Amal Perbuatan Manusia Sebagai Bekal Menuju Akhirat

Jika kita bicarakan masalah amal, memang sudah tidak asing lagi bagi kita. Bahkan amal itu merupakan suatu yang lumrah yang tidak bisa kita pisahkan dalam hidup ini. karena berbagai Amalan sudah dimulai sejak nabi Adam turun ke bumi ini. Amal juga bisa dikaitkan dengan watak kita. Yang mana makna amal adalah perbuatan kita sedangkan watak (sifat/karakter) adalah cara kita berfikir. Sehingga wataklah yang menuntun sifat kita. Karena dalam hal ini, kita menggunakan otak sebagai sumber kontraksi tubuh. Namun oleh sebab itu, kita memerlukan hati untuk menuntun otak dan watak tersebut.

segumpal darah beku, apabila benda ini baik, maka baiklah seluruh badan, tetapi apabila benda ini rusak (jahat), maka rusak (jahat) pulalah seluruh badan. Ingatlah bahwa benda itu adalah hati.
 Sabda rasulullah saw.
Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah beku, apabila benda ini baik, maka baiklah seluruh badan, tetapi apabila benda ini rusak (jahat), maka rusak (jahat) pulalah seluruh badan. Ingatlah bahwa benda itu adalah hati." (Muttafaq 'alaih)

Apabila hati kita baik, maka hati akan menuntun kita kejalan yang baik, akan tetapi jika hati kita buruk maka dia akan menuntun kita kepada jalan yang buruk pula. Mengapa hati itu berubah menjadi baik atau berubah menjadi buruk? Sesungguhnya itu semua tergantung dari beberapa faktor seperti keluarga, lingkungan, pola fikir, dan lain-lain.Yang mana ini juga faktor utama mengapa watak seseorang itu baik dan buruk. Jika kita misalkan saja anak kecil, pasti dia akan menuruti atau mencontoh apa yang sering dilakukan orang tuanya karena menurutnya ini adalah yang terbaik. Sehingga apapun yang sering dia lihat dalam keluarga semuanya dipresentasikan dalam lingkungan atau masyarakat. Begitu juga dengan Lingkungan,  Jika seseorang bergaul dilingkungan yang baik, sungguh baik hatinya. sebaliknya, jika lingkungan tempat dia bernaung adalah buruk, tidak diragukan lagi bagaimana wataknya. Karena ini juga merupakan tempat dia mencontoh dan meniru. Dan yang terakhir adalah pola fikir. Inilah yang paling penting. Jika dia memiliki pola fikir yang baik, maka dia akan memikirkan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk. Dan ini juga memicu kepada suatu titik balik yaitu keluarga, apakah mereka pernah membimbingya atau tidak. Sehingga apapun yang dia ketahui dan yang dia presentasikan dalam kehidupan, itulah yang dinamakan amal.

Oleh sebeb itu, disebutkanlah amal itu terbagi dua yaitu ma’ruf dan mungkar yaitu tentang amal baik dan amal buruk. Amal baik adalah amal yang berguna baik diri sendiri mahu pun orang lain. Dan amal buruk adalah amal yang merugikan baik untuk diri sendiri mau pun orang lain. Banyak sekali amal baik dan amal buruk di dunia ini yang jumlahnya tidak dapat terhitung. Sebagai insan atau makhluk yang bertuhan, kita tahu dan percaya bahwa setiap amal baik itu akan mendapat kan balasan yang baik pula dari sisi Allah SWT. berupa pahala. Dan begitu sebaliknya, amal buruk akan menjadi catatan buruk berupa dosa yang akan didapatkan di hari pembalasan berupa siksaan di neraka. Nah kita akan memilih mana? Saya yakin semua orang pasti ingin mendapat pahala. Namun anehnya kebanyakan tidak mahu mengerjakan kebajikan alias mengharap pahala saja. Sebagai contoh, seseorang yang hanya ingin mendapatkan upah tanpa mahu bekerja keras.


