang membunuh tidak sengaja, maka dendanya adalah denda alasan kekeliruan. Karena dalam hal ini, dia tidak bermaksud membunuhnya seperti sabda rasulullah berikut ini,

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa terbunuh dengan tidak diketahui pembunuhnya, atau terkena lemparan batu, atau kena cambuk, atau kena tongkat, maka dendanya ialah denda bunuh karena kekeliruan. Barangsiapa dibunuh dengan sengaja, maka dendanya hukum mati. Barangsiapa menghindar dari berlakunya hukuman itu, maka laknat Allah padanya." Riwayat Abu Dawud, Nasa'i dan Ibnu Majah dengan sanad kuat.

Denda membunuh bisa berupa menanggung semua pengurusan jenazahnya atau hingga tahlilan yang dilaksanakan tiap malam. Itu tergantung bagaimana yang diminta oleh ahli baitnya si mait. 

Namun demikian, bukan berarti bahwa kepada selain agama untuk membunuh. Kita dianjurkan untuk hidup bertoleransi. Biarlah dia beribadah dengan kepercayaannya dan kita beribadah dengan kepercayaan kita. Dalam islam tidak dianjurkan untuk mencari musuh karena motto islam ‘musuh pantang dicari, kalau ada lawan haram lari’. 

Ad. 4. Berzina  atau berzina dengan istri atau perempuan yang tidak halal baginya

Seiring dengan berjalan waktu, semakin maraknya zina dikalangan ummat manusia. Tidak kecuali remaja maupun ABG, bahkan yang sudah menikah pun juga ikut mencampurkan hidupnya dengan perbuatan zina, baik itu dengan istri/suami tetangga atau bahkan dengan mengandalkan rumah-rumah prostitusi/ perzinaan. Dan zina adalah termasuk dosa besar. Seperti hadits-hadits diatas yang menjelaskan hal tersebut. Allah SWT sangat melarang zina sabagaimana firman Allah berikut ini,

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةًۭ وَسَآءَ سَبِيلًۭا 

Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Israa Ayat 32)

Dan apabila pezina adalah orang yang telah pernah menikah, maka orang itu adalah orang yang halal darahnya dalam artian bahwa hukumannya adalah hukuman mati. Seperti sabda nabi berikut ini,

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal ditumpahkan darah seorang muslim kecuali karena salah satu di antara tiga alasan: orang yang telah kawin melakukan zina, orang yang membunuh jiwa (orang muslim) dan orang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jamaah.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Adapun cara merajamnya adalah dengan mengubur tubuh keduanya hingga leher yaitu pada persimpangan jalan, kemudian orang-orang yang lewat wajib melemparnya dengan batu sekuat tenaga dan rajam itu berlaku hingga orang yang bersangkutan meregang nyawanya. Ini adalah hukum Allah SWT., mungkin kebayakan kita tidak melihatnya sekarang ini lantaran kebanayakan negara tidak menggunakan hukum Allah sebagai sumber hukum. Karena dalam hal ini, Seorang muslim yang telah dihukumi halal darahnya eksekusinya ada di tangan penguasa (imam) atau yang mewakilinya, jika di negaranya berlaku hukum Allah. Apabila berada di Negara yang tidak menerapkan hukum Allah maka tak seorang pun berhak mengeksekusi penumpahan darah. Untuk eksekusi yang tidak sampai penumpahan darah, seperti cambuk, qishash non-bunuh, maka boleh dilakukan oleh seorang ‘alim jika atas kemauan pelaku. Demikian pendapat sebagian ulama.

Orang-orang pezina adalah orang yang diharamkan oleh Allah swt. untuk masuk ke surga, bagaimana tidak, surga adalah tempat yang suci dan bukan tempat bagi pendosa. Hadits berikut cukup jelas menjelaskan tentang haramnya pezina masuk surga,

Ada tiga jenis orang yang diharamkan Allah masuk surga, yaitu pemabuk berat, pendurhaka terhadap kedua orang tua, dan orang yang merelakan kejahatan berlaku dalam keluarganya (artinya, merelakan isteri atau anak perempuannya berbuat serong atau zina). (HR. An-Nasaa'i dan Ahmad)

Namun apabila seorang pezina yang ingin bertaubat dan mengakui kesalahannya, seseungguhnya Allah adalah Maha Penerima Taubat bagi setiap ummat manusia, pernah terjadi suatu kejadian pada zaman Rasulullah tentang gadis pezina yang bertaubat, untuk lebih jelasnya, marilah kita simak hadits berikut ini,

Dari Imran Ibnu Hushain Radliyallaahu 'anhu bahwa ada seorang perempuan dari Juhainah menemui Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (dia sedang hamil karena zina) dan berkata: Wahai Nabi Allah, aku harus dihukum, lakukanlah hukuman itu padaku. Lalu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memanggil walinya dan bersabda: "Berbuat baiklah padanya, apabila ia melahirkan, bawalah bayi itu kepadaku." Kemudian beliau menyalatkannya. Berkatalah Umar: Apakah baginda menyalatkannya wahai Nabi Allah, padahal ia telah berzina? Beliau menjawab: "Ia benar-benar telah bertaubat yang sekiranya taubatnya dibagi antara tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya cukup buat mereka. Apakah engkau mendapatkan seseorang yang lebih utama daripada ia menyerahkan dirinya karena Allah?".(Riwayat Muslim).

Maka sesungguhnya dosa-dosa itu luntur dengan bertaubat kepada Allah swt.

Ad. 5. Bersaksi atas kesaksian palsu

Bersaksi adalah suatu ungkapan yang menerengkan benar atau salah tentang sesuatu berdasarkan bukti yang dia miliki. Namun, apabila dilakukan dengan hal yang salah seperti melakukan kesaksian palsu maka ini adlah hal yang sangat dilarang oleh Allah SWT., dan sebagaimana hadits yang kita jelaskan tadi bahwa perbuatan ini adalah termasuk kedalam dosa besar.

Ad. 6. Pemakan harta anak yatim

Anak yatim adalah orang-orang yang wajib kita kasihi karena mereka membutuhkan kasih sayang. Dan Allah akan memberikan pahalanya kepada kita. Namun, apabila kita memakan harta mereka tunggulah azab dan murka-Nya. Mereka yang memakan harta anak yatim juga termasuk kedalam golongan orang yang melakukan doa besar. Dan sungguh Allah sangat melarangnya.

