Sunday, 19 April 2015

Azab dan Siksa Allah Bagi Pemakan Harta Anak Yatim

Salah satu golongan hamba Allah yang sangat dimuliakan Allah SWT. adalah anak yatim. Anak yatim adalah salah satu orang yang memiliki kedudukan terbaik disisi Allah dan sebagai orang yang dikasihi oleh Allah SWT.. maka oleh sebab itu sudah sepantasnya anak yatim bersyukur atas nikmat lain yang dikaruniakan Allah terhadapnya meskipun telah kehilangan orang yang meraka cintai. Karena itu semua adalah ujian Allah SWT.

Anak yatim banyak disebutkan dalam Al-qur’an bahkan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW.. termasuk disana menjelaskan tentang azab dan dosa bagi orang yang menganiaya anak yatim. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-qur’an surat Al-ma'un aya 1 dan 2 berikut ini.

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim (Q.S. Al-ma’un ayat 1 dan 2)

Maksudnya apakah sahabat mengetahui orang itu? Yaitu orang yang mendustakan agama atau juga bisa diartikan sebagai musuh agama Allah. Jika sahabat belum mengetahui, maka dia itulah (orang yang menghardik anak yatim) yakni menolaknya dengan keras dan tidak mau memberikan hak yang seharusnya ia terima. Selain itu, menghardik anak yatim juga termasuk mengatakan atau membentak anak yatim dengan perkataan kasar sehingga membuat anak yatim sedih dan bercucuran air mata. Bisa dibayangkan, hanya dengan membuat sedih saja kita termasuk orang yang mendustakan agama alias musuh agama, bagaimana jika menzalimi, membiarkan anak yatim kelaparan, sungguh tidak terbayangkan.

Baca 5 golongan pendusta agama beserta dalilnya

Kemudian, dirumah yang didalam nya memelihara anak yatim maka Allah akan memudahkan rezki yang tidak disangka-sangka kepada orang tersebut. Pernah terjadi pada tetangga kami yang mana beliau memelihara anak yatim. Memang pada mulanya mereka hidup serba kekurangan yang namun rezki mereka tetap lancar hingga berkat kesabaran mereka, dalam pertambangan emas yang mereka usahakan didaerah pegunungan terdekat, mereka mendapat hasil yang berlimpah ruah, subhanallah. Maka telah menjadi bukti dari hadits rasulullah berikut ini:

Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk. (HR. Ibnu Majah)

Azab dan Siksa Allah Bagi Pemakan Harta Anak Yatim, menganiaya anak yatim akan masuk neraka,
Sungguh kami beriman kepada Allah dan rasulnya tanpa harus membuktikannya. Maka adakah rumah diantara kita yang memelihara anak yatim dan apakah kita dapat melihat keajaiban dengan kaca mata keimanan kita. Sungguh Anak yatim mendatangkan rezki bagi yang memeliharanya. Dan juga, rumah orang yang terdapat anak yatim juga mendapat murka Allah swt. mengapa demikian, mengutip hadits di atas tadi  “seburuk-buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk” jelas itu semua dikarenakan mereka memperlakukan anak yatim dengan tidak sepantasnya. Dalam artian malah meraka menganiaya anak yatim. Ataupun meraka bukan memeliharanya malah memakan harta mereka. Dalam hal ini, orang yang memakan harta mereka sangat ditentang Allah dalam Surat An Nisa ayat 10 yang berbunyi sebagai berikut:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًۭا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًۭا
"Sesungguhnya orang-orang yang makan harta-harta anak yatim dengan cara penganiayaan, maka hanyasanya yang mereka makan dalam perut mereka itu adalah api neraka dan mereka akan masuk dalam neraka Sa'ir." (an-Nisa': 10)

Dan sabda rasulullah saw.
Dari Abu Syuraih, iaitu Khuwailid bin 'Amr al-Khuza'i r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda:"Sesungguhnya saya sangat memberatkan dosa (kesalahan) orang yang menyia-nyiakan haknya dua golongan yang lemah, iaitu anak yatim dan orang perempuan."
Ini adalah Hadis hasan yang diriwayatkan oleh an-Nasa'i dengan isnad yang baik.

maksudnya adalah memakan tanpa hak (bahwasanya mereka menelan api sepenuh perut mereka) karena harta itu akan berubah di akhirat nanti menjadi api (dan mereka akan masuk dalam api yang bernyala-nyala) yakni api neraka yang menyebabkan mereka terbakar hangus. Yaitu dalam neraka yang bernama sa’ir. pada hadits kedua juga dijelaskan bahwa dosa  yang berat adalah akan dipikil oleh orang-orang yang mengambil hak anak yatim. Baik itu berupa harta atau memeberi santunan kepada mereka.

Pernah dalam perjalanan isra dan miraj beliau, Allah memperlihatkan siksa bagi orang-orang yang hidup di dunia sesuai amal perbuatannya termasuk didalamnya orang-orang yang  memakan harta anak yatim. Keadaan mereka sangat mengerikan dengan kedua tangan mereka dibelenggu dan begitu juga dengan kaki-kaki mereka. Diatas punggung mereka diletakkan setrika yang panasnya luar biasa membara. Tentu saja dalam waktu sekejap atau sebentar saja kulit akan rontok dan melepuh. Seketika, kulit kembali udah sebagaimana sedia kala, dan diletakkan kembali setrika yang maha panas tadi diatas punggungnya, begitulah seterusnya terjadi hingga pengulangan kejadian ini berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama. Yaitu sesuai kejahatannya.

Kita mungkin pernah terbakar oleh panasnya setrika yang ada dirumah. Panas bukan, tidak terbayangkan seberapa panas setrika di neraka yang panas apinya jauh lebih panas dari api yang ada dibumi.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda: Api kalian yang dinyalakan anak-cucu Adam adalah sepertujuh puluh dari panas api Jahanam. Para sahabat berkata: Demi Allah, bila sepanas ini saja sudah cukup wahai Rasulullah saw. Beliau bersabda: Sesungguhnya panas api tersebut masih tersisa sebanyak enam puluh sembilan bagian, panas masing- masing sama dengan api ini
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 5077

Apakah masih mahu memakan harta anak yatim? Selain panasnya yang maha dahsyat, didalam neraka kita tidak akan pernah mati lagi. Lain hal nya dengan didunia, ditabrak mobil, tersandung, dan lain-lainnya bisa saja kita meninggal dunia. Lain halnya di akhirat/ neraka, kita tidak akan mati meskipun siksaan yang bertubi-tubi.

Kaum muslimin yang berbahagia,
Dalam hadits lain rasulullah juga pernah bersabda:
 Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., bersabda: "Jauhilah tujuh macam hal yang merusakkan." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah.apakah tujuh macam hal itu?" Beliau s.a.w bersabda:
"Yaitu menyekutukan sesuatu dengan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, melainkan dengan hak - yakni berdasarkan kebenaran menurut syariat Agama Islam - makan harta riba, makan harta anak yatim, mundur pada hari berkecamuknya peperangan serta mendakwa kaum wanita yang muhshan - pernah bersuami-lagi mu'min dan pula lalai -dengan dakwaan melakukan zina. (Muttafaq 'alaih)

kita hanya akan membahas tentang anak yatim saja dalam topik ini. Jadi perkara lain akan kita bahas selanjutnya.

Dalam hadits diatas juga sangat ditekankan untuk menjauhi harta anak yatim. Namun bukan berarti sahabat tidak mahu menyentuhnya lagi. Menjahui maksudnya adalah untuk tidak memakannya dan menghabiskannya sehingga anak yatim teraniaya. Karena jangankan untuk kita makan, bahkan kita dianjurkan untuk mengasihani anak yatim. Namun apabila sahabat yang beriman ingin menjaga dan Melindungi hartanya agar tetap aman, itu sah-sah saja.dan itulah hal yang baik.

