Sunday, 31 May 2015

Perbandingan Antara Kehidupan Dunia dan Akhirat

Dunia dan akhirat sungguh adalah suatuhal yang sangat jauh berbeda. Kehidupan dunia adalah kehidupan sementara sebagai ladang untuk mengumpulkan bekal berupa amal kebajikan untuk menujukepada akhirat. Sedangkan akhirat adalah tempat di mana kita akan menjalani hidup setelah mati dan tidak ada kematian lagi setelah itu. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya dan kehidupan dunia hanyalah sandiwara belaka.

Tidak ada yang teristimewa dunia bila dibandingkan dengan akhirat. Yang mana dunia adalah tempat yang sementara dan akhirat tempat yang kekal. Berbagai kenikmatan dunia tidak sebanding dengan kenikamatan akhirat, karena kenikmatan akhirat sungguh luar biasa. Begitu juga dengan siksaan-siksaan dikahirat nanti, sungguh tidak ada bandingan dengan kesengsaraaan di dunia ini.

Pernah Rasulullah menceritakan suatu kejadian dihari kiamat, Dari Anas r.a. pula, katanya: "Rasulullah SAW. bersabda: "Akan didatangkanlah orang yang terenak kehidupannya di dunia dan ia termasuk golongan ahli neraka pada hari kiamat nanti, lalu diceburkan dalam neraka sekali ceburan (sesaat saja), lalu dikatakan: "Hai anak Adam (yakni manusia), adakah engkau dapat merasakan sesuatu kebaikan (keenakan dimasa sebelumnya) sekalipun sedikit? Adakah suatu kenikmatan yang pernah menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia berkata: "Tidak, demi Allah, ya Tuhanku" (yakni setelah merasakan pedihnya siksa neraka walau sesaat, maka kenikmatan-kenikmatan dan keenakan-keenakan di dunia itu seolah-olah lenyap sama sekali). Juga akan didatangkanlah orang yang paling menderita kesengsaraan di dunia dan ia termasuk ahli syurga, lalu ia dimasukkan sekali masuk dalam syurga (sesaat saja), lalu dikatakan padanya: "Hai anak Adam, adakah engkau dapat merasakan sesuatu kesengsaraan, sekalipun sedikit? Adakah suatu kesukaran yang pernah menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah, tidak pernah ada kesukaranpun yang menghampiri diriku dan tidak pernah saya melihat suatu kesengsaraan pun sama sekali," (yakni) setelah merasakan kenikmatan syurga, maka kesengsaraan dan kesukaran yang pernah diderita di dunia itu seolah-olah lenyap sekaligus. (Riwayat Muslim).
Nah, sebenarnya apa sih yang membanggakan dari dunia sedangkan Allah menawarkan hal yang luar biasa diakhirat. Apakah mungkin karena rendanya pengetahuan tentang agama? Tidak, banyak orang yang menetahui agama tapi juga tidak mneghiraukannya. Alasan utamanya adalah mereka disibukkan oleh mengejar kepada kekayaan-kekayaan dunia yang diiringin oleh hasutan-hasutan pengkhianat Allah yaitu iblis. Mereka dilalaikan oleh kekayaan tersebut sehingga terus berlomba untuk mencapai nafsu duniawi. Seperti firman Allah berikut ini,
أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ -  حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ- كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُو - نَثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ - كَلَّا لَوْ 
تَعْلَمُونَ عِلْمَ ٱلْيَقِينِ - لَتَرَوُنَّ ٱلْجَحِيمَ - ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ ٱلْيَقِينِ - ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (Surah At-takatsur : 1-8).

Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan. Jika ketaatan sudah mulai pudar, dikhawatirkan agama akan goyah. Oleh sebab itu, rasulullah pernah bersabda dalam haditsnya,

Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. duduk di atas mimbar dan kita duduk di sekitarnya, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya salah satu yang saya takutkan atasmu semua sepeninggalku nanti ialah apa yang akan dibukakan untukmu semua itu dari keindahan harta dunia serta hiasan-hiasannya (yakni) bahwa meluapnya kekayaan pada umat Muhammad inilah yang amat ditakutkan, sebab dapat merusakkan agama jikalau tidak waspada mengendalikannya." (Muttafaq'alaih)