Allah Ta'ala  berfirman: "Dan janganlah engkau mendekat kepada harta-harta anak yatim, melainkan dengan cara penggunaan yang lebih baik -seperti menjaga dan memperkembangkannya-." (al-An'am: 152)

Dan pemakan harta anak yatim itu adalah makanan neraka sa’ir, sebagaimana firman Allah swt.,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًۭا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًۭا

"Sesungguhnya orang-orang yang makan harta-harta anak yatim dengan cara penganiayaan, maka hanyasanya yang mereka makan dalam perut mereka itu adalah api neraka dan mereka akan masuk dalam neraka Sa'ir." (an-Nisa': 10)

Masih banyak lagi hadits tentang larangan memakan harta anak yatim yang mana ini merupakan termasuk kedalam dosa besar. Sahabat bisa membaca postingan kami yang berisi tentang Pedihnya azab bagi pemakan harta anak yatim.

Artikel terkait Azab dan siksa bagi pemakan harta anak yatim

Ad. 7. Pemakan riba

Pemilik dosa besar selanjutnya adalah para golongan pemakan riba. Riba adalah penambahan pada harta dalam akad tukar-menukar atau jual-beli tanpa adanya imbalan atau pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Dan riba itu telah merajalela kedalam kehidupan kita. Seperti mengurangi takaran, menjual barang-barang yang tidak diketahui keadaan baiknya, menipu dalam penjualan, memalsukan barang, menukar barang yang tidak setara, termasuk juga uang yang dibungakan dan sebagainya. Sebagaimana sabda Nabi berikut ini,

Akan datang satu masa dimana tiada seorangpun yang tidak makan uang riba. Kalau tidak ribanya maka ia akan terkena asapnya (atau debunya). (HR. Abu Dawud).

Maka masa itulah masa yang sedang kita jalani ini. Seberapa banyak penjual-penjual yang menjual dagangan yang tidak layak konsumsi, makanan yang dicampurkan dengan bahan berbahaya Beras plastik, makanan mengandung formalin dan lainnya. Selain itu, pertukaran barang-barang yang tidak memiliki kadar yang sama juga termasuk kedalam riba, dalam sebuah hadits, 

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama kadarnya dan janganlah melebihkan sebagiannya dengan mengurangi sebagian yang lain. Janganlah menjual perak dengan perak kecuali sama kadarnya dan janganlah melebihkan sebagiannya dengan mengurangi sebagian yang lain. Dan janganlah menjual sesuatu yang berjangka dengan yang kontan. (Shahih Muslim No.2964)

Hadis riwayat Umar bin Khathab ra.:Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Penukaran perak dengan emas itu riba kecuali dengan serah-terima secara langsung. Dan penukaran gandum dengan gandum itu riba kecuali dengan serah-terima secara langsung. Dan penukaran kurma dengan kurma itu riba kecuali dengan serah-terima secara langsung. (Shahih Muslim No.2968)

Dijelaskan pula dalam 2 (dua) hadits diatas yaitu tentang larangan melakukan transaksi yang tidak langsung artian langsung disini adalah sipenerima dan si pemberi bertatapan mata dan mengetahui baik buruknya suatu yang ditukarkan tersebut. Kemudian daripada itu, apabila seorang yang menukarkan sudah saling ikhlas, dalam artian bahwa sipenerima dan pemberi sudah mengiklhaskan kekurangan dan kelebihan barang tersebut, maka itu sah-sah saja, dengan kata lain tidak termasuk kedala riba. Karena hal ini sering kita lakukan dengan sesama saudara atau kerabat dekat.

Ad. 8. Lari dari medan perang

Bukan suatu yang mustahi apabila ada orang yang lari dari medan perang, banyak terjadi pada zaman Rasulullah dan ini merupakan dosa yang besar seperti yang kita bacakan dalam hadits diatas tadi. Suatu alasan yang masuk akal adalah karena mereka takut mati, padahal Allah SWT. mejamin surga bagi orang-orang yang mati syahid atau mati dimedan peperangan. selain itu Rasulullah SAW. sudah menjelaskan dalam haditsnya bahwa jihad memiliki nilai yang luar biasa, 

Puncak persoalan adalah Islam. Barangsiapa pasrah diri (masuk Islam) maka dia selamat. Tiangnya Islam adalah shalat dan atapnya adalah jihad (perjuangan). Yang dapat mencapainya hanya orang yang paling utama di antara mereka. (HR. Ath-Thabrani).

Dalam hadits lain Nabi SAW. Bersabda :
Kedua kaki hambaKu yang dilibat debu dalam perang fisabilillah tidak akan tersentuh api neraka. (HR. Bukhari)

Wahai segenap manusia, janganlah kamu mengharap-harap bertemu dengan musuh. Mohonlah kepada Allah akan keselamatan. Bila bertemu dengan mereka maka bersabarlah (yakni sabar menderita, gigih, ulet dan tabah dalam melawan mereka). Ketahuilah, surga terletak di bawah bayang-bayang pedang. (HR. Bukhari)

Manusia yang paling dekat derajatnya kepada derajat kenabian ialah para mujahidin dan ilmuwan (cendekiawan) karena kaum mujahidin melaksanakan ajaran para rasul dan ilmuwan membimbing manusia untuk melaksanakan ajaran nabi-nabi. (HR. Ad-Dailami)

Dan apapun amalan yang kita lakukan akan sia-sia jika kita termasuk kedalam golongan orang yang lari dari peperangan, 

Ada tiga hal yang menyebabkan tidak bergunanya seluruh amalan, yaitu: syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua, dan lari menghindari pertempuran (dalam perang fisabilillah) (HR. Ath-Thabrani)

Ad. 9. Menuduh wanita baik berzina

Wanita baik adalah wanita yang senantiasa menjaga auratnya dan menjaga dirinya dari perbuatan dosa. Sedangkan dia dituduh melakukan zina. Maka orang yang menuduh wanita suci adalah orang yang tergolong kedalam dosa besar. Salah satu hadits yang menjelaskan dosa besar bagi penuduh wanita baik-baik berzina adalah berikut ini,

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jauhilah tujuh hal yang merusak. Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, apa tujuh hal itu? Rasulullah saw. bersabda: Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, makan harta anak yatim, makan riba, lari dari medan pertempuran dan menuduh berzina wanita-wanita yang terjaga (dari berzina) yang lalai dan beriman. (Shahih Muslim No.129) 

