Monday, 24 August 2015

Berbakti kepada Orang Tua (Ayah dan Ibu) adalah Kewajiban Seorang Anak

Ibu dan  ayah adalah sosok-sosok yang sangat penting dalam kehidupan ini. mereka adalah tempat kita berkasih dan sayang dalam keluarga. Sangat banyak orang dalam dunia ini yang tidak mempunyai ayah dan ibu lagi yaitu anak yatim, mereka sangat membutuhkannya dan terkadang mereka iri terhadap apa yang mereka lihat pada orang lain. Begitu pula dengan orang yang mememiliki ayah dan ibunya namun mendurhakainya. Dan mereka yang mendurhaiakanya (kedua ibu dan bapak) adalah mereka yang tidak bersyukur.

Artikel terkait: Anak yatim dan menyantuninya dengan baik

Memiliki ayah dan ibu adalah sebuah anugrah karena kebanyakan orang yang kehilangan mereka akan kehilangan pula semangat hidupnnya. Namun apa hendak dikata, Allah swt. sudah menentukan usia setiap hamba-Nya. Maka oleh sebab itu, selama mereka masih menghela nafas, menjejaki kehidupan ini bersama dengan kita, jangan segan-segan dan menyisihakan waktu untuk berbakti kepada keduanya. Karena saat mereka sudah tiada lagi didunia ini, maka semuanya akan terasa terlambat.


Pernah suatu kejadian dalam kisah nabi Muhammad saw. Ketika  hendak melaksanakan peperangan dengan kaum musyrikin. Seperti dijelaskan dalam hadis berikut ini,

Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash Radhiallahu 'anhuma, katanya: "Ada seorang lelaki menghadap Nabi SAW. lalu berkata: "Saya berbai'at kepada Tuan untuk ikut berhijrah serta berjihad yang saya tujukan untuk mencari pahala dari Allah Ta'ala." Beliau bertanya: "Apakah salah seorang dari kedua orangtuamu itu masih ada yang hidup?" Orang itu menjawab: "Ya, bahkan keduanya masih hidup." Beliau bersabda: "Apakah maksudmu hendak mencari pahala dari Allah Ta'ala?" Ia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Kalau begitu kembali sajalah ke tempat kedua orangtuamu, lalu berbuat baiklah dalam mengawani keduanya itu." (Muttafaq 'alaih)

Rasulullah Saw. menyuruh anak ini pulang lantaran orangtua dari anak ini masih hidup dan masih dibutuhkan oleh orang tuanya. Bisa saja dalam menafkahkan orang tua atau dalam hal yang lain apabila dibutuhkan oleh keduannya. Apalagi jika orang tua telah beranjak umur senja, apakah kita akan tega meninggalkanya? 

Bukanlah hal yang sepele dalam merawat dan berbakti kepada orang tua. Bayangkan orang tua yang merawat kita sepanjang usia, menyapihnya waktu dalam waktu yang lama bahkan ada yang merawat seorang anak sampai dia pulang ke Rahmatullah. Seperti dalam firman Allah berikut ini,

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍۢ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. (surat Luqman : 14)
Berbakti kepada Orang Tua (Ayah dan Ibu) adalah Kewajiban Seorang Anak

Bukan hanya sekedar rasa lemah yang dirasakan seorang ibu,  bahkan ibulah yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk kita. Ibulah orang yang pertama sekali yang berani mempertaruhkan hidupnya untuk kita. Bahkan ketika dia belum melihat wajah kita. Ibu adalah orang yang pertama sekali mencintai kita sejak kita berada dalam kandungan. Maka, jika sahabat pernah bertekad untuk memepertruhkan hidup sahabat kepada wanita selain ibu, baik itu pacar atau sebagainya, fikirkan lagi. Ingatlah siapa yang pertama kali memepertaruhkan hidupnya untuk kita. Maka jelaslah mengapa ibu itu diutamakan dalam kehidupan kita khususnya dalam agama yang kita cintai ini, seperti sabda rasulullah saw berikut ini,