Para pembaca yang budiman,
Sungguh kehidupan ini jikalau tidak dikendalikan sesuai dengan akhidah dan tuntunan agama, maka sasaran dari skenario kehidupan kita akan sia-sia. Kita dituntut untuk memerankan hal terbaik dan berlomba-lomba dalam beramal namun malah kebalikan, kenyataan manusia sekarang sudah terperdaya oleh meluapnya harta, seakan-akan mereka bisa memeproleh segalanya dengan harta yang mereka miliki. Padahal tidak sesuatu apapun yang kita bawa dari dunia kecuali amal ibadah yang shalih sebagai hasil dari tiap akting dan peran kita didunia dan dari setiap hal yang pernah dititpkan. Tidak ada satu pun yang kita bawa ke alam berdhah (alam kubur) kecuali amalan shalih. Seperti yang dijelaskan rasulullah SAW.,

"Ada tiga macam mengikuti mayat itu (ketika di bawa ke kubur), yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan satu tetap tinggal menyertainya. Keluarga dan hartanya kembali sedang amalnya tetap mengikutinya." (Muttafaq 'alaih)

Dan dunia ini bukanlah apa-apa bila dibanding kena dengan kehipan akhirat. Apa yang terdapat di dunia adalah bagian yang paling kecil yang ada di akhirat kelak, baik itu kenikmatan mahupun siksaan. Jika suatu kenikmatan yang kita rasakan teramat nikmat maka kenikmatan itu akan berlipat ganda diakhirat kelak. Seperti sabda berikut ini,

Dunia dan akhirat sungguh adalah suatuhal yang sangat jauh berbeda. Kehidupan dunia adalah kehidupan sementara sebagai ladang untuk mengumpulkan bekal berupa amal kebajikan untuk menujukepada akhirat. Sedangkan akhirat adalah tempat di mana kita akan menjalani hidup setelah mati dan tidak ada kematian lagi setelah itu. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya dan kehidupan dunia hanyalah sandiwara belaka.
Dari al-Mustaurid bin Syaddad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidaklah (berarti) dunia ini kalau dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti sesuatu yang seorang diantara engkau semua menjadikan jarinya masuk dalam air lautan, maka cobalah lihat dengan apa ia kembali (yakni) seberapa banyak air yang melekat di jarinya itu, jadi dunia itu sangat kecil nilainya dan hanya seperti air yang melekat di jari tadi banyaknya-." (Riwayat Muslim)

Seberapa luaskan lautan itu, dan seberapa besarkah ujung jari kita? Tidak ada banding, sungguh tidak ada banding. Bahkan dengan telapak tangan juga tidak tertandingi apalagi dengan lautan. 

Dan juga sesungguhnya Dunia ini bahkan lebih hina dari sebuah bangkai. Siapapun didunia ini tidak akan tergerak hatinya untuk membeli bangkai walau hanya satun sen. Itu adalah sebab dari kehinaan dari bangkai tersebut. Bagaimana dengan dunia, mengapa orang terlalu berlomba-lomba kepada dunia? Itu adalah sebab rendahnya keimanan sehingga dengan mudah terperdaya oleh kenikmatan-kenikmatan yang menyesatkan. 

Dari Jabir r.a. pernah menceritakan bahwasanya suatu ketika Rasulullah s.a.w. berjalan melalui pasar, sedang orang-orang ada di sebelahnya kiri kanan. Kemudian melalui seekor anak kambing kecil telinganya dan telah mati. Beliau s.a.w. menyentuhnya lalu mengambil telinganya, terus bertanya: "Siapakah diantara engkau semua yang suka membeli ini dengan uang sedirham?" Orang-orang menjawab: "Kita semua tidak suka menukarnya dengan sesuatu apapun dan akan kita gunakan untuk apa itu?" Beliau bertanya lagi: "Sukakah engkau semua kalau ini diberikan (gratis) saja padamu." Orang-orang menjawab: "Demi Allah, andaikata kambing itu hidup, tentunya juga cacat karena ia kecil telinganya. Jadi apa harganya lagi setelah kambing itu mati?" Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada kambing ini bagimu semua." (Riwayat Muslim) 

Baca juga:  Kehidupan dunia bagai musafir atau perantau

Kehinaan dunia sesungguhnya tidak tampak oleh kaca mata kita kaum awam. Kita tidak pernah menyadari bahwa dunia ini lebih hina dari bangkai. Seakan dunia menawarakan sejuta pesona keabadian, yang sebenarnya itu adalah rongrongan setan dan iblis untuk menyesatka umat manusia.