Ad. 10. Lain-lainnya

Sungguh sangat banyak dosa-dosa besar yang tidak dapat kami sebutkan. Mungkin sahabat bisa mencarinya lebih banyak lagi atau bahkan sahabat lebih tahu dari pada kami. Kita doakan adalah semoga kita jauh dari perbuatan-perbuatan dosa dan selalu dalam lindungan Allah SWT. aamiin aamiin ya rabbal ‘alamiin

Monday, 24 August 2015

Berbakti kepada Orang Tua (Ayah dan Ibu) adalah Kewajiban Seorang Anak

Ibu dan  ayah adalah sosok-sosok yang sangat penting dalam kehidupan ini. mereka adalah tempat kita berkasih dan sayang dalam keluarga. Sangat banyak orang dalam dunia ini yang tidak mempunyai ayah dan ibu lagi yaitu anak yatim, mereka sangat membutuhkannya dan terkadang mereka iri terhadap apa yang mereka lihat pada orang lain. Begitu pula dengan orang yang mememiliki ayah dan ibunya namun mendurhakainya. Dan mereka yang mendurhaiakanya (kedua ibu dan bapak) adalah mereka yang tidak bersyukur.

Artikel terkait: Anak yatim dan menyantuninya dengan baik

Memiliki ayah dan ibu adalah sebuah anugrah karena kebanyakan orang yang kehilangan mereka akan kehilangan pula semangat hidupnnya. Namun apa hendak dikata, Allah swt. sudah menentukan usia setiap hamba-Nya. Maka oleh sebab itu, selama mereka masih menghela nafas, menjejaki kehidupan ini bersama dengan kita, jangan segan-segan dan menyisihakan waktu untuk berbakti kepada keduanya. Karena saat mereka sudah tiada lagi didunia ini, maka semuanya akan terasa terlambat.


Pernah suatu kejadian dalam kisah nabi Muhammad saw. Ketika  hendak melaksanakan peperangan dengan kaum musyrikin. Seperti dijelaskan dalam hadis berikut ini,

Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash Radhiallahu 'anhuma, katanya: "Ada seorang lelaki menghadap Nabi SAW. lalu berkata: "Saya berbai'at kepada Tuan untuk ikut berhijrah serta berjihad yang saya tujukan untuk mencari pahala dari Allah Ta'ala." Beliau bertanya: "Apakah salah seorang dari kedua orangtuamu itu masih ada yang hidup?" Orang itu menjawab: "Ya, bahkan keduanya masih hidup." Beliau bersabda: "Apakah maksudmu hendak mencari pahala dari Allah Ta'ala?" Ia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Kalau begitu kembali sajalah ke tempat kedua orangtuamu, lalu berbuat baiklah dalam mengawani keduanya itu." (Muttafaq 'alaih)

Rasulullah Saw. menyuruh anak ini pulang lantaran orangtua dari anak ini masih hidup dan masih dibutuhkan oleh orang tuanya. Bisa saja dalam menafkahkan orang tua atau dalam hal yang lain apabila dibutuhkan oleh keduannya. Apalagi jika orang tua telah beranjak umur senja, apakah kita akan tega meninggalkanya? 

Bukanlah hal yang sepele dalam merawat dan berbakti kepada orang tua. Bayangkan orang tua yang merawat kita sepanjang usia, menyapihnya waktu dalam waktu yang lama bahkan ada yang merawat seorang anak sampai dia pulang ke Rahmatullah. Seperti dalam firman Allah berikut ini,

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍۢ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. (surat Luqman : 14)
Berbakti kepada Orang Tua (Ayah dan Ibu) adalah Kewajiban Seorang Anak

Bukan hanya sekedar rasa lemah yang dirasakan seorang ibu,  bahkan ibulah yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk kita. Ibulah orang yang pertama sekali yang berani mempertaruhkan hidupnya untuk kita. Bahkan ketika dia belum melihat wajah kita. Ibu adalah orang yang pertama sekali mencintai kita sejak kita berada dalam kandungan. Maka, jika sahabat pernah bertekad untuk memepertruhkan hidup sahabat kepada wanita selain ibu, baik itu pacar atau sebagainya, fikirkan lagi. Ingatlah siapa yang pertama kali memepertaruhkan hidupnya untuk kita. Maka jelaslah mengapa ibu itu diutamakan dalam kehidupan kita khususnya dalam agama yang kita cintai ini, seperti sabda rasulullah saw berikut ini,

Dari Abu Hurairah r.a. lagi, katanya: "Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w. lalu berkata: "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya persahabati dengan sebaik-baiknya (yakni siapakah yang lebih utama untuk dihubungi secara sebaik-baiknya?)" Beliau menjawab: "Ibumu." Ia bertanya lagi: "Lalu siapakah?" Beliau menjawab: "Ibumu." Orang itu sekali lagi bertanya: "Kemudian siapakah?" Beliau menjawab lagi: "Ibumu." Orang tadi bertanya pula: "Kemudian siapa lagi." Beliau menjawab: "Ayahmu." (Muttafaq 'alaih)

Nabi SAW. Menyebut nama ibu tiga kali dibandingkan ayah. Namun demikian, kita juga wajib berbakti kepada ayah yang mana beliau yang mencari nafkah untuk kita. Susah dan senang beliau lalui untuk memberikan nafkah kita dan keluarga. Tidak peduli dengan matahari yang panasnya mengobrak-abrik dan mencakar kulitnya, tidak peduli malam yang dengan penuh pesona merayu untuk memejamkan mata tapi beliau  tetap berikhtiar dan bermunajat kepada Allah untuk mencari rezki yang akan diperesembahkan untuk keluarga.