Kaum muslimin yang berbahagia,
Sungguh sangat banyak perbuatan baik di dunia ini, dan semua orang akan mendapat balasan walaupun amal itu sangatlah kecil pahalanya. Begitu juga dengan dosa, Allah juga akan mencatat setiap dosa seorang hamba walaupun sebesar zarrah.
Sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-zalzalah ayat 7-8

     فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا يَرَهُۥ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.

Apakah sahabat yang beriman mengerti apa itu zarrah? Dan seberapa besarkah zarrah itu? Akan kita terangkan bahwa, zarrah itu adalah partikel paling kecil pada debu. Ukurannya bahkan tidak terhitung bila kita timbang dengan timbangan digital di dunia ini (digital biasanya paling akurat). Akan tetapi Allah tidak akan menyayiakan setiap amal hambanya, baik itu yang jahat atau baik.
Dalam hal beramal didalam islam, setiap amal baik yang sudah diniatkan akan dilakukan, mereka akan mendapatkan pahala meskipun belum melakukannya. Akan tetapi, apabila perbuatan dosa hanya akan berdosa apabila seseorang telah melakukannya. Niat juga merupakan pokok penentunya pahala seseorang dalam beribadah, sebagaimana sabda rasulullah saw. Berikut ini:

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits).

Maksudnya adalah apabila kita berniat semata hanya karena Allah, maka kita akan mendapatkan balasan atas apa yang kita kerjakan. Akan tetapi apabila kita berniat karena selain Allah, bisa jadi karena ingin dipuji orang, ataukah karena ingin mendapat simpati seorang wanita atau pria dan lain sebagainya maka perbuatan ini adalah sia-sia alias tidak akan mendapatkan pahala dari Allah swt. kita contohkan saja seperti firman Allah swt. dan hadits rasulullah saw. berikut ini

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌۭ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌۭ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًۭا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍۢ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ
 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat. (QS. Al Baqarah Ayat 264)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan yang semestinya dapat digunakan untuk memperoleh keridhaan Allah 'Azzawajalla dengan ilmunya tadi, tetapi ia mempelajarinya itu tidak ada maksud lain kecuali untuk memperoleh sesuatu kebendaan dari harta dunia, maka orang tersebut tidak akan dapat menemukan bau harumnya syurga pada hari kiamat," yakni bau harum yang ada dalam syurga. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih. Hadits-hadits lain yang berhubungan dengan bab ini amat banyak sekali lagi masyhur-masyhur.

Nah saudara-saudaraku yang seiman.
Betapa pentingnya niat kita dalam beramal ibadah didunia ini. Karena inilah faktor penentu pahala dari amal ibadah yang kita lakukan, diterima atau tidaknya dan sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niatnya. Demikian juga setiap orang berhak mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya dalam beramal. Dan yang dimaksud dengan amal disini adalah semua yang berasal dari seorang hamba baik berupa perkataan, perbuatan maupun keyakinan hati.

Dalam beramal, niat juga memiliki Fungsi:
Niat memiliki 2 fungsi:
1. Jika niat berkaitan dengan sasaran suatu amal (ma’bud), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan.
2. Jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah dengan amal ibadah yang lainnya.

Pengaruh Niat yang Salah Terhadap Amal Ibadah
Jika para ulama berbicara tentang niat, maka mencakup 2 hal:
1. Niat sebagai syarat sahnya ibadah, yaitu istilah niat yang dipakai oleh fuqaha’.
2. Niat sebagai syarat diterimanya ibadah, dengan istilah lain: Ikhlas.
Niat pada pengertian yang ke-2 ini, jika niat tersebut salah (tidak Ikhlas) maka akan berpengaruh terhadap diterimanya suatu amal, 
dengan perincian sebagai berikut:
a. Jika niatnya salah sejak awal, maka ibadah tersebut batal.
b. Jika kesalahan niat terjadi di tengah-tengah amal, maka ada 2 keadaan:
- Jika ia menghapus niat yang awal maka seluruh amalnya batal.
- Jika ia memperbagus amalnya dengan tidak menghapus niat yang awal, maka amal tambahannya batal.
c. Senang untuk dipuji setelah amal selesai, maka tidak membatalkan amal.