Maka oleh sebab itu, jadilah hamba yang memiliki peran yang baik didunia ini dan mendapat predikat terbaik di sisi Allah SWT. karena sesunggnya setiap amalan akan dipertanyakan oleh Allah SWT. tidak akan ada satupun yang tertinggal karena semunya telah dicatat oleh malaikat-malaikat Allah. Pertanyaan pertanyaan itu akan ditanyakan kepada siapapun, baik laki-laki mauhupun perempuan, baik yang kaya mahupun yang miskin. Karena siapapun anak Adam akan dipertanyakan pada hari kiamat nanti. Pertanyaan apakah itu? Rasulullah bersabda,

Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan. (HR. Ahmad)

Semua itu menyangkut dengan dunia, dunia, dan dunia, semuanya tentang kehidupan dunia. Kehidupan dunia hanya akan memberatkan apabila amalan shalih kita kurang dan senantiasa selalu terperdaya oleh harta. Maka oleh sebab itu, mulailah suatu yang baik dari sekarang. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Dan semoga Allah selalu memberikan petunjuk nya kepada kita. Aamiin aamiin yarabbal ‘alamiin.

Artikel terkait : Amal perbuatan manusia sebagi bekal menuju akhirat

Wednesday, 6 May 2015

Alasan Ilmiah Mengapa Rasulullah SAW Melarang Meniup Makanan dan Minuman

Makan dan minum merupakan hal yang tidak asing lagi bagi kita dan merupakan yang kita butuhkan sehari-hari. Baik itu berupa makanan ringan atau berupa nasi yang merupakan kebutuhan pokok setiap hari. Begitu juga dengan minuman, baik berupa yang panas atupun dingin. Seperti kopi atau teh dan sebagianya.

Jika dalam keadaaan cuaca panas, kebanyakan orang mencari makanan atau minuman dingin untuk menyegarkan kembali stamina dan menyeimbangkan suhu tubuh. Begitu juga kala dingin, kebanyakan dari kita mencari santapan-santapan yang panas agar manghangantkan tubuh. Atau juga ada sebagian yang menyantap makanan panas ketika cuaca panas. Maka untuk mendinginkan makanan tersebut mereka menghembusnya dengan mulut. Harus kita ketahui bahwa Rasulullah SAW. Sangat melarang menghembus atau meniup makanan dengan mulut atau bernafas didalam wadah sebagaimana dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh abu dawud berikut ini,

Rasulullah Saw melarang orang meniup-niup makanan atau minuman. (HR. Abu Dawud)

Maka hendaknya makanan atau minuman tersebut didiamkan saja atau didinginkan dengan metode lainnya selain dengan meniup langsung dengan mulut, misalnya dengan fan (kipas angin).

Dalam suatu kisah pada zaman Rasulullah SAW. Ada seorang lelaki berkata: "Ada kotoran mata yang saya lihat di dalam wadah itu." Beliau s.a.w. bersabda: "Alirkanlah (sehingga kotoran itu hilang)." Orang itu berkata lagi: "Sesungguhnya saya ini belum merasa puas minum dari sekali nafas." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Kalau begitu singkirkanlah dulu wadahnya itu dari mulutmu (dan bernafaslah di luar wadah)."

Maksud singkirkan adalah bernafas didalam wadah yang kita minum. Jika diatas dijelaskan masalah meniup makanan atau minuman maka sama halnya dengan bernafas didalam wadah. Karena yang kita keluarka sewaktu bernafas dan menghembus adalah CO2 atau Karbon Dioksida.