Oleh sebab itu marilah kita menjaga anak yatim dan menyantuninya. Apabila kita memeiliki sedikit harta untuk diinfakkan apa salahnya untuk menginfakkan. Karena Allah Akan melipatkan gandakan dan memberi keberkatan kepada harta kita.

Baca Anak yatim dan menyantuninya dengan baik

Walaupun demikian, bersedekahlah dengan ikhlas alias niat karena Allah. Maka perkara apa saja yang merupakan perkara agama Allah, jika hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya, adapun jika diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah (siapapun juga ia) maka Allah tidak akan menerimanya, karena Allah tidak menerima amalan yang diserikatkan, Dia hanyalah meneriman amalan agama yang khalis (murni) untuk-Nya. Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut kepada pelakunya bahkan Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala (ganjaran) amalannya tersebut kepada yang dia syarikatkan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya:

Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan ksyirikannya”).

Semoga kita melakukan amalan kita dengan baik dan diterima disisi Allah SWT. dan semoga kita senantiasa bersyukur serta berbakti kepada orang tua selagi masih ada kesempatan dan  mereka masih bersama kita di dunia ini. aamiin aamiin ya rabbal 'aalamiin.


Friday, 17 April 2015

Usia Baliq (sampai Umur/ Dewasa) Laki-Laki dan Perempuan/ Wanita

Banyak terjadi perbedaan dalam hal baliq atau sampi umur. Jangankan dari golongan laki-laki dan perempuan, antara perempuan saja banyak terjadi perbedaan. Dalam hal ini, seorang anak perempuan sudah dikategorikan baliq apabila sudah mengalami haid atau datang bulan. Yang belum mengerti datang bulan dilain waktu akan kita bahas topik tentang datang bulan secara merinci pada wanita (sudah pasti pada wanita, mana mungkin laki-laki datang bulan).

Perkara datang bulan, mungkin setiap perempuan berbeda-beda, karena itu semua tergantung pada tingkat kesuburan si wanita tersebut. Ada yang datang bulan pada usia 10, 11, 12, 13 atau seterusnya. Nah, bagaimana jika bulannya tidak kunjung datang padahal umur sudah 15 tahun? Apakah wanita itu belum baligh? Oh tidak, (itu bisa saja penyakit, lebih baik segera konsultasi ke dokter.) Apabila seorang wanita sudah usianya lebih dari 15 tahun maka dia sudah dikategorikan baligh.

Selain sudah mencapai 15 tahun, apabila seorang wanita sudah menegerti hal-hal kecil (mungkin anda paham maksud kami), yang mana hal ini belum bisa difikirkan oleh anak kecil dan ini merupakan pokok-pokok orang dewasa, maka mereka bisa saja masuk usia baliq walaupun belum haid. Bisa saja orang atau wanita tersebut seperti yang kita katakan diatas tadi, penyakit yang ada padanya. Namun apabila setelah diperiksa ternyata tidak ada gangguan apaapun, coba tanyakan kejelasannya kepada mu’alim-mu’alim (orang yang mengetahui tentang agama) terdekat.

Kemudian dari pada itu, beralih kepada tanda baliq bagi laki-laki. Kebanyak laki-laki mengalami hal yang sama saat baliq, yaitu mengalami mimpi basah. Mimpi basah bukanlah mimpi basah yang dimaksudkan seperti anak kecil. Dalam artian, mimpi basah yang dialami  anak kecil adalah mereka kencing (ngompol) waktu tidur. Dan pada dasarnya mereka bukan lah mimpi basah melainkan mimpi kencing atau memang hakikatnya anak kecil (kebanyakan).

Usia Baliq (samapai Umur/ Dewasa) Laki-Laki dan Perempuan, haid, mandi junub, tanda dewasa
Sedikit akan kita jelaskan tentang mimpi basah. Mimpi basah adalah mimpi yang dialami oleh seseorang laki-laki baik yang akan beranjak dewasa (baliq) mahupun yang sudah dewasa (baliq) tentang berhubungan intim dengan pria dan wanita sehingga menyebabkan maninya keluar. Dikatakan dengan ungkapan ‘akan’ karena dia adalah calon dewasa selanjutnya, dan dalam hal ini dia juga sudah dihitung sebagi orang baliq. Dalam istilah lain, mimpi basah sering digunakan istilah mimpi naik pesawat. Tidak dimengerti mengapa menggunakan istilah ini, bisa saja untuk memperhalus kata-kata atau membuat perkataan lebih sopan.

Sama kasusnya dengan perempuan, yang mana apabila seorang laki-laki yang belum mengalami mimpi basah dan umurnya sudah mencapai 15 tahun maka mereka juga dikategorikan baliq. Biasanya perkembangan mental atau pertumbuhan mentalnya yang minim sehingga susah untuk mengalami hal demikian. Namun demikian hal yang seperti ini adalah jarang terjadi, bahkan  rata-rata dari kaum laki-laki yang pernah kami survei mengalami masa baliqnya dibawah umur 15 tahun atau sekitar 15 tahun.

Tambahan yang sangat perlu untuk ditegaskan bahwa, bagi setiap orang wanita yang mengalami haid atau laki-laki yang mengalami mimpi basah, WAJIB hukumnya untuk mandi. Bagi wanita mandinya adalah ketika haidnya sudah selesai (masa haid wanita bisa saja berbeda-beda, akan kita jelaskan dalam pembahasan lain) sedangkan laki-laki adalah waktu pagi sebelum mengerjakan shalat subuh (karena kebanyakan mimpi basah terjadi pada malam, terkadang juga terjadi pada siang hari). Mandi wajib/ mandi junub bukanlah seperti mandi biasa kita sehari hari yang memada walaupun hanya memakai sabun colek sekalipun. Akan tetapi, mandi wajib/ mandi junub harus dilengkapi dengan niatnya yang sesuai dengan tuntunan syara’. Sahabat beriman bisa menemukan doa-doa untuk mandi wajib dalam kita KIFAYATULGHULAM atau dalam kitab/buku agama lainnya. 

Meskipun sudah menggunakan sabun yang harganya milyaran rupiah, jika sahabat tidak berniat untuk mandi sesuai tuntunan syara’, maka mandi sahabat tidak sah. Akan tetapi, sebaliknya meskipun sahabat beriman tidak menggunakan sabun untuk mandi wajib/ mandi junub, namun jika sahabat berniat dengan benar maka sumua akan baik-baik saja. Tidak sampai disini saja wahai sahabat, perlu juga diperhatikan mengenai tata cara mandi wajib dengan benar. Yaitu dengan membasuh setiap anggota tubuh yang terbuka dan membasuh kedalam rangga-rongga tubuh yang terbuka, seperti telinga, hidung dan lain sebagainya. Maka siramlah air ke seluruh tubuh secara merata tanpa tertinggal satu anggota yang tidak basah dari air. Insya Allah mandi sahabat sudah benar. Jika sahabat masih merasa bingung tentang tatacara mandi wajib, sahabat bisa tanyakan kepada mu’alim-mu’alim terdekat atau dalam majelis ta’lim dalam masyarakat.

Point selanjutnya yang juga perlu diketahui bahwa, apabila seorang anak laki-laki yang bermimpi bersetubuh atau bermimpi melakukan hubungan intim namun tidak mengeluarkan mani, maka baginya itu tidak wajib mandi.

Artikel terkait: Mengapa wajib berwudhu untuk shalat setelah mandi wajib

Demikian saja pencerahan tentang waktu baligh (sampai umur) laki-laki dan perempuan, semoga diberi berkah oleh Allah SWT. dan mendapat ampunan setiap dosa. aamiin aamiin ya rabbal ‘alamin.