Allal SWT. banyak menganjurkan kita untuk senantiasa berbakti kepada kedua ibu dan bapak dan bahkan meralang menyakiti hati mereka, friman Allah SWT dalam surat Al Isaraa ayat 23,

وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّۢ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًۭا كَرِيمًۭا

Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Isra ayat 23)

mengatakan 'ah' saja Allah sangat melarangnya apalagi membentak-bentak keduanya yang bahkan dapat membuat hatinya luluh dan hancur. Lain lagi ceritanya dengan membuat zalim  kepada kedua mereka, bisa jadi anak durhaka nantinya dan akan mendapatkan azab Allah SWT.. Jangankan seorang ibu adalah seorang yang muslim, bahkan jika ibu adalah seoarang yang musyrik Rasulullah SAW. Juga menganjurakan untuk berbakti kepadanya

Hadis riwayat   Asma ra., ia berkata:
Aku bertanya kepada Rasulullah saw.: Wahai Rasulullah, ibuku (seorang musyrik) datang kepadaku mengharap bakti dariku. Apakah aku harus berbakti kepadanya? Rasulullah saw. bersabda: Ya (Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 1670)

Karena sesungguhnya apapun yang kita lakukan dan kita perbuat harus mendapat restu orang tua. Seperti sabda Rasulullah SAW. beikur ini,

Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

Akan tetapi, apabila orang tua mengajak kepada kemungkaran atau menyuruh kepada kejelekan. Seperti contoh mencuri atau menduakan Allah SWT. (Musyrik) maka dalam hal demikian kita tidak harus menurutinya. Karena Allah SWT. telah mengatakan dalam firman-Nya

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al- Luqman ayat :14)

Kaum muslimin yang berbahagia,

Banyak keistimewaan dalam berbakti kepada kedua orang tua, seperti yang dikisahkan dalam hadits berikut ini tentang Uwais bin ‘Amir. Dia adalah seorang yang berbakti kepada orang tuanya sehingga Allah mengabulkan setiap daonya. Utuk lebih jelasnya marilah kita simak kisah berikut ini,

Dari Usair bin Amr, ada yang mengatakan bahwa ia adalah bin Jabir - dengan Dhammahnya Hamzah dan Fathahnya Sin Muhmalah, katanya: "Umar bin Alkhaththab ketika didatangi oleh sepasukan pembantu (dalam peperangan) dari golongan penduduk Yaman, lalu ia bertanya kepada mereka: "Adakah di antaramu semua seorang yang bernama Uwais bin 'Amir?" Akhirnya sampailah Uwais itu ada di mukanya, lalu Umar bertanya: "Adakah anda bernama Uwais." Uwais menjawab: "Ya." Ia bertanya lagi: "Benarkah dari keturunan kabilah Murad dari lingkungan suku Qaran?" Ia menjawab: "Ya." Ia bertanya pula: "Adakah anda mempunyai penyakit supak, kemudian anda sembuh daripadanya, kecuali hanya di suatu tempat sebesar uang dirham?" Ia menjawab: "Ya." Ia bertanya lagi: "Adakah anda mempunyai seorang ibu?" Ia menjawab: "Ya." Umar lalu berkata: "Saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Akan datang padamu semua seorang bernama Uwais bin 'Amir beserta sepasukan mujahidin dari ahli Yaman, ia dari keturunan Murad dari Qaran. Ia mempunyai penyakit supak lalu sembuh dari Penyakitnya itu kecuali di suatu tempat sebesar uang dirham. Ia juga mempunyai seorang ibu yang ia amat berbakti padanya. Andai kata orang itu bersumpah akan sesuatu atas nama Allah, pasti Allah akan melaksanakan sumpahnya itu (dengan sebab amat berbaktinya terhadap ibunya itu). Maka jikalau engkau kuasa meminta padanya agar ia memintakan pengampunan (kepada Allah)  untukmu, maka lakukanlah itu!" Oleh sebab itu, mohonkanlah pengampunan kepada Allah  (untukku). Uwais lalu memohonkan pengampunan untuk Umar. Selanjutnya Umar bertanya lagi: "Ke manakah anda hendak pergi?" Ia menjawab: "Ke Kufah." Umar berkata: "Sukakah anda, sekiranya saya menulis (sepucuk surat) kepada gebernur Kufah - agar anda dapat sambutan dan pertolongan yang diperlukan." Ia menjawab: "Saya lebih senang menjadi golongan manusia yang fakir-miskin."

Setelah tiba tahun mukanya, ada seorang dari golongan bangsawan Kufah berhaji, lalu kebetulan ia menemui Umar, kemudian Umar menanyakan padanya perihal Uwais. Orang itu menjawab: Sewaktu saya tinggalkan, ia dalam keadaan buruk rumahnya lagi sedikit barangnya (maksudnya sangat menderita.)" Umar lalu berkata: "Saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Akan datang padamu semua seorang bernama Uwais bin 'Amir beserta sepasukan mujahidin dari ahli Yaman, ia dari keturunan Murad dari Qaran. Ia mempunyai penyakit supak lalu sembuh dari penyakitnya itu kecuali di suatu tempat sebesar wang dirham. Ia juga mempunyai seorang ibu yang ia amat berbakti padanya. Andaikata orang itu bersumpah akan sesuatu atas nama Allah, pasti Allah akan melaksanakan sumpahnya itu. Maka jikalau engkau kuasa meminta padanya agar ia memintakan pengampunan (kepada Allah untukmu), maka lakukan itu!" Orang bangsawan itu lalu mendatangi Uwais dan berkata: "Mohonkanlah pengampunan (kepada Allah) untukku. Uwais berkata: "Anda masih baru saja waktunya melakukan perjalanan yang baik (yakni ibadat haji), maka sepatutnya memohonkanlah pengampunan untukku." Uwais lalu melanjutkan katanya: "Adakah anda bertemu dengan Umar?" Ia menjawab: "Ya". Uwais lalu memohonkan pengampunan untuknya. Orang-orang banyak lalu mengerti siapa sebenarnya Uwais itu, mereka mendatanginya, kemudian Uwais berangkat - keluar dari Kufah menurut kehendaknya sendiri." (Riwayat Muslim)

Olah sebab itu, maka marilah kita senantiasa berbakti kepada ibu dan bapak atau orang tua. Karena merekalah yang sebetulnya yang memiliki kasih dan sayang yang sangat luar biasa untuk kita. Jika mereka sudah tiada, senantiasa kirimlah doa dan pahala untuk mereka dengan cara bersedekah dan sebaginya. Semoga kita selalu termasuk golongan orang yang berbakti. Aamiin aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Sunday, 31 May 2015

Perbandingan Antara Kehidupan Dunia dan Akhirat

Dunia dan akhirat sungguh adalah suatuhal yang sangat jauh berbeda. Kehidupan dunia adalah kehidupan sementara sebagai ladang untuk mengumpulkan bekal berupa amal kebajikan untuk menujukepada akhirat. Sedangkan akhirat adalah tempat di mana kita akan menjalani hidup setelah mati dan tidak ada kematian lagi setelah itu. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya dan kehidupan dunia hanyalah sandiwara belaka.

