Monday, 4 May 2015

Asal Mula Azan dan Iqamah

Azan adalah suatau lantunan yang tidak asing muslim. Apalagi 5 waktu dari 24 jam sehari setiap pelosok desa dan surau-surau mengumandangkan alunan suci tersebut. Alunan yang dikumandangkan hampir dua kali- dua kali semua lafadnya itu merupakan lantunan yang ditentukan untuk memanggil seluruh ummat islam untuk melaksanakn shalat atau memberitahu bahwa waktu shalat sudah tiba.

Perbedaan antara azan dan iqamah, Azan merupakan kalimat-kalimat yang tertentu untuk seruan waktu shalat sudah tiba. Sedangkan iqamah adalah kalimat-kalimat yang diserukan sebagai tanda bahwa shalat akan dimulai.

Asal Mula Azan dan Iqamah, Perbedaan anatara azan dan iqamah, Shalat-shlat sunnat tidak disunnnatkan untuk menyerukan adzan dan iqamah, kecuali shalat-shalat sunnat yang disunnatkan berjama’ah
Shalat-shlat sunnat tidak disunnnatkan untuk menyerukan adzan dan iqamah, kecuali shalat-shalat sunnat yang disunnatkan berjama’ah, seperti shalat tarawih, shalat ‘ied, shalat gerhana/ qusuf, shalat istisqa (shalat minta hujan), dan lain-lainya.

Seiring dengan perjalanan waktu, pergantian antara siang dengan malam, tahun dengan windu, Lantunan Azan masihlah sama sejak pertama sekali dikumandangkan oleh bilal. Mengapa bilal? Mari sahabat beriman simak hadits berikut,

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ هَمَّ بِالْبُوقِ وَأَمَرَ بِالنَّاقُوسِ فَنُحِتَ فَأُرِيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ فِي الْمَنَامِ قَالَ رَأَيْتُ رَجُلًا عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فَقُلْتُ لَهُ يَا عَبْدَ اللَّهِ تَبِيعُ النَّاقُوسَ قَالَ وَمَا تَصْنَعُ بِهِ قُلْتُ أُنَادِي بِهِ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ أَفَلَا أَدُلُّكَ عَلَى خَيْرٍ مِنْ ذَلِكَ قُلْتُ وَمَا هُوَ قَالَ تَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَخَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ بِمَا رَأَى قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ رَجُلًا عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فَقَصَّ عَلَيْهِ الْخَبَرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ صَاحِبَكُمْ قَدْ رَأَى رُؤْيَا فَاخْرُجْ مَعَ بِلَالٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأَلْقِهَا عَلَيْهِ وَلْيُنَادِ بِلَالٌ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ قَالَ فَخَرَجْتُ مَعَ بِلَالٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَعَلْتُ أُلْقِيهَا عَلَيْهِ وَهُوَ يُنَادِي بِهَا فَسَمِعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ بِالصَّوْتِ فَخَرَجَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ الَّذِي رَأَى 