Thursday, 16 April 2015

Anak Yatim Dan Menyantuninya Dengan Baik

Anak yatim, Kita yakini bahwa tidak ada orang didunia ini yang tidak kenal dengan yang namanya anak yatim. Yaitu anak-anak yang telah kehilangan ayahnya baik masih dalam kandungan hingga dia dewasa (sampai umur). Apakah semua orang yang kehilangan ayah adalah anak yatim? Tidak, mereka hanya yang dibawah umur dan merekalah yang wajib  kita santuni. Jika sekira yang sudah baligh pun ikut kita santuni maka sungguh sangat banyak anak yatim didunia ini, bahkan kebanyakan orang sudah menjadi yatim dalam usianya yang sudah beranak-cucu. Dalam hal ini, hanya anak yatim yang dimaksud adalah anak yatim dibawah umur.
Sebagaimana sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hanifah

Tidak disebut lagi anak yatim bila sudah baligh. (HR. Abu Hanifah)

Anak Yatim Dan Menyantuninya Dengan Baik, anak yatim piatu, doa anak yatim, rumah yatim
Artian baligh (sampai umur) banyak perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Untuk lebih detilnya silahkan sahabt beriman membaca cerahan kami tentang usia baligh laki-laki dan perempuan. Karena tidak bisa kita jelaskan recara singkat saja.

Baca Usia baliq (sampai umur) laki-laki dan perempuan

Kaum muslimin yang berbahagia
Kita sangat dianjurkan untuk menyantuni anak yatim baik itu yatim laki-laki mauhupun perempuan. Tidak terkecuali mereka itu adalah sanak family atau bukan, namun santunan untuk mereka tetaplah berlaku.

Mengapa anak yatim harus diperhatiakan? Mari kita gambarkan, coba bayangkan seseorang yang memiliki ayah, setiap hal yang diinginkan bisa saja melaporkan kepada ayahnya untuk dibelikan sedangkan anak yatim kepada siapa? Bahkan mungkin ibu hanya orang yang tak berpunya. Selain itu, anak-anak adalah jiwa yang masih sangat membutuhkan belaian sang ayah untuk memotivasi dan menyemangati hidupnya seperti anak lain yang memiliki ayah. Dan juga berbagi tawa bersama dengan anggota keluarga. Ayah sebagai tulang punggung keluarga secara otomatis adalah sumber nafkah untuk mereka. Bayangkan saja jika mereka sudah tiada. Banyak hal lain yang menjelaskan mengapa anak yatim perlu disantuni seperti sabda Nabi berikut ini,

Dari Sahl bin Sa'ad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:"Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu." (Riwayat Bukhari)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:"Pemelihara anak yatim, baik miliknya sendiri atau milik lainnya, saya - Nabi s.a.w. - dan ia adalah seperti kedua jari ini di dalam syurga." Yang merawikan Hadis ini yakni Malik bin Anas mengisyaratkan dengan menggunakan jari telunjuk serta jari tengahnya. (Riwayat Muslim)

sangat jelas dua hadits diatas mengisyaratkan bahwa memelihara atau menyantuni anak yatim itu sangat dianjurkan. Sungguh sangat sulit untuk berada dalam surga apalagi dekat dengan Rasulullah SAW..Kedekatan Rasulullah bersama pengasuh anak yatim adalah sebagai ganjaran atas amal baik mereka. Karena sangat jarang manusia di dunia ini yang mahu mengasuh anak yatim apalagi dengan ketulusan.

Bagaimana jika seorang anak yatim itu kaya, apakah kita masih wajib menyantuninya? Ya, tidak ada yang membedakan antara yang miskin dan yang kaya kecuali semuanya adalah wajib untuk kita santuni. Bagimana hartanya yang berlimpah, apakah anak yatim wajib mengeluarkan zakat? Memang pada dasarnya semua harta yang sampai nisab dan memenuhi ketentuan syara' wajib kita keluarkan zakatnya. Mengenai harta anak yatim, ada baiknya kita simak sabda nabi SAW. Berikut ini:

Harta-benda anak yatim tidak terkena zakat sampai dia baligh. (HR. Abu Ya'la dan Abu Hanifah)

Dalam hadits ini juga dijelaskan tentang balighnya seorang anak yatim, karena seorang anak yatim tidak dikatakan lagi anak yatim apabila sudah baligh atau sampai umurnya (Sahabat bisa baca kembali hadits yang teratas). Jadi dapat kita simpulkan bahwa, harta anak yatim tidak wajib untuk dikeluarkan zakatnya hingga ia sampi umur atau baligh. Namun, apabila si yatim berniat berzakat, maka boleh-boleh saja. Tidak ada larangan baginya karena itu adalah sebuah kebajikan. Yang harus di camkan sekali lagi bahwa tidak wajib zakat bagi anak yatim.

Para pembacaa yang kami hormati,
Mari kita simak firman Allah berikut ini:

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْيَتَٰمَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌۭ لَّهُمْ خَيْرٌۭ ۖ وَإِن تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَٰنُكُمْ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ ٱلْمُفْسِدَ مِنَ ٱلْمُصْلِحِ 
Dan mereka sama menanyakan tentang anak-anak yatim. Katakanlah: "Berbuat baik kepada mereka itu adalah yang terbaik dan jikalau engkau semua bergaul baik-baik dengan mereka, maka mereka itupun saudara-saudaramu dan Allah mengetahui siapa orang yang membuat kerusakan dari orang yang berbuat kebaikan." (al-Baqarah: 220)
Tidak ada pengecualian dalam Firman Allah ini, semua anak yatim adalah tetap namanya anak yatim baik kaya ataupun miskin. Allah swt menganjurkan kita untuk berbuat baik kepada mereka. Ayat ini menandakan bahwa semua yang memiliki kemampuan baik fisik mauhupun mental wajib menyantuni anak yatim.

Apalagi bagi anak yatim-piatu, yang mana mereka sudah tidak memiliki ayah dan diikuti oleh ibu yang juga menghadap Ilahi. Tidak ada tempat mereka mengadu kasih sayang. Ketika anak lain yang mereka lihat memiliki ayah dan ibu tempat mereka berbagi senyuman, ketika itu mereka mencucurkan air mata. Bayangkang betapa sedihnya kehidupan mereka. Oleh sebab itu marilah kita bersama-sama dan berduyun-duyun untuk menyantuni anak yatim. Mereka adalah orang yang membutuhkan kasih sayang kita, belas kasihan kita.

Dan juga tidak boleh kita memebentak-bentak anak yatim, sebagaimana Allah swt melarangnya
Allah Ta'ala berfirman lagi: "Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau bersikap kasar (sewenang-wenang)(ad-Dhuha: 9)

Apalagi sampai membuat dia menangis alias sedih, sungguh sangat dilarang. harus kita ketahui bahwa sesungguhnya yang menghardik anak yatim adalah orang yang termasuk kedalam golongan pendusta (musuh) agama. Sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al-Maun

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim (surat al-maun ayat 1-2)

Nah, saudaraku yang seiman seagama. Bayangkan, menghardik (berkata-kata kasar) saja sudah termasuk orang pendusta alias musuh agama apalagi menzaliminya dan menganiaya anak yatim. Saudara bisa merenungkan. Sungguh sangat banyak larangan untuk menganiayaa anak yatim. Nanti akan kita jelaskan dalam topik azab bagi orang yang menganiaya anak yatim.
Masyari'al muslimin rahimakumullah
Allah Ta'ala juga berfirman: "Dan janganlah engkau mendekat kepada harta-harta anak yatim, melainkan dengan cara penggunaan yang lebih baik -seperti menjaga dan memperkembangkannya-." (al-An'am: 152)

Kewajiban kita untuk menyantuni bukan memakan harta mereka. Mereka yang sudah menimpa kesedihan jangan kita menambah dengan memakan harta mereka. Jangan sampai kita termasuk kepada orang yang terkena azab nanti dihari kiamat.