Alasan Ilmiah Mengapa Rasulullah SAW Melarang Meniup Makanan, bahaya meniup makanan, menguak rahasia hadits rasulullah SAW
Jadi Rasulullah SAW. telah menjelaskan dalam haditsnya untuk tidak menghirup atau mengelurkan nafas di dalam wadah, baik itu dari hidung maupun dari mulut ke dalam gelas yang kita gunakan untuk minum atau kedalam makanan yang sedang kita makan. Rasulullah SAW. adalah utusan Allah SWT. yang beliau sampaikan tentu memiliki manfaat untuk umat-umatnya. Telah di buktikan sekarang, setelah diteliti dari segi ilmu pengetahuan modern dan juga telah kita ketahui bersama, ternyata napas kita mengeluarkan CO2 (gas karbon dioksida), sedangkan kita bernapas memerlukan O2 (gas oksigen), sewaktu kita bernafas dalam wadah yanag mana mulut, hidung dan muka kita menutupi tersebut, kita akan menghirup kembali gas CO2. Apalagi secara reaksi kimia, bila CO2 digabung dengan air (H2O), maka akan membentuk senyawa kimia H2CO3, sehingga lebih berbahaya lagi baik untuk diminum, maupun dihirup. Seringkali ada orang yang meniup air minum dalam keadaan panas, padahal itu berbahaya buat kesehatan, karena H2O tersebut dalam keadaan menguap, tentu saja langsung bereaksi, dan senyawa bentukannya ini bersifat korosif (karena asam karbonat membuat besi dan logam menjadi berkarat). ada baiknya air minum atau makan itu ditunggu dingin saja, atau dikipas-kipas, jangan ditiup oleh mulut kita. Subhanallah, kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa harus membuktikannya.

Sungguh sangat banyak hikmah yang diajarkan Rasulullah kepada kita semua yang mengandung berjuta manfaat. Semoga Allah SWT. selalu menuntun kita kepada jalan-Nya. Aamiin aamiin yaa rabbal 'aalamiin.

Monday, 4 May 2015

Asal Mula Azan dan Iqamah

Azan adalah suatau lantunan yang tidak asing muslim. Apalagi 5 waktu dari 24 jam sehari setiap pelosok desa dan surau-surau mengumandangkan alunan suci tersebut. Alunan yang dikumandangkan hampir dua kali- dua kali semua lafadnya itu merupakan lantunan yang ditentukan untuk memanggil seluruh ummat islam untuk melaksanakn shalat atau memberitahu bahwa waktu shalat sudah tiba.

Perbedaan antara azan dan iqamah, Azan merupakan kalimat-kalimat yang tertentu untuk seruan waktu shalat sudah tiba. Sedangkan iqamah adalah kalimat-kalimat yang diserukan sebagai tanda bahwa shalat akan dimulai.

Asal Mula Azan dan Iqamah, Perbedaan anatara azan dan iqamah, Shalat-shlat sunnat tidak disunnnatkan untuk menyerukan adzan dan iqamah, kecuali shalat-shalat sunnat yang disunnatkan berjama’ah
Shalat-shlat sunnat tidak disunnnatkan untuk menyerukan adzan dan iqamah, kecuali shalat-shalat sunnat yang disunnatkan berjama’ah, seperti shalat tarawih, shalat ‘ied, shalat gerhana/ qusuf, shalat istisqa (shalat minta hujan), dan lain-lainya.

Seiring dengan perjalanan waktu, pergantian antara siang dengan malam, tahun dengan windu, Lantunan Azan masihlah sama sejak pertama sekali dikumandangkan oleh bilal. Mengapa bilal? Mari sahabat beriman simak hadits berikut,

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ هَمَّ بِالْبُوقِ وَأَمَرَ بِالنَّاقُوسِ فَنُحِتَ فَأُرِيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ فِي الْمَنَامِ قَالَ رَأَيْتُ رَجُلًا عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فَقُلْتُ لَهُ يَا عَبْدَ اللَّهِ تَبِيعُ النَّاقُوسَ قَالَ وَمَا تَصْنَعُ بِهِ قُلْتُ أُنَادِي بِهِ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ أَفَلَا أَدُلُّكَ عَلَى خَيْرٍ مِنْ ذَلِكَ قُلْتُ وَمَا هُوَ قَالَ تَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَخَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ بِمَا رَأَى قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ رَجُلًا عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فَقَصَّ عَلَيْهِ الْخَبَرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ صَاحِبَكُمْ قَدْ رَأَى رُؤْيَا فَاخْرُجْ مَعَ بِلَالٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأَلْقِهَا عَلَيْهِ وَلْيُنَادِ بِلَالٌ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ قَالَ فَخَرَجْتُ مَعَ بِلَالٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَعَلْتُ أُلْقِيهَا عَلَيْهِ وَهُوَ يُنَادِي بِهَا فَسَمِعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ بِالصَّوْتِ فَخَرَجَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ الَّذِي رَأَى 