Dari Abdullah bin Zaid, dia berkata, "Rasulullah SAW pernah menginginkan sebuah buq (tanduk untuk ditiup -ed) dan memerintahkan (untuk dibuatkan) naqus (sejenis kentungan -ed), lalu dibuatkan." Abdullah bin Zaid pernah bermimpi, ia berkata, "Aku melihat seorang laki-laki yang memakai dua pakaian hijau membawa naqus, lalu aku bertanya kepadanya, 'Wahai hamba Allah! Apakah engkau mau menjual naqus itu?' Ia menjawab, 'Apa yang ingin kamu perbuat dengan naqus ini?' Aku berkata, 'Untuk ku pakai menyeru kepada shalat'. Lelaki tersebut berkata, 'Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih baik dari itu?' Aku menjawab, 'Apakah itu?' Ia berkata, 'Ucapkan olehmu; Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Asyhadu an laa ilaha illallah, asyhadu an laa ilaha illallah. Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Hayya alash-shalah, hayya alash-shalah. Hayya alal falah, hayya alal falah. Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaha illallah (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah. Mari kita shalat, mari kita shalat. Mari kita raih kemenangan, mari kita raih kemenangan. Allahu Maha Besar, Allahu Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah)'." Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Zaid keluar mendatangi Rasulullah SAW untuk mengabarkan apa yang diimpikannya tersebut. Ia berkata, "Wahai Rasulullah! Aku bermimpi melihat seorang laki-laki memakai dua pakaian berwarna hijau dan membawa naqus." Kemudian Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya secara lengkap kepada Rasulullah, maka Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya teman kalian telah memimpikan sesuatu, pergilah bersama Bilal ke masjid dan sampaikanlah lafazh adzan tersebut kepadanya; dan biarkan Bilal mengumandangkan lafazh itu, karena Bilal bersuara lebih nyaring dari kalian." Abdullah bin Zaid melanjutkan, "Maka aku pun keluar bersama Bilal ke masjid, lalu saya sampaikan kepadanya dan dia pun mengumandangkan lafazh itu." Ia kembali berkata, "Maka ketika Umar bin Khaththab mendengar suara tersebut, ia lantas keluar dan berkata, 'Wahai Rasulullah! Demi Allah, aku telah memimpikan hal itu sabagaimana yang ia impikan'." Hasan: Al Irwa' (246), Al Misykah (650), Ats-Tsamr Al Mustathab.(shahih ibnu majah nomor: 713.

Dalam riwayah lain,

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلَاةَ لَيْسَ يُنَادَى لَهَا فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلَا تَبْعَثُونَ رَجُلًا يُنَادِي بِالصَّلَاةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بِلَالُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلَاةِ 
  Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku Nafi' bahwa Ibnu 'Umar berkata, "Ketika Kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk shalat dengan cara memperkirakan waktunya, dan tidak ada panggilan untuk pelaksanaan shalat. Suatu hari mereka memperbincangkan masalah tersebut, di antara mereka ada yang mengusulkan lonceng seperi loncengnya Kaum Nashrani dan sebagaian lain mengusulkan untuk meniup terampet sebagaimana Kaum Yahudi. Maka 'Umar pun berkata, "Mengapa tidak kalian suruh seseorang untuk mengumandangkan panggilan shalat?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "Wahai Bilal, bangkit dan serukanlah panggilan shalat." (shahih Bukhari Nomor: 569)

Dari kedua hadits diatas jelas bahwa orang yang pertama sekali mengumandangkan azan adalah seseorang sahabat Rasulullah yang bernama Bilal. Selain orang yang pertama mengumandangkan azan yang dijelasakan dalam hadits di atas, disana ada juga penjelasan mengapa azan adalah Panggilan untuk shalat bagi ummat muslim atau panggilan tanda masuk waktu untuk menegerjakan shalat bagi seluruh muslim di seluruh muka bumi. Pada hadits pertama dijelaskan bahwa pertama kalinya seruan itu dimimpikan oleh sahabat Rasulullah bernama Abdullah bin Zaid yang pada kemudian langsung menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah, dan umar Ibnu khattab juga menjelaskan bahwa ia juga pernah dimimpikan dengan hal yang serupa.

Dalam hadits kedua ,Yang mana  pada pertama kalinya para sahabat kebingungan dalam hal pemanggilan atau pemeberitahuan tanda masuknya waktu. Ada diantara sahabat yang mengusulkan pemanggilan peribadatan sebagai mana yang dilakukan oleh orang Nasrani yaitu menggunakan lonceng dan ada pula yang menganjurkan untuk memanggil ummat muslim seperti halnnya dilakukan oleh ummat Yahudi yaitu dengan meniup terompet. Hingga pada akhirnya Nabi saw. Memerintahkan bilal untuk mengumanadangkan azan.