Allah menyebut kata “YATIM” dalam Al-Qurán sebanyak 23 kali. Diantaranya adalah dalam menyantuni anak yatim dengan baik. Karena itu sudah sepantasnya kita perlakukan anak yatim dengan baik, karena hal ini akan menjadikan salah satu kewajiban seorang muslim. Salah satu kemuliaan anak yatim adalah mereka memiliki DOA Mustajab. Banyak kisah-kisah anak yatim tentang doanya yang mustajab.

Saudaraku seiman, sekiranya sekian saja pencerahannya. Mungkin akan kita sambung dengan topik lain dilain waktu. Semoga bagi kita yang masih punya ayah dan ibu, untuk senantiasa berbakti kepada mereka. Semoga Allah swt selalu menuntun kita kejalan yang benar, aamiin aamiin ya rabbal alamiin

Wednesday, 15 April 2015

Ampunan Allah SWT. Sungguh Sangat Luas

Sebagai makhluk yang bertuhan sudah sepantasnya kita beribadah kepada Allah swt. Tidak hanya pagi ataupun siang, petang bahkan malam kita diperintahkan untuk beribadah kepada Allah SWT. karena semua makhluk sifatnya fana (tidak kekal) dan suatu saat akan menghadap kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, persiapan-persiapan bekal yang akan kita bawa keakhirat adalah bekal yang tidak bisa dibagi untuk siapapun termasuk keluarga dan kerabat dekat.
Ampunan Allah SWT.Sangat Luas, baik dosa kecil mahupun dosa besar baik sebesar gunong, sebesar langit bahkan sebesar bumi

Dunia adalah sebagai ladang kita untuk bercocok tanam menuju akhirat. Semakin banyak bekal yang akan kita bawa maka semakin baik pula keadaanya di akhirat kelak. Begitu pula dengan amal jahat yang dilakukan, maka akan berdampak buruk ketika diakhirat kelak. Amal baik akan mendapat balasan syurga sedangkan neraka adalah bagi mereka yang amalannya berupa keburukan.
Seperti halnya kita bercocok tanam dalam proses pertanian, kita akan menjumpai hama-hama yang akan merusak tanaman-tanaman untuk bekal kita. Hama-hama itulah yang dinamakan dosa. Seperti halnya tanaman biasa yang hamanya dapat dibasmi, maka begitu pulalah dengan hama pada amalan kita. Yaitu dengan cara memohon ampun kepada Allah SWT. atau sering kita sebut dengan taubat.
Seperti beberapa firman Allah swt. dalam surat  berikut ini,

وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ 
"Dan mohonlah pengampunan - kepada Allah – kerana dosamu." (Muhammad: 19)

Allah Ta'ala berfirman pula: 

وَٱسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا
"Dan mohonlah pengampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (an-Nisa': 106)

Allah Ta'ala berfirman lagi:

وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا
 "Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian memohonkan pengampunan kepada Allah, maka ia akan mendapatkan Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (an-Nisa': 110)

Allah Ta'ala juga berfirman:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَٱسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَ
 "Maka bertasbihlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhanmu dan mohonlah pengampunan kepadaNya, sesungguhnya Tuhan itu adalah Maha Penerima taubat." (an-Nashr: 3)

Allah Ta'ala berfirman lagi:
وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
 "Dan orang-orang yang apabila melakukan kejahatan atau mengianiaya dirinya sendiri, mereka lalu ingat kepada Allah, kemudian memohonkan pengampunan kerana dosa-dosa mereka itu. Siapakah lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa itu selain Allah? Dan mereka tidak terus-menerus mengulangi perbuatan yang jahat itu, sedang mereka mengetahui."' (ali-lmran: 135)

Sungguh sangat banyak firman-firman Allah yang menjelaskan tentang ampunan dosa bagi hamba-hambanya. Tidak ada batas bagi hamba-hamba untuk memohon ampun, karena Allah SWT. akan mengampuni. 

Mungkin sahabat Beriman pernah mendengar kisah Nabi Musa As. Ketika nabi Musa kembali ke mesir yang tiba-tiba ada perkelahian yang terjadi. Salah satu pihak adalah kaum nabi musa dan pihak yang satunya lagi adalah pihak musuh atau pihak Fir’aun. Ketika nabi Musa hendak menolong, dan beliau meninju simusuh tersebut lalu mati. Nabi musa menyesal, karena beliau tidak maksud membunuh namun hanya membela dan kemudia nabi Musa memohon ampunan kepada Allah swt. dan beliaupun mendapat ampunan. Untuk lebih jelasnya marilah kita simak Firman Allah swt. dalam surat Al Qashahs berikut ini,

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَٱسْتَوَىٰٓ ءَاتَيْنَٰهُ حُكْمًۭا وَعِلْمًۭا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ وَدَخَلَ ٱلْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍۢ مِّنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِن شِيعَتِهِۦ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِۦ ۖ فَٱسْتَغَٰثَهُ ٱلَّذِى مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِى مِنْ عَدُوِّهِۦ فَوَكَزَهُۥ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۖ إِنَّهُۥ عَدُوٌّۭ مُّضِلٌّۭ مُّبِينٌۭ
Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya Hikmah (kenabian) dan pengetahuan. dan Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).  Musa mendoa: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah Menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Qashash ayat 14-16)

Artikel terkait: Usia baliq (sampai umur) laki-laki dan perempuan

Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun segala dosa seberapapun banyak dosa itu. Apakah sebesar gunung, atau sebesar lagit. Sungguh Allah-lah yang maha pengampun segala dosa. Seperti sabda Rasulullah berikut ini,

Dari Anas bin Malik ra berkata,"Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman,"Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku mengampuni dosa-dosa lampaumu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, meski dosamu sepenuh langit, namun bila kamu meminta ampun kepada-Ku, pastilah Ku ampuni dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, meski kamu datang kepada Ku dengan dosa sepenuh bumi namun bila kamu menemui-Ku tanpa syirik kepada-Ku, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh itu juga. (HR. At-Tirmizy).

Dan begitu pula apabila terkadang kita melakukan dosa yang berulang-ulang,  Karena memang sudah kodrat manusia yang tipis imannya mudah digoda oleh syaitan-syaitan laknatillah. Maka Allah swt akan tetap mengampuninya, seperti sabda rasulullah berikut ini,

Hadis riwayat Abu Hurairah ra:
Dari Nabi saw. tentang yang beliau riwayatkan dari Tuhannya, beliau bersabda: Seorang hamba melakukan satu perbuatan dosa lalu berdoa: "Ya Allah, ampunilah dosaku". Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau akan menghukum karena dosa itu. Kemudian orang itu mengulangi perbuatan dosa, lalu berdoa lagi: Wahai Tuhan-ku, ampunilah dosaku. Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menyiksa karena dosa itu. Kemudian orang itu melakukan dosa lagi, lalu berdoa: Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku. Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menghukum karena dosa itu serta berbuatlah sesukamu, karena Aku benar-benar telah mengampunimu. Abdul A`la berkata: Aku tidak mengetahui apakah Allah berfirman "berbuatlah sesukamu" pada yang ketiga kali atau keempat kali. (Shahih Muslim No.4953)

Akan tetapi, walaupun Allah SWT. akan mengampuni setiap dosa kita, bukan berarti kita untuk senantiasa berbuat dosa dan kemudian memohon ampun. Alangkah baiknya jika kita menjauhi dosa-dosa. karena umur kita tidak menentu, bisa saja kita mati dalam detik ini, ataupun nanti. takut-takutnya ketika melakukan dosa kita akan mati sebelum mengucapkan ampunan dengan sungguh-sungguh atau terjerumus kepada dosa yang tidak diampuni oleh Allah SWT. Karena diantara berbagai dosa, ada dosa yang tidak diampuni oleh Allah SWT. yaitu dosa menyekutukan Allah. Seperti halnya menyembah berhala dan lain-lain sebagainya.