Dari Abu Hurairah r.a. lagi, katanya: "Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w. lalu berkata: "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya persahabati dengan sebaik-baiknya (yakni siapakah yang lebih utama untuk dihubungi secara sebaik-baiknya?)" Beliau menjawab: "Ibumu." Ia bertanya lagi: "Lalu siapakah?" Beliau menjawab: "Ibumu." Orang itu sekali lagi bertanya: "Kemudian siapakah?" Beliau menjawab lagi: "Ibumu." Orang tadi bertanya pula: "Kemudian siapa lagi." Beliau menjawab: "Ayahmu." (Muttafaq 'alaih)

Nabi SAW. Menyebut nama ibu tiga kali dibandingkan ayah. Namun demikian, kita juga wajib berbakti kepada ayah yang mana beliau yang mencari nafkah untuk kita. Susah dan senang beliau lalui untuk memberikan nafkah kita dan keluarga. Tidak peduli dengan matahari yang panasnya mengobrak-abrik dan mencakar kulitnya, tidak peduli malam yang dengan penuh pesona merayu untuk memejamkan mata tapi beliau  tetap berikhtiar dan bermunajat kepada Allah untuk mencari rezki yang akan diperesembahkan untuk keluarga.

Allal SWT. banyak menganjurkan kita untuk senantiasa berbakti kepada kedua ibu dan bapak dan bahkan meralang menyakiti hati mereka, friman Allah SWT dalam surat Al Isaraa ayat 23,

وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّۢ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًۭا كَرِيمًۭا

Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Isra ayat 23)

mengatakan 'ah' saja Allah sangat melarangnya apalagi membentak-bentak keduanya yang bahkan dapat membuat hatinya luluh dan hancur. Lain lagi ceritanya dengan membuat zalim  kepada kedua mereka, bisa jadi anak durhaka nantinya dan akan mendapatkan azab Allah SWT.. Jangankan seorang ibu adalah seorang yang muslim, bahkan jika ibu adalah seoarang yang musyrik Rasulullah SAW. Juga menganjurakan untuk berbakti kepadanya

Hadis riwayat   Asma ra., ia berkata:
Aku bertanya kepada Rasulullah saw.: Wahai Rasulullah, ibuku (seorang musyrik) datang kepadaku mengharap bakti dariku. Apakah aku harus berbakti kepadanya? Rasulullah saw. bersabda: Ya (Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 1670)

Karena sesungguhnya apapun yang kita lakukan dan kita perbuat harus mendapat restu orang tua. Seperti sabda Rasulullah SAW. beikur ini,

Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

Akan tetapi, apabila orang tua mengajak kepada kemungkaran atau menyuruh kepada kejelekan. Seperti contoh mencuri atau menduakan Allah SWT. (Musyrik) maka dalam hal demikian kita tidak harus menurutinya. Karena Allah SWT. telah mengatakan dalam firman-Nya

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al- Luqman ayat :14)

Kaum muslimin yang berbahagia,

Banyak keistimewaan dalam berbakti kepada kedua orang tua, seperti yang dikisahkan dalam hadits berikut ini tentang Uwais bin ‘Amir. Dia adalah seorang yang berbakti kepada orang tuanya sehingga Allah mengabulkan setiap daonya. Utuk lebih jelasnya marilah kita simak kisah berikut ini,

