Thursday, 3 September 2015

Penciptaan Manusia dan Penentuan Takdir Sejak di Dalam Kandungan Ibu

Penciptaan merupakan suatu awal dari setiap permulaan bagi semua makhluk Allah SWT. mulai dari manusia, hewan, tumbuhan, batu, pasir, langit, bumi, bintang dan matahari serta apapun yang Allah ciptakan pasti memiliki awal yang dinamakan kelahiran atau kemunculan. Pada kalangan manusia Allah menciptaka laki-laki dan perempuan. Begitu juga pada hewan dan tumbuhan, sebagian mereka memiliki gender masing-masing.

Didalam menjalani hidup kita juga mengalami berbagai aktifitas dan kreatifitas yang kita peroleh dari pengetahuan dan ilham. Manusia menjalani aktifitasnya sebagai suatu rutinitas dan kebiasaan sehari-hari. Sebagai makhluk yang berakal dan berilmu, dalam menjalani hidupnya manusia memiliki berbagai prilaku dan variasi tingkah laku sehingga menuntun kepada yang namanya perubahan. Dengan perubahan ini manusia terus berkarya hingga terbentuk perubahan yang berbentuk suatu kebahagiaan atau kesengsaraan. Dan adupun kebahagian dan kesengsaraan inilah yang menjadi patokan dan sasaran dalam hidup. Bagi yang ingin mendapatkan kebahagiaan maka melakukan yang terbaik dan mereka yang menginginkan kesusahan bermalas-malaslah.

Kehidupan yang kita mulai bukanlah tidak memiliki yang namanya akhir. Kelak setelah kehidupan dunia akan kita temui kehidupan akhirat yang kekal yang sering disebut akhirat. Sebelum menuju kesana. Manusia sejak penciptaan pertama sudah ditentukan takdirnya sejak didalam kandungan. Yang mana semua itu adalah termasuk amalan-amalan yang akan kita kerjakan didunia. Tidak ada satupun dari setiap detik yang kita habiskan untuk menegerjakan sesuatu pekerjaan melainkan semuanya telah ditulis oleh Allah sejak dalam kandungan. Dan innilah yang kita sebut Takdir.

Proses penciptaan manusia bukanlah satu tahap saja akan tetapi melalui berbagai prose demi proses dialami dalam berbahai tahap. Seperti yang kita ketahaui bahwa Nabi Adam diciptakan oleh Allah dari Tanah maka tidak jauh berbeda dengan kita semua sebagai keturunan Nabi Adam. Hanya saja berbeda karena Nabi Adam tidak lahir dari rahim seorang ibu. Dan juga bukan pencampuran antara sperma dan ovum. Akan tetapi Allah menciptakanya langsung dari saripati tanah.

Penciptaan Manusia dan Penentuan Takdir Sejak di Dalam Kandungan Ibu|Proses-proses penciptaan manusia
Proses-proses penciptaan manusia meliputi banyak hal. Mulai dari pembentukan darah hingga menjadi sosok calon bayi atau janin yang tersimpan didalam rahim sang ibu. Sebelum membentuk darah, adapun asal manusia yang paling utama seperti yang kita ulas diatas tadi bahwa manusia berasal dari tanah yaitu sari pati tanah. Dari saripati tanah itu Allah SWT. dengan kekuasaannya menciptakan menjadi air mani atau campuran antara sperma dan ovum tadi membentuklah segumpal darah yang tersimpan didalam rahim. Segumpal darah ini atau yang disebut alaqah adalah seperti lintah (‘alaqah memiliki arti sesuatu yang menempel atau lintah atau gumpalan darah beku) yang menempel pada rahim. Sang embrio ini memang berprilaku seperti lintah karena ia mendapat suplay darah dari sang ibunya seperti halnya makhluk ini (lintah) penghisap darah. Proses ini bersangsung beberapa hari atau 3 sampai 4 minggu hingga terbentukklah selanjutnya daging-daging. Perkembangan demi perkembangan terus  berjalan hingga pada hari ke-42 terbentuklah tulang-tulangnya yang memberikan bentuk kepada kerangka sang janin. Pada tahap ini otot belumlah terbentuk nanti setelah minggu ketujuh dan awal minggu ke delapan otot baru terbentu. Yaitu tahap ini adalah tahap saat tulang-tulang dibalut oleh daging {berdasarkan penjelasan Dr. Zakir naik}. Allah SWT. telah menjelaskan tentang perkara ilmiah ini dalam surat Al Mukminum ayat 12-15;


وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍۢ مِّن طِينٍۢ | ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةًۭ فِى قَرَارٍۢ مَّكِينٍۢ | ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةًۭ فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًۭا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًۭا ثُمَّ أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ
Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. (Qs. Al Mukminun 12-15)

Proses penciptaan manusia dalam perut ibunya dalam Al Quran dijelaskan sangatlah sempurnah, dari ‘alaqah atau gumpalan darah beku, kemudian diikuti dengan pembentukan daging, seterusnya tulang-belulang dan yang teakhir adalah membalutnya dengan daging hingga terbentuklah dia seorang anak manusia (calon bayi/janin). Pada tahap-penciptaan dalam kandungan, setelah semuanya terbentuk maka disana saat penentuan rezeki, ajal dan amalnya serta nasibnya sengsara ataukah bahagia.