Para pembaca yang budiman,
Bagaimana jika suatu dosa yang tidak sengaja kita lakukan, atau bahkan keliru atau juga karena dipaksa, apakah kita juga akan mendapat dosa? Karena kesalahan bisa saja kita lakukan tanpa kita menyadarinya. Dan kekeliruan adalah kodrat manusia sebagai hamba yang lemah serta paksaan merupakan sesuatu yang dianggap tidak wajar. Maka Allah swt. akan mengampuni dosa-dosa orang tersebut. Sebagaimana sabda rasulullah saw.

Ibnu abbas ra. berkata bahwa rasulullah saw bersabda' sesungguhnya Allah SWT. mengampuni beberapa kesalahan umatku yang disebabkan keliru ,lupa, dan karena dipaksa' (Hadist Hasan ini diriwayatkan oleh ibnu Majjah, Baihaqi dan lain-lain)

Karena, bukan tidak mungkin pada era sekarang ini. Bisa saja seseorang dipaksa untuk melakukan kemungkaran padahal orang yang bersangkutan adalah hamba Allah yang sangat taat dan takut akan dosa. Lantaran untuk menjaga keselamatan nyawa dan keterpaksaan maka dia melakukannya. Misalnya, seseorang dipaksa untuk mencuri padahal dia sangat anti dalam mencuri. Karena kalau dia tidak melakukannya akan dibunuh maka keterpaksaan ini tidak berdosa baginya. Bahkan ketika seseorang yang disuruh menyekutukan Allah padahal dalam hatinya masih beriman alias dia tetap mengakui keesaan Allah dan beriman kepada Allah, maka Allah akan mengampuninya karena Allah mengatahui segala isi hati dan segala yang tersembunyi.

Diantara Hamba-hamba Allah SWT. yang dianiaya untuk tidak beribadah kepada Allah. Ada suatu kisah di suatu negara, kami tidak menyebutkan nama negaranya. Orang-orang mukmin dan muslim dilarang melaksanakan shalat dan berpuasa. Akan tetapi mereka mencari jalan untuk tetap melaksanakan shalat yaitu dikamar kecil. Adapun yang demikian adalah kemudharatan yang akan diampuni oleh Allah SWT. karena dia tetap menjalankan amalnya lantaran takut azab Allah SWT. Namun sebaliknya dinegara kita Indonesia, dimana orang-orang bebas melaksanakn ibadah dimanapun dan kapapanpun, eh malah suka meninggalkan amal ibadahnya, adapun hal ini adalah karena tipisnya keimanan dan ketaqwaan serta hilangnya rasa takut kepada Allah SWT.

Selain itu, dosa-dosa yang kita lakukan akan terhapus dengan perbuatan-perbuatan ma’ruf atau perbuatan baik. pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Suatu kejadian seperti sabda Rasulullah berikut ini,

Dari ibnu mas'ud ra,  ia berkata ; ada seorang laki-laki mencium seorang wanita kemudia ia menghadap nabi saw dan menceritakan kepada beliau tentang apa yang telah ia kerjakan, kemudian turunlah firman Allah ta'ala; AQIMISH SHALATA THARAFAYIN NAHAARI WA ZULAFAN MINALLAILI INNAL HASANAATI YUDZIBNAS SAYYIATI (Dan dirikan lah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan malam, sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk,)  orang itu bertanya ; Wahai rasulullah apakah ini hanya untuk saya ? Beliau menjawab ; untuk semua umatku ((Hr Bukhari dan muslim).

Nah saudara-saudara, diantara banyak dosa, ada yang dinamakan dosa besar dan ada yang dinamakan dosa kecil, dalam haditsnya, Rasulullah SAW. Menjelaskan bahwa:

Tidak menjadi dosa besar sebuah dosa bila disertai dengan istighfar dan bukan dosa kecil lagi suatu perbuatan bila dilakukan terus menerus. (HR. Ath-Thabrani)

Artinya, dosa kecil yang kita lakukan, maka dosanya akan menumpuk bila sering dilakukan. Kita ibaratkan saja ketika seseorang mengangkut air dalam suatu bejana untuk suatu bak mandi. Jika baknya tidak bocor, otomatis baknya akan penuh bahkan akan limpah. Begitu juga dengan dosa kecil. Dosa akan menumpuk seiring tidak adanya permohonan ampun kepada Allah dan dilakukan terus menerus.

Ada banyak sekali dosa besar, diantaranya akan dijelaskan dalam hadits-hadits berikut ini:
Hadis riwayat Abdullah ra., ia berkata:
Aku bertanya kepada Rasulullah saw: Dosa apakah yang paling besar menurut Allah? Rasulullah saw. bersabda: Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu. Aku berkata: Sungguh, dosa demikian memang besar. Kemudian apa lagi? Beliau menjawab: Engkau membunuh anakmu karena takut miskin. Aku tanya lagi: Kemudian apa? Rasulullah saw. menjawab: Engkau berzina dengan istri tetanggamu. (Shahih Muslim No.124)

Dalam Hadis lain yang diriwayat Abdurrahman bin Abu Bakrah ra., ia berkata:
Kami sedang berada di dekat Rasulullah saw. ketika beliau bersabda: Tidak inginkah kalian kuberitahu tentang dosa-dosa besar yang paling besar? (beliau mengulangi pertanyaan itu tiga kali) yaitu; menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua dan persaksian palsu. Semula Rasulullah saw. bersandar, lalu duduk. Beliau terus mengulangi sabdanya itu, sehingga kami membatin: Mudah-mudahan beliau diam. (Shahih Muslim No.126)

Dalam Hadis yang diriwayat Anas ra.:
Dari Nabi saw. tentang dosa-dosa besar, beliau bersabda: Menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh manusia dan persaksian palsu. (Shahih Muslim No.127)

Dan dalam Hadis yang diriwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jauhilah tujuh hal yang merusak. Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, apa tujuh hal itu? Rasulullah saw. bersabda: Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, makan harta anak yatim, makan riba, lari dari medan pertempuran dan menuduh berzina wanita-wanita yang terjaga (dari berzina) yang lalai dan beriman. (Shahih Muslim No.129)

Serta Hadis yang diriwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Di antara dosa-dosa besar, yaitu memaki kedua orang tua. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang dapat memaki kedua orang tuanya? Rasulullah saw. menjawab: Dia memaki bapak orang lain, lalu orang lain itu memaki bapaknya. Dia memaki ibu orang lain, lalu orang lain itu memaki ibunya. (Shahih Muslim No.130)

Maka dapat kita simpulkan beberapa orang yang termasuk kedalam golongan yang melakuakan dosa besar.
1.    Orang musyrik atau menyekutukan Allah
2.    Mendurhakai kedua orang tua
3.    Orang yang membunuh anak karena takut miskin atau semacamnya atau membunuh jiwa yang  diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar
4.    Berzina dengan istri atau perempuan yang tidak halal baginya
5.    Bersaksi atas kesaksian palsu
6.    Pemakan harta anak yatim
7.    Pemakan riba
8.    Lari dari medan perang
9.    Menuduh wanita baik melakukan zina
10.   Dan lain-lain sebagainya.

Baca : Macam-macam dosa besar dan Azab bagi pelakunya

Semoga cerahan hari ini dapat memberi manfaat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. aamiin aamiin ya rabbal ‘alamin.