Kemudian daripada itu, kita mungkin pernah melihat orang yang mulutnya komat kamit ketika dikumandangkannya seruan azan. Apakah mereka membaca mantra? Ataukah membaca doa? Atau pun sedang bernyanyi. Maka dalam hal ini akan kita jelaskan bahwa mereka sedang menjawab adzan. Apakah itu sebuah sunnah? Ya, Kita disunnah kan untuk menjawab apa yang dikumandangkan ataupun di ucapakan oleh mu’azin. Dari semenjak lantunan Adzan dimulai samapai dengan akhir adzan. Mari kita simak hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari 'Atha bin Yazid Al Laitsi dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu'adzin."( shahih Bukahri nomor: 576)

Sangat jelas sekali bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk menjawab setiap lantunan azan. Maka oleh sebab itu, ketika kita sedang bekerja maka berhentilah berkerja, ketika kita sedang melakukan seuatu kegiatan hentikan kegiatan itu, ketika kita menghidupkan televisi matikan atau kecilkan volume atau suara televisi bahkan jika berjalan kita disunnah kan untuk berhenti, jika kita berdiri maka duduklah kita dan jika kita duduk maka diamlah kita, demikian untuk menghormati dan mendengan seruan adzan.

Namun apakah kita harus mngucapkan apa yang diucapakan mu’adzin? Mungkin sahabat beriman juga pernah mengalami hal yang seperti ini, yang mana sahabat sudah tahu bahwa kita harus menjawab ucapan adzan sebagaimana mu’adzin tapi suatu ketika melihat seseorang yang mengucapkan sesuatu yang berbeda ketika ucapan HAYYA’ALASHALAH dan HAYYA’ALALFALAH. Mungkin sahabat beriman bingung dan penasaran apa yang diucapakan tersebut. Apakah mereka mengucapakan doa atau bagaimana, kan begitu? Nah untuk menjelaskan hal tersebut, marilah kita simak lagi suatu riwayat berdasarkan sabda nabi  SAW berikut ini:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى نَحْوَهُ قَالَ يَحْيَى وَحَدَّثَنِي بَعْضُ إِخْوَانِنَا أَنَّهُ قَالَ لَمَّا قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ وَقَالَ هَكَذَا سَمِعْنَا نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

  10.11/578. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Rahawaih berkata, telah menceritakan kepada kami Wahab bin Jarir berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya seperti itu, Yahya berkata, dan telah menceritakan kepadaku Sebagian saudara kami bahwa dia berkata, Jika mu'adzin mengucapkan, 'Hayya 'Alash shalah '(Marilah melaksanakan shalat) ', dia menjawab, Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah '(Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah) '. Dia berkata, Demikianlah kami mendengar Nabi kalian shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.

Taka dapat disangkal bahwa, apa yang mereka ucapakan ketika lantunan HAYYA’ALASHALAH dan HAYYA’ALALFALAH tersebut adalah Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah '(Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah). Nah mengapa kita mengucapakan kalimat ini sedangkan pada lantunan adzan lain kita hanya disunnahkan untuk menjawab apa yang diucapakan oleh mu’adzin. Mari kita lihat dulu apa sih terjemahan dari HAYYA’ALASHALAH dan HAYYA’ALALFALAH tersebut.

HAYYA’ALASHALAH = MARI KITA MENUNAIKAN SHALAT
HAYYA’ALALFALAH = MARI KITA MENUJU KEMEMENAGAN

Dari penjelasan atau arti kata diatas dapat kita simpulkan bahwa, ucapan  tersebut adalah ucapan yang bersifat merendahkan diri (tawadhu’) kepada Allah SWT. Yang mana maksudnya adalah kita hanya hamba yang lemah dan semua yang terjadi adalah karena Allah SWT..

ucapan ini juga menghindarkan kita dari sifat takabur (sombong). Mengapa demikian, karena seperti yang telah kita jelasakan tadi, ini adalah ucapan untuk merendahkan diri kita kepada Allah dan bentuk berserah diri kita kepada Allah SWT.  karena kita tahu bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa diatas segalanya.

Usikumbinafsih bitqwallah. Semoga Allah selalu membimbing kita, aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

 Artikel terkait : Keutamaan-keutamaan Azan, Iqamah, dan Muazin

No comments:

Post a Comment