Kaum muslimin yang berbahagia,
Makna hijrah secara syariát adalah meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada disisi-Nya, dan demi Rasul-Nya artinya ittiba’ dan senang terhadap tuntunan Rasul-Nya.

Bentuk-bentuk Hijrah:
1. Meninggalkan negeri syirik menuju negeri tauhid.
2. meninggalkan negeri bidáh menuju negeri sunnah.
3. Meninggalkan negeri penuh maksiat menuju negeri yang sedikit kemaksiatan.

Ketiga bentuk hijrah tersebut adalah pengaruh dari makna hijrah.

Sebagaimana kita membahas diatas bahwa amal perbuatan itu akan mendapat balasanya. Rasulullah saw. Pernah diperlihatkan amal-amal ibadah umat beliau seperti hadits berikut ini.
Dari abu dzar ra. ia berkata; nabi saw bersabda; diperlihatkan  kepadaku amal-amal perbuatan umatku, yang baik maupun yang jelek, aku mendapatkan dalam keompok amal perbuatan yang baik, diantaranya menghilangakan ganguan dari jalan,dan aku mendapatkan  dalam kelompok  perbuatan yang jelek diantaranya, ingus yang dibiarkan di masjid tanpa ditutupi atau dibuang (HR Muslim).

Dalam hadits diatas menjelaskan amal-amal yang kecil yaitu menghilangkan gangguan dari jalan. Ini termasuk membuang duri jauh-jauh agar tidak ada yang menginjaknya atau menyingkirkan kayu dipinggir jalan. Sungguh sangat luar biasa, amal kecil begitu saja juga mendapatkan pahala, bisa kita bayangkan betapa besar pahala amalan mulia lainnya. Kemudian, apabila ingus kita lihat tidak kita bersihkan dalam mesjid, ini menjadi catatan amal jelek, coba dibayangkan amal buruk lain yang merugikan orang, seberapa besar dosanya.

Selain amal baik itu didasari oleh niat, amal baik  juga harus dilakukan dengan terus menerus. Jangan sampai hanya beramal baik kala kehidupan baik saja alias memperoleh kesenangan sedangkan waktu sedih malah tidak mengerjakannya. Kerjakan suatu amal walaupun sedikit namun berkesinambungan, contohnya si A membaca Al-quran setiap malam 1 lembar, sedangkan si B membaca al-quran 1 juz namun tidak berkesinambungan. Maka amal ibadah yang paling baik adalah seperti yang dilakukan si A. Seperti hadits Rasulullah berikut ini:

Dari aisyah ra ia bekata ; sesunguhnya nabi saw masuk kerumah aisyah waktu itu ada seorang perempuan , dan beliau bertanya ; siapakah dia ? aisyah menjawab ; ini adalah si fulanah yang terkenal salatnya . nabi bersabda ; 'wahai fulanah beramallah sesuai dengan kemampuanmu, Demi Allah dia tidak akan jemu menerima amalamu , sehingga kamu sendirilah yang merasa jemu, sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakana secara terus - menerus (Hr Bukhari dan Muslim)


Oleh sebab itu, marilah kita bersama perbanyak amal kepada Allah swt. dengan penuh keikhlasan atau niat baik karena Allah. Tidak ada sesuatu yang dapat menolong kita diakhirat kecuali amal kita sendiri sebagai bekal yang kita tuai ketika didunia. Dan pergunakanlah dunia ini sebagai tempat mencari bekal sebanyak-banyaknya dan menjauhkan diri dari sifat riya. Aamiin aamiin ya rabbal alamiin.

0 Response to "Amal Perbuatan Manusia Sebagai Bekal Menuju Akhirat"

Post a Comment