Tuesday, 14 April 2015

Nabi Adam Sebagai Asal Mula dan Nenek Moyang Umat Manusia

Seiring dengan perjalanan waktu dan pergantian antara siang dan malam, pergantian tahun dengan windu, serta dekade dengan abad umat manusia semakin bertambah dan terus bertambah. Hamba-hamba Allah yang telah Allah ciptakan tersebut memiliki variasi dan keunikan masing-masing. Tidak hanya putih, Allah juga mencipatakan yang hitam. Tidak hanya pendek Allah juga menciptakan yang tinggi. Tidak hanya pandir Allah juga menciptakan yang cerdas. Tapi percayalah, semua orang memiliki keunikan masing-masing. Dan tidak ada suatu kaum yang lebih mulia disisi Allah selain orang yang bertaqwa.

Nabi Adam Sebagai Asal Mula dan Nenek Moyang Umat Manusia, dan manusia pertama di bumi

Adapun dari sekian banyaknya umat manusia, dari berbagai golongan, dari berbagai suku dan adat istiadat yang berbeda yang namun asal mula manusia adalah pada nabi Adam as. Beliaulah manusia pertama di bumi Allah ini sekaligus nabi pertama yang diutus oleh Allah SWT..  sehingga dari keturunan beliaulah hingga menjadi jutaan bahkan milyaran manusia di muka bumi ini. Baik manusia itu berkulit hitam atau pun putih, baik berparas tampan atau kurang. Karena itu semua adalah karunia Allah swt. yang dianugrahkan kepada kita.

Namun demikian, tidak sedikit pula sebagian orang yang berpendapat bahwa manusia berasal dari golongan yang hina yaitu kera. Bagaimana bisa mereka berfikir demikian padahal Allah SWT. sudah berfirman dalam Al Quran dan kitab-kitab sebelumnya bahwa seluruh ummat manusia adalah berasal dari nabi Adam AS. Allah telah memuliakan  manusia sebagai keturunan nabi yang mulia sebagai bukti bahwa manusia adalah makhluk yang lebih sempurna dari makhluk lain. Banyak kalangan yang berbantah-bantahan tentang asal mula ummat manusia. Namun jika mereka bersikukuh pada pendapatnya. Katakan saja bahwa “kami berasal dari nabi Adam dan anda terserah berasal dari mana.” Karena kita tidak akan mendustakan ayat-ayat Allah yang memeberitakan tentang kehadiran nabi Adam sebagai manusia pertama dan merupakan nenek moyang seluruh umat manusia.

Pada mulanya, nabi Adam tinggal disurga bersama dengan istrinya Siti Hawa. Namun mereka berdua mendapat bujukan dan rayuan iblis untuk memakan buah khuldi. Sehingga dengan sebab inilah Adam diturunkan oleh Allah ke bumi. Kedengkian iblis muncul karena menganggap nabi Adam sebagai penyebab mereka keluar dari surga Allah. Mereka membangkan untuk tidak bersujud kepada Adam karena mereka menganggap dirinya lebih mulia karena diciptakan  dari api sedangkan nabi Adam dari tanah, oleh sebab itu Allah mengusir mereka dari surga. Dan mereka memohon kepada Allah supaya mampu untuk menggoda anak-anak adam.

Baca Juga : Penyebab shalat tidak kusyu' dan mengapa setan selalu mengganggu kita

Allah menciptakan nabi Adam setinggi Enam puluh hasta, maka setiap orang nantinya akan memasuki surga dengan tinggi enam puluh hasta pula. Nah, walaupun nabi adam memiliki tinggi enam puluh hasta, namun tinggi tersebut akan terus berkurang (yaitu semasa di dunia). Dan jelas kita lihat pada masa sekarang ini, tinggi umat manusia semakin berkurang. Dan semua ini telah dijelaskan oleh rasulullah SAW. Dalam haditsnya.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Allah menciptakan Adam dalam bentuknya setinggi enam puluh hasta. Setelah menciptakannya, Allah berkata: Pergilah dan ucapkanlah salam kepada kelompok itu, yaitu beberapa malaikat yang sedang duduk, dan dengarkanlah apakah jawaban mereka karena itulah ucapan selamat untukmu dan keturunanmu. Maka Adam pergi menghampiri lalu mengucapkan: "Semoga keselamatan menyertai kalian". Mereka menjawab: "Semoga keselamatan dan rahmat Allah menyertai kalian". Mereka menambahkan "rahmat Allah". Maka setiap orang yang memasuki surga itu seperti bentuk Adam yang tingginya enam puluh hasta. Seluruh makhluk setelah Adam terus berkurang tingginya sampai sekarang
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 5075

Dalam petumbuhan kehidupan nabi Adam AS dan Siti Hawa. Mereka melahirkan Anak-anaknya yang setiap kali lahir adalah kembar dengan berpasangan. Maka Allah swt. memerintahkan kepada nabi Adam untuk mengawinkan silang antara keduanya. Artinya untuk tidak menikahkan yang lahirnya bersamaan. Namun demikian terjadilah konflik. Seorang anak nabi Adam (Qabil) tidak sudi dinikahkan dengan persilangan karena yang kembarannya (Iqlima) mememiliki kecantikan lebih dibandingkan dengan yang akan dinikahkan dengannya. Dia ingin menikah dengan saudara kembaranya namun nabi Adam membuat peraturan untuk menikah silang sebagaimana perintah Allah SWT. berdasarkan wahyu dari Allah, nabi Adam AS. Memerintahkan keduanya (Qabil dan Habil) untuk berqurban, siapa yang diterima qurbannya maka dialah yang berhak menikahi saudara qabil yaitu Iqlima.

Qabil adalah petani, dia berkurban seikat gandum yang jelek dari tanamannya. Dia tidak peduli qurbannnya akan diterima atau tidak, karena rasa sombong dan dengki yang sudah menguasai.

Sedangkan Habil adalah seorang peternak kambing, dia memilih kambing yang muda lagi gemuk. Karena dia berkeinginan agar qurbannya diterima disisi Allah SWT. Setelah qurban keduanya dipersembahkan, Allah menurunkan api warna putih dan dengan izin Allah api putih itu membawa qurban  Habil (sebagai tanda bahwa qurbannya diterima) dan meninggalkan qurban Qabil

Kemudian karena qurbannya tidak diterima, dia berencana untuk membunuh saudaranya yang akan menikah dengan saudara kembarnya agar dia bisa menikah dengannya. Sihabil yang menegatahui Qabil ingin membunuhnya tidak memberontak atau tidak melawan. Karena dia takut apabila dia melawan pasti dia akan berencana membunuh saudaranya dan dia takut akan azab Allah Maka terjadilah pembunuhan terhadap saudaranya dan sekaligus inilah pembunuhan yang pertama sekali terjadi dikalangan umat manusia dan di muka bumi sebagai keturunan nabi Adam. Karena kebingungan mahu dibawa kemana mayit saudaranya Habil, kemudian dilihatlah burung gagak yang mengubur kerabatnya yang mati. Dari situlah muncul inspirasinya untuk mengubur saudaranya ini. dan inilah kronologi pembunuhan pertama yang dilakukan anak nabi Adam si Qabil
Maka tidak heran, mengapa sekarang marak sekali terjadi pembunuhan. Kesadisan pembunuhan sekarang ini banyak meliputi berbagai hal, mulai dianiaya, dimutilasi, dikubur hidup-hidup bahkan orang tuanya sendiri dibunuh, astaghfirullahal’adhiim. Ternyata perbuatan tercela itu sudah dimulai sejak baru-baru nabi Adam turun ke bumi, maka kejadian sekarang adalah sesuai dengan firman Allah SWT, berikut ini,

وَقُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۭ ۖ وَلَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّۭ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٍۢ

Kami berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan". (QS. Al Baqarah ayat 36)

Sebagai orang yang pertama membunuh, putra nabi Adam akan ikut merasakan dosa atas apa yang dilakukan oleh umat manusia sekarang ini, sebagaimana sabda nabi berikut ini,

Hadis riwayat Abdullah bin Mas`ud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu jiwa pun yang dibunuh karena kezaliman kecuali putra Adam pertama (yang membunuh) akan menanggung sebagian dari dosa pembunuhannya karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan .

Rasulullah juga bersabda,
Barang siapa yng memulai suatu perkara baik (yang disyariatkan) maka baginya pahalannyua dan pahala yng mengikutinya sampai terjadinya hari kiamat. Dan barang siapa yang memulai perkara jelek maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya sampai terjadi hari kiamat. (hr. Muslim)
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 3177

Walau dosa yang membunuh akan ditanggung sebagian oleh putra nabi Adam yang pertama sekali membunuh, tidak berati bahwa kita boleh untuk membunuh. Karena sesungguhnya membunuh merupakan dosa besar dan hukumannya adalah darah balas dengan darah. Artinya jika membunuh orang lain maka orang yang membunuh harus diqishash (dibunuh pula). Seperti  firman Allah dan sabda Nabi berikut ini,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِصَاصُ فِى ٱلْقَتْلَى 
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh (QS. Al Baqarah ayat 178)

Baca juga Macam-macam dosa besar dan azab bagi pelakunya

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak halal membunuh seorang muslim kecuali salah satu dari tiga hal: Orang yang telah kawin yang berzina, ia dirajam; orang yang membunuh orang Islam dengan sengaja, ia dibunuh; dan orang yang keluar dari agama Islam lalu memerangi Allah dan Rasul-Nya, ia dibunuh atau disalib atau dibuang jauh dari negerinya." Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Hakim.
Salah satu orang yang halal darahnya adalah orang yang suka membunuh sesama islam. Yaitu orang-orang yang membunuh dengan sengaja atau bahkan sudah direncanakan. Kecuali sanak family atau keluarga ikhlas dan memaafkan sipembunuh.

Banyak orang yang menyealahkan nabi Adam tentang diusirnya beliau dari surga. Karena seandainya beliau tidak keluar dari surga, otomoatis kita semua juga berada dalam surga. Dengan berbagai macam kenikamatan dan makanan yang berlimpah-ruah dan lain sebagainya. Namun, tidak sedikit pula yang menegerti bahwa itu bukanlah kesalahan nabi Adam karena semuanya sudah diatur oleh Allah SWT. sesungguhnya Allah Maha Lebih Mengetahui. Kita sebagai hamba yang lemah sepatutnya bersyukur bahwa dengan diutusnya nabi Adam maka kita termasuk umat Rasul Mustafa Muhammad SAW., yang mana umat nabi Muhammad adalah sebaik-baiknya umat dibandingkan dengan umat nabi yang lain.

Pernah suatu ketika Nabi Musa berdebat dengan nabi Adam tentang diutusnya beliau ke dunia, untuk lebih jelasnya mari kita simak hadits berikut ini,

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: Wahai Adam, kamu adalah nenek moyang kami, kamu telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: Kamu Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku? Nabi saw. bersabda: Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa, akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 4793

Dengan jawaban yang luar biasa nabi Adam As. Menjawab dengan tangkas terhadap pernyataan Nabi Musa AS.. sehingga Nabi Musa sadari bahwa semua itu adalah takdir Allah SWT. yang tidak bisa diotak-atik oleh siapapun.  Oleh sebab itu, rajin-rajinlah kita beribadah kepada Allah semoga kita pulang dengan husnul qatimah dan mendapat surga Allah SWT.. karena sesungguhnya dunia ini akan hancur. Dan jalan keselamatan adalah beriman kepada Allah melalui jalan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

 Artikel terkait: Penciptaan manusia dan penentuan takdir sejak di dalam kandungan ibu

Tidak ada kata yang dapat kita ucapkan selain kata syukur kepada Allah atas nikmat Iman dan nikmat Islam yang telah dianugrahkan Allah kepada kita. Aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

Monday, 13 April 2015

Amal Perbuatan Manusia Sebagai Bekal Menuju Akhirat

Jika kita bicarakan masalah amal, memang sudah tidak asing lagi bagi kita. Bahkan amal itu merupakan suatu yang lumrah yang tidak bisa kita pisahkan dalam hidup ini. karena berbagai Amalan sudah dimulai sejak nabi Adam turun ke bumi ini. Amal juga bisa dikaitkan dengan watak kita. Yang mana makna amal adalah perbuatan kita sedangkan watak (sifat/karakter) adalah cara kita berfikir. Sehingga wataklah yang menuntun sifat kita. Karena dalam hal ini, kita menggunakan otak sebagai sumber kontraksi tubuh. Namun oleh sebab itu, kita memerlukan hati untuk menuntun otak dan watak tersebut.

segumpal darah beku, apabila benda ini baik, maka baiklah seluruh badan, tetapi apabila benda ini rusak (jahat), maka rusak (jahat) pulalah seluruh badan. Ingatlah bahwa benda itu adalah hati.
 Sabda rasulullah saw.
Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah beku, apabila benda ini baik, maka baiklah seluruh badan, tetapi apabila benda ini rusak (jahat), maka rusak (jahat) pulalah seluruh badan. Ingatlah bahwa benda itu adalah hati." (Muttafaq 'alaih)

Apabila hati kita baik, maka hati akan menuntun kita kejalan yang baik, akan tetapi jika hati kita buruk maka dia akan menuntun kita kepada jalan yang buruk pula. Mengapa hati itu berubah menjadi baik atau berubah menjadi buruk? Sesungguhnya itu semua tergantung dari beberapa faktor seperti keluarga, lingkungan, pola fikir, dan lain-lain.Yang mana ini juga faktor utama mengapa watak seseorang itu baik dan buruk. Jika kita misalkan saja anak kecil, pasti dia akan menuruti atau mencontoh apa yang sering dilakukan orang tuanya karena menurutnya ini adalah yang terbaik. Sehingga apapun yang sering dia lihat dalam keluarga semuanya dipresentasikan dalam lingkungan atau masyarakat. Begitu juga dengan Lingkungan,  Jika seseorang bergaul dilingkungan yang baik, sungguh baik hatinya. sebaliknya, jika lingkungan tempat dia bernaung adalah buruk, tidak diragukan lagi bagaimana wataknya. Karena ini juga merupakan tempat dia mencontoh dan meniru. Dan yang terakhir adalah pola fikir. Inilah yang paling penting. Jika dia memiliki pola fikir yang baik, maka dia akan memikirkan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk. Dan ini juga memicu kepada suatu titik balik yaitu keluarga, apakah mereka pernah membimbingya atau tidak. Sehingga apapun yang dia ketahui dan yang dia presentasikan dalam kehidupan, itulah yang dinamakan amal.

Oleh sebeb itu, disebutkanlah amal itu terbagi dua yaitu ma’ruf dan mungkar yaitu tentang amal baik dan amal buruk. Amal baik adalah amal yang berguna baik diri sendiri mahu pun orang lain. Dan amal buruk adalah amal yang merugikan baik untuk diri sendiri mau pun orang lain. Banyak sekali amal baik dan amal buruk di dunia ini yang jumlahnya tidak dapat terhitung. Sebagai insan atau makhluk yang bertuhan, kita tahu dan percaya bahwa setiap amal baik itu akan mendapat kan balasan yang baik pula dari sisi Allah SWT. berupa pahala. Dan begitu sebaliknya, amal buruk akan menjadi catatan buruk berupa dosa yang akan didapatkan di hari pembalasan berupa siksaan di neraka. Nah kita akan memilih mana? Saya yakin semua orang pasti ingin mendapat pahala. Namun anehnya kebanyakan tidak mahu mengerjakan kebajikan alias mengharap pahala saja. Sebagai contoh, seseorang yang hanya ingin mendapatkan upah tanpa mahu bekerja keras.