Tidak ada yang teristimewa dunia bila dibandingkan dengan akhirat. Yang mana dunia adalah tempat yang sementara dan akhirat tempat yang kekal. Berbagai kenikmatan dunia tidak sebanding dengan kenikamatan akhirat, karena kenikmatan akhirat sungguh luar biasa. Begitu juga dengan siksaan-siksaan dikahirat nanti, sungguh tidak ada bandingan dengan kesengsaraaan di dunia ini.

Pernah Rasulullah menceritakan suatu kejadian dihari kiamat, Dari Anas r.a. pula, katanya: "Rasulullah SAW. bersabda: "Akan didatangkanlah orang yang terenak kehidupannya di dunia dan ia termasuk golongan ahli neraka pada hari kiamat nanti, lalu diceburkan dalam neraka sekali ceburan (sesaat saja), lalu dikatakan: "Hai anak Adam (yakni manusia), adakah engkau dapat merasakan sesuatu kebaikan (keenakan dimasa sebelumnya) sekalipun sedikit? Adakah suatu kenikmatan yang pernah menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia berkata: "Tidak, demi Allah, ya Tuhanku" (yakni setelah merasakan pedihnya siksa neraka walau sesaat, maka kenikmatan-kenikmatan dan keenakan-keenakan di dunia itu seolah-olah lenyap sama sekali). Juga akan didatangkanlah orang yang paling menderita kesengsaraan di dunia dan ia termasuk ahli syurga, lalu ia dimasukkan sekali masuk dalam syurga (sesaat saja), lalu dikatakan padanya: "Hai anak Adam, adakah engkau dapat merasakan sesuatu kesengsaraan, sekalipun sedikit? Adakah suatu kesukaran yang pernah menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah, tidak pernah ada kesukaranpun yang menghampiri diriku dan tidak pernah saya melihat suatu kesengsaraan pun sama sekali," (yakni) setelah merasakan kenikmatan syurga, maka kesengsaraan dan kesukaran yang pernah diderita di dunia itu seolah-olah lenyap sekaligus. (Riwayat Muslim).
Nah, sebenarnya apa sih yang membanggakan dari dunia sedangkan Allah menawarkan hal yang luar biasa diakhirat. Apakah mungkin karena rendanya pengetahuan tentang agama? Tidak, banyak orang yang menetahui agama tapi juga tidak mneghiraukannya. Alasan utamanya adalah mereka disibukkan oleh mengejar kepada kekayaan-kekayaan dunia yang diiringin oleh hasutan-hasutan pengkhianat Allah yaitu iblis. Mereka dilalaikan oleh kekayaan tersebut sehingga terus berlomba untuk mencapai nafsu duniawi. Seperti firman Allah berikut ini,
أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ -  حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ- كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُو - نَثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ - كَلَّا لَوْ 
تَعْلَمُونَ عِلْمَ ٱلْيَقِينِ - لَتَرَوُنَّ ٱلْجَحِيمَ - ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ ٱلْيَقِينِ - ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (Surah At-takatsur : 1-8).

Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan. Jika ketaatan sudah mulai pudar, dikhawatirkan agama akan goyah. Oleh sebab itu, rasulullah pernah bersabda dalam haditsnya,

Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. duduk di atas mimbar dan kita duduk di sekitarnya, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya salah satu yang saya takutkan atasmu semua sepeninggalku nanti ialah apa yang akan dibukakan untukmu semua itu dari keindahan harta dunia serta hiasan-hiasannya (yakni) bahwa meluapnya kekayaan pada umat Muhammad inilah yang amat ditakutkan, sebab dapat merusakkan agama jikalau tidak waspada mengendalikannya." (Muttafaq'alaih)

Para pembaca yang budiman,
Sungguh kehidupan ini jikalau tidak dikendalikan sesuai dengan akhidah dan tuntunan agama, maka sasaran dari skenario kehidupan kita akan sia-sia. Kita dituntut untuk memerankan hal terbaik dan berlomba-lomba dalam beramal namun malah kebalikan, kenyataan manusia sekarang sudah terperdaya oleh meluapnya harta, seakan-akan mereka bisa memeproleh segalanya dengan harta yang mereka miliki. Padahal tidak sesuatu apapun yang kita bawa dari dunia kecuali amal ibadah yang shalih sebagai hasil dari tiap akting dan peran kita didunia dan dari setiap hal yang pernah dititpkan. Tidak ada satu pun yang kita bawa ke alam berdhah (alam kubur) kecuali amalan shalih. Seperti yang dijelaskan rasulullah SAW.,

"Ada tiga macam mengikuti mayat itu (ketika di bawa ke kubur), yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan satu tetap tinggal menyertainya. Keluarga dan hartanya kembali sedang amalnya tetap mengikutinya." (Muttafaq 'alaih)

Dan dunia ini bukanlah apa-apa bila dibanding kena dengan kehipan akhirat. Apa yang terdapat di dunia adalah bagian yang paling kecil yang ada di akhirat kelak, baik itu kenikmatan mahupun siksaan. Jika suatu kenikmatan yang kita rasakan teramat nikmat maka kenikmatan itu akan berlipat ganda diakhirat kelak. Seperti sabda berikut ini,

Dunia dan akhirat sungguh adalah suatuhal yang sangat jauh berbeda. Kehidupan dunia adalah kehidupan sementara sebagai ladang untuk mengumpulkan bekal berupa amal kebajikan untuk menujukepada akhirat. Sedangkan akhirat adalah tempat di mana kita akan menjalani hidup setelah mati dan tidak ada kematian lagi setelah itu. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya dan kehidupan dunia hanyalah sandiwara belaka.
Dari al-Mustaurid bin Syaddad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidaklah (berarti) dunia ini kalau dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti sesuatu yang seorang diantara engkau semua menjadikan jarinya masuk dalam air lautan, maka cobalah lihat dengan apa ia kembali (yakni) seberapa banyak air yang melekat di jarinya itu, jadi dunia itu sangat kecil nilainya dan hanya seperti air yang melekat di jari tadi banyaknya-." (Riwayat Muslim)

Seberapa luaskan lautan itu, dan seberapa besarkah ujung jari kita? Tidak ada banding, sungguh tidak ada banding. Bahkan dengan telapak tangan juga tidak tertandingi apalagi dengan lautan. 