Dari Abdullah bin Zaid, dia berkata, "Rasulullah SAW pernah menginginkan sebuah buq (tanduk untuk ditiup -ed) dan memerintahkan (untuk dibuatkan) naqus (sejenis kentungan -ed), lalu dibuatkan." Abdullah bin Zaid pernah bermimpi, ia berkata, "Aku melihat seorang laki-laki yang memakai dua pakaian hijau membawa naqus, lalu aku bertanya kepadanya, 'Wahai hamba Allah! Apakah engkau mau menjual naqus itu?' Ia menjawab, 'Apa yang ingin kamu perbuat dengan naqus ini?' Aku berkata, 'Untuk ku pakai menyeru kepada shalat'. Lelaki tersebut berkata, 'Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih baik dari itu?' Aku menjawab, 'Apakah itu?' Ia berkata, 'Ucapkan olehmu; Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Asyhadu an laa ilaha illallah, asyhadu an laa ilaha illallah. Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Hayya alash-shalah, hayya alash-shalah. Hayya alal falah, hayya alal falah. Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaha illallah (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah. Mari kita shalat, mari kita shalat. Mari kita raih kemenangan, mari kita raih kemenangan. Allahu Maha Besar, Allahu Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah)'." Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Zaid keluar mendatangi Rasulullah SAW untuk mengabarkan apa yang diimpikannya tersebut. Ia berkata, "Wahai Rasulullah! Aku bermimpi melihat seorang laki-laki memakai dua pakaian berwarna hijau dan membawa naqus." Kemudian Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya secara lengkap kepada Rasulullah, maka Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya teman kalian telah memimpikan sesuatu, pergilah bersama Bilal ke masjid dan sampaikanlah lafazh adzan tersebut kepadanya; dan biarkan Bilal mengumandangkan lafazh itu, karena Bilal bersuara lebih nyaring dari kalian." Abdullah bin Zaid melanjutkan, "Maka aku pun keluar bersama Bilal ke masjid, lalu saya sampaikan kepadanya dan dia pun mengumandangkan lafazh itu." Ia kembali berkata, "Maka ketika Umar bin Khaththab mendengar suara tersebut, ia lantas keluar dan berkata, 'Wahai Rasulullah! Demi Allah, aku telah memimpikan hal itu sabagaimana yang ia impikan'." Hasan: Al Irwa' (246), Al Misykah (650), Ats-Tsamr Al Mustathab.(shahih ibnu majah nomor: 713.

Dalam riwayah lain,

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلَاةَ لَيْسَ يُنَادَى لَهَا فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلَا تَبْعَثُونَ رَجُلًا يُنَادِي بِالصَّلَاةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بِلَالُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلَاةِ 
  Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku Nafi' bahwa Ibnu 'Umar berkata, "Ketika Kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk shalat dengan cara memperkirakan waktunya, dan tidak ada panggilan untuk pelaksanaan shalat. Suatu hari mereka memperbincangkan masalah tersebut, di antara mereka ada yang mengusulkan lonceng seperi loncengnya Kaum Nashrani dan sebagaian lain mengusulkan untuk meniup terampet sebagaimana Kaum Yahudi. Maka 'Umar pun berkata, "Mengapa tidak kalian suruh seseorang untuk mengumandangkan panggilan shalat?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "Wahai Bilal, bangkit dan serukanlah panggilan shalat." (shahih Bukhari Nomor: 569)

Dari kedua hadits diatas jelas bahwa orang yang pertama sekali mengumandangkan azan adalah seseorang sahabat Rasulullah yang bernama Bilal. Selain orang yang pertama mengumandangkan azan yang dijelasakan dalam hadits di atas, disana ada juga penjelasan mengapa azan adalah Panggilan untuk shalat bagi ummat muslim atau panggilan tanda masuk waktu untuk menegerjakan shalat bagi seluruh muslim di seluruh muka bumi. Pada hadits pertama dijelaskan bahwa pertama kalinya seruan itu dimimpikan oleh sahabat Rasulullah bernama Abdullah bin Zaid yang pada kemudian langsung menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah, dan umar Ibnu khattab juga menjelaskan bahwa ia juga pernah dimimpikan dengan hal yang serupa.

Dalam hadits kedua ,Yang mana  pada pertama kalinya para sahabat kebingungan dalam hal pemanggilan atau pemeberitahuan tanda masuknya waktu. Ada diantara sahabat yang mengusulkan pemanggilan peribadatan sebagai mana yang dilakukan oleh orang Nasrani yaitu menggunakan lonceng dan ada pula yang menganjurkan untuk memanggil ummat muslim seperti halnnya dilakukan oleh ummat Yahudi yaitu dengan meniup terompet. Hingga pada akhirnya Nabi saw. Memerintahkan bilal untuk mengumanadangkan azan.