Kaum muslimin yang berbahagia,
Sungguh sangat banyak perbuatan baik di dunia ini, dan semua orang akan mendapat balasan walaupun amal itu sangatlah kecil pahalanya. Begitu juga dengan dosa, Allah juga akan mencatat setiap dosa seorang hamba walaupun sebesar zarrah.
Sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-zalzalah ayat 7-8

     فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا يَرَهُۥ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.

Apakah sahabat yang beriman mengerti apa itu zarrah? Dan seberapa besarkah zarrah itu? Akan kita terangkan bahwa, zarrah itu adalah partikel paling kecil pada debu. Ukurannya bahkan tidak terhitung bila kita timbang dengan timbangan digital di dunia ini (digital biasanya paling akurat). Akan tetapi Allah tidak akan menyayiakan setiap amal hambanya, baik itu yang jahat atau baik.
Dalam hal beramal didalam islam, setiap amal baik yang sudah diniatkan akan dilakukan, mereka akan mendapatkan pahala meskipun belum melakukannya. Akan tetapi, apabila perbuatan dosa hanya akan berdosa apabila seseorang telah melakukannya. Niat juga merupakan pokok penentunya pahala seseorang dalam beribadah, sebagaimana sabda rasulullah saw. Berikut ini:

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits).

Maksudnya adalah apabila kita berniat semata hanya karena Allah, maka kita akan mendapatkan balasan atas apa yang kita kerjakan. Akan tetapi apabila kita berniat karena selain Allah, bisa jadi karena ingin dipuji orang, ataukah karena ingin mendapat simpati seorang wanita atau pria dan lain sebagainya maka perbuatan ini adalah sia-sia alias tidak akan mendapatkan pahala dari Allah swt. kita contohkan saja seperti firman Allah swt. dan hadits rasulullah saw. berikut ini

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌۭ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌۭ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًۭا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍۢ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ
 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat. (QS. Al Baqarah Ayat 264)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan yang semestinya dapat digunakan untuk memperoleh keridhaan Allah 'Azzawajalla dengan ilmunya tadi, tetapi ia mempelajarinya itu tidak ada maksud lain kecuali untuk memperoleh sesuatu kebendaan dari harta dunia, maka orang tersebut tidak akan dapat menemukan bau harumnya syurga pada hari kiamat," yakni bau harum yang ada dalam syurga. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih. Hadits-hadits lain yang berhubungan dengan bab ini amat banyak sekali lagi masyhur-masyhur.

Nah saudara-saudaraku yang seiman.
Betapa pentingnya niat kita dalam beramal ibadah didunia ini. Karena inilah faktor penentu pahala dari amal ibadah yang kita lakukan, diterima atau tidaknya dan sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niatnya. Demikian juga setiap orang berhak mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya dalam beramal. Dan yang dimaksud dengan amal disini adalah semua yang berasal dari seorang hamba baik berupa perkataan, perbuatan maupun keyakinan hati.

Dalam beramal, niat juga memiliki Fungsi:
Niat memiliki 2 fungsi:
1. Jika niat berkaitan dengan sasaran suatu amal (ma’bud), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan.
2. Jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah dengan amal ibadah yang lainnya.

Pengaruh Niat yang Salah Terhadap Amal Ibadah
Jika para ulama berbicara tentang niat, maka mencakup 2 hal:
1. Niat sebagai syarat sahnya ibadah, yaitu istilah niat yang dipakai oleh fuqaha’.
2. Niat sebagai syarat diterimanya ibadah, dengan istilah lain: Ikhlas.
Niat pada pengertian yang ke-2 ini, jika niat tersebut salah (tidak Ikhlas) maka akan berpengaruh terhadap diterimanya suatu amal, 
dengan perincian sebagai berikut:
a. Jika niatnya salah sejak awal, maka ibadah tersebut batal.
b. Jika kesalahan niat terjadi di tengah-tengah amal, maka ada 2 keadaan:
- Jika ia menghapus niat yang awal maka seluruh amalnya batal.
- Jika ia memperbagus amalnya dengan tidak menghapus niat yang awal, maka amal tambahannya batal.
c. Senang untuk dipuji setelah amal selesai, maka tidak membatalkan amal.

Kaum muslimin yang berbahagia,
Makna hijrah secara syariát adalah meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada disisi-Nya, dan demi Rasul-Nya artinya ittiba’ dan senang terhadap tuntunan Rasul-Nya.

Bentuk-bentuk Hijrah:
1. Meninggalkan negeri syirik menuju negeri tauhid.
2. meninggalkan negeri bidáh menuju negeri sunnah.
3. Meninggalkan negeri penuh maksiat menuju negeri yang sedikit kemaksiatan.

Ketiga bentuk hijrah tersebut adalah pengaruh dari makna hijrah.

Sebagaimana kita membahas diatas bahwa amal perbuatan itu akan mendapat balasanya. Rasulullah saw. Pernah diperlihatkan amal-amal ibadah umat beliau seperti hadits berikut ini.
Dari abu dzar ra. ia berkata; nabi saw bersabda; diperlihatkan  kepadaku amal-amal perbuatan umatku, yang baik maupun yang jelek, aku mendapatkan dalam keompok amal perbuatan yang baik, diantaranya menghilangakan ganguan dari jalan,dan aku mendapatkan  dalam kelompok  perbuatan yang jelek diantaranya, ingus yang dibiarkan di masjid tanpa ditutupi atau dibuang (HR Muslim).

Dalam hadits diatas menjelaskan amal-amal yang kecil yaitu menghilangkan gangguan dari jalan. Ini termasuk membuang duri jauh-jauh agar tidak ada yang menginjaknya atau menyingkirkan kayu dipinggir jalan. Sungguh sangat luar biasa, amal kecil begitu saja juga mendapatkan pahala, bisa kita bayangkan betapa besar pahala amalan mulia lainnya. Kemudian, apabila ingus kita lihat tidak kita bersihkan dalam mesjid, ini menjadi catatan amal jelek, coba dibayangkan amal buruk lain yang merugikan orang, seberapa besar dosanya.

Selain amal baik itu didasari oleh niat, amal baik  juga harus dilakukan dengan terus menerus. Jangan sampai hanya beramal baik kala kehidupan baik saja alias memperoleh kesenangan sedangkan waktu sedih malah tidak mengerjakannya. Kerjakan suatu amal walaupun sedikit namun berkesinambungan, contohnya si A membaca Al-quran setiap malam 1 lembar, sedangkan si B membaca al-quran 1 juz namun tidak berkesinambungan. Maka amal ibadah yang paling baik adalah seperti yang dilakukan si A. Seperti hadits Rasulullah berikut ini:

Dari aisyah ra ia bekata ; sesunguhnya nabi saw masuk kerumah aisyah waktu itu ada seorang perempuan , dan beliau bertanya ; siapakah dia ? aisyah menjawab ; ini adalah si fulanah yang terkenal salatnya . nabi bersabda ; 'wahai fulanah beramallah sesuai dengan kemampuanmu, Demi Allah dia tidak akan jemu menerima amalamu , sehingga kamu sendirilah yang merasa jemu, sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakana secara terus - menerus (Hr Bukhari dan Muslim)


Oleh sebab itu, marilah kita bersama perbanyak amal kepada Allah swt. dengan penuh keikhlasan atau niat baik karena Allah. Tidak ada sesuatu yang dapat menolong kita diakhirat kecuali amal kita sendiri sebagai bekal yang kita tuai ketika didunia. Dan pergunakanlah dunia ini sebagai tempat mencari bekal sebanyak-banyaknya dan menjauhkan diri dari sifat riya. Aamiin aamiin ya rabbal alamiin.