Dan juga sesungguhnya Dunia ini bahkan lebih hina dari sebuah bangkai. Siapapun didunia ini tidak akan tergerak hatinya untuk membeli bangkai walau hanya satun sen. Itu adalah sebab dari kehinaan dari bangkai tersebut. Bagaimana dengan dunia, mengapa orang terlalu berlomba-lomba kepada dunia? Itu adalah sebab rendahnya keimanan sehingga dengan mudah terperdaya oleh kenikmatan-kenikmatan yang menyesatkan. 

Dari Jabir r.a. pernah menceritakan bahwasanya suatu ketika Rasulullah s.a.w. berjalan melalui pasar, sedang orang-orang ada di sebelahnya kiri kanan. Kemudian melalui seekor anak kambing kecil telinganya dan telah mati. Beliau s.a.w. menyentuhnya lalu mengambil telinganya, terus bertanya: "Siapakah diantara engkau semua yang suka membeli ini dengan uang sedirham?" Orang-orang menjawab: "Kita semua tidak suka menukarnya dengan sesuatu apapun dan akan kita gunakan untuk apa itu?" Beliau bertanya lagi: "Sukakah engkau semua kalau ini diberikan (gratis) saja padamu." Orang-orang menjawab: "Demi Allah, andaikata kambing itu hidup, tentunya juga cacat karena ia kecil telinganya. Jadi apa harganya lagi setelah kambing itu mati?" Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada kambing ini bagimu semua." (Riwayat Muslim) 

Baca juga:  Kehidupan dunia bagai musafir atau perantau

Kehinaan dunia sesungguhnya tidak tampak oleh kaca mata kita kaum awam. Kita tidak pernah menyadari bahwa dunia ini lebih hina dari bangkai. Seakan dunia menawarakan sejuta pesona keabadian, yang sebenarnya itu adalah rongrongan setan dan iblis untuk menyesatka umat manusia.

Maka oleh sebab itu, jadilah hamba yang memiliki peran yang baik didunia ini dan mendapat predikat terbaik di sisi Allah SWT. karena sesunggnya setiap amalan akan dipertanyakan oleh Allah SWT. tidak akan ada satupun yang tertinggal karena semunya telah dicatat oleh malaikat-malaikat Allah. Pertanyaan pertanyaan itu akan ditanyakan kepada siapapun, baik laki-laki mauhupun perempuan, baik yang kaya mahupun yang miskin. Karena siapapun anak Adam akan dipertanyakan pada hari kiamat nanti. Pertanyaan apakah itu? Rasulullah bersabda,

Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan. (HR. Ahmad)

Semua itu menyangkut dengan dunia, dunia, dan dunia, semuanya tentang kehidupan dunia. Kehidupan dunia hanya akan memberatkan apabila amalan shalih kita kurang dan senantiasa selalu terperdaya oleh harta. Maka oleh sebab itu, mulailah suatu yang baik dari sekarang. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Dan semoga Allah selalu memberikan petunjuk nya kepada kita. Aamiin aamiin yarabbal ‘alamiin.

Artikel terkait : Amal perbuatan manusia sebagi bekal menuju akhirat

Wednesday, 6 May 2015

Alasan Ilmiah Mengapa Rasulullah SAW Melarang Meniup Makanan dan Minuman

Makan dan minum merupakan hal yang tidak asing lagi bagi kita dan merupakan yang kita butuhkan sehari-hari. Baik itu berupa makanan ringan atau berupa nasi yang merupakan kebutuhan pokok setiap hari. Begitu juga dengan minuman, baik berupa yang panas atupun dingin. Seperti kopi atau teh dan sebagianya.

Jika dalam keadaaan cuaca panas, kebanyakan orang mencari makanan atau minuman dingin untuk menyegarkan kembali stamina dan menyeimbangkan suhu tubuh. Begitu juga kala dingin, kebanyakan dari kita mencari santapan-santapan yang panas agar manghangantkan tubuh. Atau juga ada sebagian yang menyantap makanan panas ketika cuaca panas. Maka untuk mendinginkan makanan tersebut mereka menghembusnya dengan mulut. Harus kita ketahui bahwa Rasulullah SAW. Sangat melarang menghembus atau meniup makanan dengan mulut atau bernafas didalam wadah sebagaimana dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh abu dawud berikut ini,

Rasulullah Saw melarang orang meniup-niup makanan atau minuman. (HR. Abu Dawud)

Maka hendaknya makanan atau minuman tersebut didiamkan saja atau didinginkan dengan metode lainnya selain dengan meniup langsung dengan mulut, misalnya dengan fan (kipas angin).

Dalam suatu kisah pada zaman Rasulullah SAW. Ada seorang lelaki berkata: "Ada kotoran mata yang saya lihat di dalam wadah itu." Beliau s.a.w. bersabda: "Alirkanlah (sehingga kotoran itu hilang)." Orang itu berkata lagi: "Sesungguhnya saya ini belum merasa puas minum dari sekali nafas." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Kalau begitu singkirkanlah dulu wadahnya itu dari mulutmu (dan bernafaslah di luar wadah)."

Maksud singkirkan adalah bernafas didalam wadah yang kita minum. Jika diatas dijelaskan masalah meniup makanan atau minuman maka sama halnya dengan bernafas didalam wadah. Karena yang kita keluarka sewaktu bernafas dan menghembus adalah CO2 atau Karbon Dioksida.

Alasan Ilmiah Mengapa Rasulullah SAW Melarang Meniup Makanan, bahaya meniup makanan, menguak rahasia hadits rasulullah SAW
Jadi Rasulullah SAW. telah menjelaskan dalam haditsnya untuk tidak menghirup atau mengelurkan nafas di dalam wadah, baik itu dari hidung maupun dari mulut ke dalam gelas yang kita gunakan untuk minum atau kedalam makanan yang sedang kita makan. Rasulullah SAW. adalah utusan Allah SWT. yang beliau sampaikan tentu memiliki manfaat untuk umat-umatnya. Telah di buktikan sekarang, setelah diteliti dari segi ilmu pengetahuan modern dan juga telah kita ketahui bersama, ternyata napas kita mengeluarkan CO2 (gas karbon dioksida), sedangkan kita bernapas memerlukan O2 (gas oksigen), sewaktu kita bernafas dalam wadah yanag mana mulut, hidung dan muka kita menutupi tersebut, kita akan menghirup kembali gas CO2. Apalagi secara reaksi kimia, bila CO2 digabung dengan air (H2O), maka akan membentuk senyawa kimia H2CO3, sehingga lebih berbahaya lagi baik untuk diminum, maupun dihirup. Seringkali ada orang yang meniup air minum dalam keadaan panas, padahal itu berbahaya buat kesehatan, karena H2O tersebut dalam keadaan menguap, tentu saja langsung bereaksi, dan senyawa bentukannya ini bersifat korosif (karena asam karbonat membuat besi dan logam menjadi berkarat). ada baiknya air minum atau makan itu ditunggu dingin saja, atau dikipas-kipas, jangan ditiup oleh mulut kita. Subhanallah, kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa harus membuktikannya.