Kemudian daripada itu, kita mungkin pernah melihat orang yang mulutnya komat kamit ketika dikumandangkannya seruan azan. Apakah mereka membaca mantra? Ataukah membaca doa? Atau pun sedang bernyanyi. Maka dalam hal ini akan kita jelaskan bahwa mereka sedang menjawab adzan. Apakah itu sebuah sunnah? Ya, Kita disunnah kan untuk menjawab apa yang dikumandangkan ataupun di ucapakan oleh mu’azin. Dari semenjak lantunan Adzan dimulai samapai dengan akhir adzan. Mari kita simak hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari 'Atha bin Yazid Al Laitsi dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu'adzin."( shahih Bukahri nomor: 576)

Sangat jelas sekali bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk menjawab setiap lantunan azan. Maka oleh sebab itu, ketika kita sedang bekerja maka berhentilah berkerja, ketika kita sedang melakukan seuatu kegiatan hentikan kegiatan itu, ketika kita menghidupkan televisi matikan atau kecilkan volume atau suara televisi bahkan jika berjalan kita disunnah kan untuk berhenti, jika kita berdiri maka duduklah kita dan jika kita duduk maka diamlah kita, demikian untuk menghormati dan mendengan seruan adzan.

Namun apakah kita harus mngucapkan apa yang diucapakan mu’adzin? Mungkin sahabat beriman juga pernah mengalami hal yang seperti ini, yang mana sahabat sudah tahu bahwa kita harus menjawab ucapan adzan sebagaimana mu’adzin tapi suatu ketika melihat seseorang yang mengucapkan sesuatu yang berbeda ketika ucapan HAYYA’ALASHALAH dan HAYYA’ALALFALAH. Mungkin sahabat beriman bingung dan penasaran apa yang diucapakan tersebut. Apakah mereka mengucapakan doa atau bagaimana, kan begitu? Nah untuk menjelaskan hal tersebut, marilah kita simak lagi suatu riwayat berdasarkan sabda nabi  SAW berikut ini:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى نَحْوَهُ قَالَ يَحْيَى وَحَدَّثَنِي بَعْضُ إِخْوَانِنَا أَنَّهُ قَالَ لَمَّا قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ وَقَالَ هَكَذَا سَمِعْنَا نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

  10.11/578. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Rahawaih berkata, telah menceritakan kepada kami Wahab bin Jarir berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya seperti itu, Yahya berkata, dan telah menceritakan kepadaku Sebagian saudara kami bahwa dia berkata, Jika mu'adzin mengucapkan, 'Hayya 'Alash shalah '(Marilah melaksanakan shalat) ', dia menjawab, Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah '(Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah) '. Dia berkata, Demikianlah kami mendengar Nabi kalian shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.

Taka dapat disangkal bahwa, apa yang mereka ucapakan ketika lantunan HAYYA’ALASHALAH dan HAYYA’ALALFALAH tersebut adalah Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah '(Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah). Nah mengapa kita mengucapakan kalimat ini sedangkan pada lantunan adzan lain kita hanya disunnahkan untuk menjawab apa yang diucapakan oleh mu’adzin. Mari kita lihat dulu apa sih terjemahan dari HAYYA’ALASHALAH dan HAYYA’ALALFALAH tersebut.

HAYYA’ALASHALAH = MARI KITA MENUNAIKAN SHALAT
HAYYA’ALALFALAH = MARI KITA MENUJU KEMEMENAGAN

Dari penjelasan atau arti kata diatas dapat kita simpulkan bahwa, ucapan  tersebut adalah ucapan yang bersifat merendahkan diri (tawadhu’) kepada Allah SWT. Yang mana maksudnya adalah kita hanya hamba yang lemah dan semua yang terjadi adalah karena Allah SWT..

ucapan ini juga menghindarkan kita dari sifat takabur (sombong). Mengapa demikian, karena seperti yang telah kita jelasakan tadi, ini adalah ucapan untuk merendahkan diri kita kepada Allah dan bentuk berserah diri kita kepada Allah SWT.  karena kita tahu bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa diatas segalanya.

Usikumbinafsih bitqwallah. Semoga Allah selalu membimbing kita, aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

 Artikel terkait : Keutamaan-keutamaan Azan, Iqamah, dan Muazin