Dari Usair bin Amr, ada yang mengatakan bahwa ia adalah bin Jabir - dengan Dhammahnya Hamzah dan Fathahnya Sin Muhmalah, katanya: "Umar bin Alkhaththab ketika didatangi oleh sepasukan pembantu (dalam peperangan) dari golongan penduduk Yaman, lalu ia bertanya kepada mereka: "Adakah di antaramu semua seorang yang bernama Uwais bin 'Amir?" Akhirnya sampailah Uwais itu ada di mukanya, lalu Umar bertanya: "Adakah anda bernama Uwais." Uwais menjawab: "Ya." Ia bertanya lagi: "Benarkah dari keturunan kabilah Murad dari lingkungan suku Qaran?" Ia menjawab: "Ya." Ia bertanya pula: "Adakah anda mempunyai penyakit supak, kemudian anda sembuh daripadanya, kecuali hanya di suatu tempat sebesar uang dirham?" Ia menjawab: "Ya." Ia bertanya lagi: "Adakah anda mempunyai seorang ibu?" Ia menjawab: "Ya." Umar lalu berkata: "Saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Akan datang padamu semua seorang bernama Uwais bin 'Amir beserta sepasukan mujahidin dari ahli Yaman, ia dari keturunan Murad dari Qaran. Ia mempunyai penyakit supak lalu sembuh dari Penyakitnya itu kecuali di suatu tempat sebesar uang dirham. Ia juga mempunyai seorang ibu yang ia amat berbakti padanya. Andai kata orang itu bersumpah akan sesuatu atas nama Allah, pasti Allah akan melaksanakan sumpahnya itu (dengan sebab amat berbaktinya terhadap ibunya itu). Maka jikalau engkau kuasa meminta padanya agar ia memintakan pengampunan (kepada Allah)  untukmu, maka lakukanlah itu!" Oleh sebab itu, mohonkanlah pengampunan kepada Allah  (untukku). Uwais lalu memohonkan pengampunan untuk Umar. Selanjutnya Umar bertanya lagi: "Ke manakah anda hendak pergi?" Ia menjawab: "Ke Kufah." Umar berkata: "Sukakah anda, sekiranya saya menulis (sepucuk surat) kepada gebernur Kufah - agar anda dapat sambutan dan pertolongan yang diperlukan." Ia menjawab: "Saya lebih senang menjadi golongan manusia yang fakir-miskin."

Setelah tiba tahun mukanya, ada seorang dari golongan bangsawan Kufah berhaji, lalu kebetulan ia menemui Umar, kemudian Umar menanyakan padanya perihal Uwais. Orang itu menjawab: Sewaktu saya tinggalkan, ia dalam keadaan buruk rumahnya lagi sedikit barangnya (maksudnya sangat menderita.)" Umar lalu berkata: "Saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Akan datang padamu semua seorang bernama Uwais bin 'Amir beserta sepasukan mujahidin dari ahli Yaman, ia dari keturunan Murad dari Qaran. Ia mempunyai penyakit supak lalu sembuh dari penyakitnya itu kecuali di suatu tempat sebesar wang dirham. Ia juga mempunyai seorang ibu yang ia amat berbakti padanya. Andaikata orang itu bersumpah akan sesuatu atas nama Allah, pasti Allah akan melaksanakan sumpahnya itu. Maka jikalau engkau kuasa meminta padanya agar ia memintakan pengampunan (kepada Allah untukmu), maka lakukan itu!" Orang bangsawan itu lalu mendatangi Uwais dan berkata: "Mohonkanlah pengampunan (kepada Allah) untukku. Uwais berkata: "Anda masih baru saja waktunya melakukan perjalanan yang baik (yakni ibadat haji), maka sepatutnya memohonkanlah pengampunan untukku." Uwais lalu melanjutkan katanya: "Adakah anda bertemu dengan Umar?" Ia menjawab: "Ya". Uwais lalu memohonkan pengampunan untuknya. Orang-orang banyak lalu mengerti siapa sebenarnya Uwais itu, mereka mendatanginya, kemudian Uwais berangkat - keluar dari Kufah menurut kehendaknya sendiri." (Riwayat Muslim)

Olah sebab itu, maka marilah kita senantiasa berbakti kepada ibu dan bapak atau orang tua. Karena merekalah yang sebetulnya yang memiliki kasih dan sayang yang sangat luar biasa untuk kita. Jika mereka sudah tiada, senantiasa kirimlah doa dan pahala untuk mereka dengan cara bersedekah dan sebaginya. Semoga kita selalu termasuk golongan orang yang berbakti. Aamiin aamiin ya rabbal ‘alamiin.