Sungguh sangat banyak hikmah yang diajarkan Rasulullah kepada kita semua yang mengandung berjuta manfaat. Semoga Allah SWT. selalu menuntun kita kepada jalan-Nya. Aamiin aamiin yaa rabbal 'aalamiin.

Monday, 4 May 2015

Asal Mula Azan dan Iqamah

Azan adalah suatau lantunan yang tidak asing muslim. Apalagi 5 waktu dari 24 jam sehari setiap pelosok desa dan surau-surau mengumandangkan alunan suci tersebut. Alunan yang dikumandangkan hampir dua kali- dua kali semua lafadnya itu merupakan lantunan yang ditentukan untuk memanggil seluruh ummat islam untuk melaksanakn shalat atau memberitahu bahwa waktu shalat sudah tiba.

Perbedaan antara azan dan iqamah, Azan merupakan kalimat-kalimat yang tertentu untuk seruan waktu shalat sudah tiba. Sedangkan iqamah adalah kalimat-kalimat yang diserukan sebagai tanda bahwa shalat akan dimulai.

Asal Mula Azan dan Iqamah, Perbedaan anatara azan dan iqamah, Shalat-shlat sunnat tidak disunnnatkan untuk menyerukan adzan dan iqamah, kecuali shalat-shalat sunnat yang disunnatkan berjama’ah
Shalat-shlat sunnat tidak disunnnatkan untuk menyerukan adzan dan iqamah, kecuali shalat-shalat sunnat yang disunnatkan berjama’ah, seperti shalat tarawih, shalat ‘ied, shalat gerhana/ qusuf, shalat istisqa (shalat minta hujan), dan lain-lainya.

Seiring dengan perjalanan waktu, pergantian antara siang dengan malam, tahun dengan windu, Lantunan Azan masihlah sama sejak pertama sekali dikumandangkan oleh bilal. Mengapa bilal? Mari sahabat beriman simak hadits berikut,

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ هَمَّ بِالْبُوقِ وَأَمَرَ بِالنَّاقُوسِ فَنُحِتَ فَأُرِيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ فِي الْمَنَامِ قَالَ رَأَيْتُ رَجُلًا عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فَقُلْتُ لَهُ يَا عَبْدَ اللَّهِ تَبِيعُ النَّاقُوسَ قَالَ وَمَا تَصْنَعُ بِهِ قُلْتُ أُنَادِي بِهِ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ أَفَلَا أَدُلُّكَ عَلَى خَيْرٍ مِنْ ذَلِكَ قُلْتُ وَمَا هُوَ قَالَ تَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَخَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ بِمَا رَأَى قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ رَجُلًا عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فَقَصَّ عَلَيْهِ الْخَبَرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ صَاحِبَكُمْ قَدْ رَأَى رُؤْيَا فَاخْرُجْ مَعَ بِلَالٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأَلْقِهَا عَلَيْهِ وَلْيُنَادِ بِلَالٌ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ قَالَ فَخَرَجْتُ مَعَ بِلَالٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَعَلْتُ أُلْقِيهَا عَلَيْهِ وَهُوَ يُنَادِي بِهَا فَسَمِعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ بِالصَّوْتِ فَخَرَجَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ الَّذِي رَأَى 

Dari Abdullah bin Zaid, dia berkata, "Rasulullah SAW pernah menginginkan sebuah buq (tanduk untuk ditiup -ed) dan memerintahkan (untuk dibuatkan) naqus (sejenis kentungan -ed), lalu dibuatkan." Abdullah bin Zaid pernah bermimpi, ia berkata, "Aku melihat seorang laki-laki yang memakai dua pakaian hijau membawa naqus, lalu aku bertanya kepadanya, 'Wahai hamba Allah! Apakah engkau mau menjual naqus itu?' Ia menjawab, 'Apa yang ingin kamu perbuat dengan naqus ini?' Aku berkata, 'Untuk ku pakai menyeru kepada shalat'. Lelaki tersebut berkata, 'Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih baik dari itu?' Aku menjawab, 'Apakah itu?' Ia berkata, 'Ucapkan olehmu; Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Asyhadu an laa ilaha illallah, asyhadu an laa ilaha illallah. Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Hayya alash-shalah, hayya alash-shalah. Hayya alal falah, hayya alal falah. Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaha illallah (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah. Mari kita shalat, mari kita shalat. Mari kita raih kemenangan, mari kita raih kemenangan. Allahu Maha Besar, Allahu Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah)'." Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Zaid keluar mendatangi Rasulullah SAW untuk mengabarkan apa yang diimpikannya tersebut. Ia berkata, "Wahai Rasulullah! Aku bermimpi melihat seorang laki-laki memakai dua pakaian berwarna hijau dan membawa naqus." Kemudian Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya secara lengkap kepada Rasulullah, maka Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya teman kalian telah memimpikan sesuatu, pergilah bersama Bilal ke masjid dan sampaikanlah lafazh adzan tersebut kepadanya; dan biarkan Bilal mengumandangkan lafazh itu, karena Bilal bersuara lebih nyaring dari kalian." Abdullah bin Zaid melanjutkan, "Maka aku pun keluar bersama Bilal ke masjid, lalu saya sampaikan kepadanya dan dia pun mengumandangkan lafazh itu." Ia kembali berkata, "Maka ketika Umar bin Khaththab mendengar suara tersebut, ia lantas keluar dan berkata, 'Wahai Rasulullah! Demi Allah, aku telah memimpikan hal itu sabagaimana yang ia impikan'." Hasan: Al Irwa' (246), Al Misykah (650), Ats-Tsamr Al Mustathab.(shahih ibnu majah nomor: 713.

Dalam riwayah lain,

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلَاةَ لَيْسَ يُنَادَى لَهَا فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلَا تَبْعَثُونَ رَجُلًا يُنَادِي بِالصَّلَاةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بِلَالُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلَاةِ 
  Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku Nafi' bahwa Ibnu 'Umar berkata, "Ketika Kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk shalat dengan cara memperkirakan waktunya, dan tidak ada panggilan untuk pelaksanaan shalat. Suatu hari mereka memperbincangkan masalah tersebut, di antara mereka ada yang mengusulkan lonceng seperi loncengnya Kaum Nashrani dan sebagaian lain mengusulkan untuk meniup terampet sebagaimana Kaum Yahudi. Maka 'Umar pun berkata, "Mengapa tidak kalian suruh seseorang untuk mengumandangkan panggilan shalat?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "Wahai Bilal, bangkit dan serukanlah panggilan shalat." (shahih Bukhari Nomor: 569)

Dari kedua hadits diatas jelas bahwa orang yang pertama sekali mengumandangkan azan adalah seseorang sahabat Rasulullah yang bernama Bilal. Selain orang yang pertama mengumandangkan azan yang dijelasakan dalam hadits di atas, disana ada juga penjelasan mengapa azan adalah Panggilan untuk shalat bagi ummat muslim atau panggilan tanda masuk waktu untuk menegerjakan shalat bagi seluruh muslim di seluruh muka bumi. Pada hadits pertama dijelaskan bahwa pertama kalinya seruan itu dimimpikan oleh sahabat Rasulullah bernama Abdullah bin Zaid yang pada kemudian langsung menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah, dan umar Ibnu khattab juga menjelaskan bahwa ia juga pernah dimimpikan dengan hal yang serupa.

Dalam hadits kedua ,Yang mana  pada pertama kalinya para sahabat kebingungan dalam hal pemanggilan atau pemeberitahuan tanda masuknya waktu. Ada diantara sahabat yang mengusulkan pemanggilan peribadatan sebagai mana yang dilakukan oleh orang Nasrani yaitu menggunakan lonceng dan ada pula yang menganjurkan untuk memanggil ummat muslim seperti halnnya dilakukan oleh ummat Yahudi yaitu dengan meniup terompet. Hingga pada akhirnya Nabi saw. Memerintahkan bilal untuk mengumanadangkan azan.

Kemudian daripada itu, kita mungkin pernah melihat orang yang mulutnya komat kamit ketika dikumandangkannya seruan azan. Apakah mereka membaca mantra? Ataukah membaca doa? Atau pun sedang bernyanyi. Maka dalam hal ini akan kita jelaskan bahwa mereka sedang menjawab adzan. Apakah itu sebuah sunnah? Ya, Kita disunnah kan untuk menjawab apa yang dikumandangkan ataupun di ucapakan oleh mu’azin. Dari semenjak lantunan Adzan dimulai samapai dengan akhir adzan. Mari kita simak hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari 'Atha bin Yazid Al Laitsi dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu'adzin."( shahih Bukahri nomor: 576)

Sangat jelas sekali bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk menjawab setiap lantunan azan. Maka oleh sebab itu, ketika kita sedang bekerja maka berhentilah berkerja, ketika kita sedang melakukan seuatu kegiatan hentikan kegiatan itu, ketika kita menghidupkan televisi matikan atau kecilkan volume atau suara televisi bahkan jika berjalan kita disunnah kan untuk berhenti, jika kita berdiri maka duduklah kita dan jika kita duduk maka diamlah kita, demikian untuk menghormati dan mendengan seruan adzan.

Namun apakah kita harus mngucapkan apa yang diucapakan mu’adzin? Mungkin sahabat beriman juga pernah mengalami hal yang seperti ini, yang mana sahabat sudah tahu bahwa kita harus menjawab ucapan adzan sebagaimana mu’adzin tapi suatu ketika melihat seseorang yang mengucapkan sesuatu yang berbeda ketika ucapan HAYYA’ALASHALAH dan HAYYA’ALALFALAH. Mungkin sahabat beriman bingung dan penasaran apa yang diucapakan tersebut. Apakah mereka mengucapakan doa atau bagaimana, kan begitu? Nah untuk menjelaskan hal tersebut, marilah kita simak lagi suatu riwayat berdasarkan sabda nabi  SAW berikut ini:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى نَحْوَهُ قَالَ يَحْيَى وَحَدَّثَنِي بَعْضُ إِخْوَانِنَا أَنَّهُ قَالَ لَمَّا قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ وَقَالَ هَكَذَا سَمِعْنَا نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

  10.11/578. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Rahawaih berkata, telah menceritakan kepada kami Wahab bin Jarir berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya seperti itu, Yahya berkata, dan telah menceritakan kepadaku Sebagian saudara kami bahwa dia berkata, Jika mu'adzin mengucapkan, 'Hayya 'Alash shalah '(Marilah melaksanakan shalat) ', dia menjawab, Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah '(Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah) '. Dia berkata, Demikianlah kami mendengar Nabi kalian shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.

Taka dapat disangkal bahwa, apa yang mereka ucapakan ketika lantunan HAYYA’ALASHALAH dan HAYYA’ALALFALAH tersebut adalah Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah '(Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah). Nah mengapa kita mengucapakan kalimat ini sedangkan pada lantunan adzan lain kita hanya disunnahkan untuk menjawab apa yang diucapakan oleh mu’adzin. Mari kita lihat dulu apa sih terjemahan dari HAYYA’ALASHALAH dan HAYYA’ALALFALAH tersebut.

HAYYA’ALASHALAH = MARI KITA MENUNAIKAN SHALAT
HAYYA’ALALFALAH = MARI KITA MENUJU KEMEMENAGAN

Dari penjelasan atau arti kata diatas dapat kita simpulkan bahwa, ucapan  tersebut adalah ucapan yang bersifat merendahkan diri (tawadhu’) kepada Allah SWT. Yang mana maksudnya adalah kita hanya hamba yang lemah dan semua yang terjadi adalah karena Allah SWT..

ucapan ini juga menghindarkan kita dari sifat takabur (sombong). Mengapa demikian, karena seperti yang telah kita jelasakan tadi, ini adalah ucapan untuk merendahkan diri kita kepada Allah dan bentuk berserah diri kita kepada Allah SWT.  karena kita tahu bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa diatas segalanya.

Usikumbinafsih bitqwallah. Semoga Allah selalu membimbing kita, aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

 Artikel terkait : Keutamaan-keutamaan Azan, Iqamah, dan Muazin