Penentuan rezki adalah penentuan mengenai perebendaharaan yang dimiliki olehnya di dunia. Apakah dia seorang pejabat, apakah dia seorang pedagang, dimanakah rezki-rezkinya juga termasuk sampai batas mana rezkinya itu. Maka ketika batas rezkinya sudah habis datanglah ajal bagi seorang tersebut. Ketika ajal hendak menjemput malaikat diutus oleh Allah kepadanya sambil berkata “wahai anak adam, akau sudah mencari rezki-rezkimu disetiap pelosok negeri ini bahkan dunia ini mungkin rezkimu sudah tidak ada lagi di dunia ini.” Catatan tentang rezki merupakan catatan rezki yang akan kita dapatkan didunia, baik tentang cara atau pun jenis dari rezki tersebut.

Ajal yang merupakan batas kehidupan kita di dunia sudah menjadi catatan sejak dalam kandungan. Dimanakah kita akan hidup dan dimana akan kita mati. Walau ketika suatu waktu kita berada pada suatu tempat yang jauh pasti kita akan ketempat dimana kita akan mati dan pasti akan menuai kematian disana. Selaian itu, ajal atau kematian juga tidak bisa diperlambat atau dipercepat, seperti firman Allah SWT. berikut ini,

لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةًۭ ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai ajal. apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS. Yunus :49)

Sehingga, ketika detik saat kita akan wafat maka saat itulah nyawa kita melayang. Tidak ada nego-nego dengan malaikat maut. Walaupun malaikat maut kita tawarkan dengan harta benda yang kita miliki, baik emas mahupun permata malaikat akan tetap melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya.

Begitu juga dengan amalan yang akan kita lakukan didunia. Semua itu telah tertulis sejak kita dalam kandungan sang ibu. Apakah kita selaku pelaku amal baik ataukah pelaku amal buruk. Maka itu akan tercermin dalam kehidupan kita.

Tidak terkecuali dengan nasib, baik senang atau gembira maka sesungguhnya semua itu juga telah ditentukan oleh Allah sejak kita dalam kandungan. Adapaun semua hal yang menyangkut penentuan nasib sudah dijelaskan oleh Nabi Mustafa Muhammad SAW. Dalam sabdanya,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالُوا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ كِلَاهُمَا عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ ح و حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَاه عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بْنُ الْحَجَّاجِ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ إِنَّ خَلْقَ أَحَدِكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً و قَالَ فِي حَدِيثِ مُعَاذٍ عَنْ شُعْبَةَ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا وَأَمَّا فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ وَعِيسَى أَرْبَعِينَ يَوْمًا

 Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki'; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair Al Mahdani dan lafazh ini miliknya; Telah menceritakan kepada kami Bapakku dan Abu Mu'awiyah dan Waki' mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Zaid bin Wahb dari 'Abdullah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu -Ash Shadiq Al Mashduq-(seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar): 'Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.' Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh ada seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.' Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim keduanya dari Jarir bin 'Abdul Hamid; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim; Telah mengabarkan kepada kami 'Isa bin Yunus; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Abu Sa'id Al Asyaj; Telah menceritakan kepada kami Waki'; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakannya kepada kami 'Ubaidullah bin Mu'adz; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah bin Hajjaj seluruhnya dari Al A'masy melalui jalur ini, dia berkata di dalam Hadits Waki'; sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dimulai dari perut ibunya selama empat puluh malam. Dan di sebutkan di dalam Hadits Mu'adz dari Syu'bah empat puluh malam, kemudian empat puluh hari. Sedangkan di dalam Hadits Jarir, empat puluh hari. (Shahih Muslim No.4781)


Dalam Hadis lain :

حَدَّثَنِي أَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَرَفَعَ الْحَدِيثَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا فَيَقُولُ أَيْ رَبِّ نُطْفَةٌ أَيْ رَبِّ عَلَقَةٌ أَيْ رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقًا قَالَ قَالَ الْمَلَكُ أَيْ رَبِّ ذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى شَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ فَمَا الْأَجَلُ فَيُكْتَبُ كَذَلِكَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ 

Telah menceritakan kepadaku Abu Kamil Fudhail bin Husain Al Jahdari; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid; Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Abu Bakr dari Anas bin Malik -secara marfu'- dia berkata; Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengirim malaikat pada setiap rahim, dan malaikat itu berkata; Wahai Rabb nutfah (air mani) , Rabb 'alaqah (segumpal darah), Rabb mudhghah (segumpal daging). Jika Allah Azza wa Jalla hendak menentukan takdir pada mahluk-Nya, Malaikat itu berkata Wahai Rabb, laki-laki atau perempuan? celaka atau bahagia, bagaimana rizki dan bagaimana ajalnya? Maka ditulislah ketetapan itu dalam perut ibunya. (Shahih Muslim No.4785)
Dari kedua hadits diatas juga dijelaskan sangat merinci tentang penentuan nasib dan takdir seorang anak manusia. Apapun yang mereka lakukan dan mereka dapatkan di dunia adalah berdasarkan takdir mereka sendiri. Bahkan jika mereka merupakan ahli neraka, walau sudah melakukan kebajikan, namun karena takdir menentukan dia ahli neraka maka saat menjelang maut dia pasti melakukan ahli neraka. Begitu pula sebaliknya, jika dia adalah sebelumnya sering mengerjakan amal mungkar maka ketika hendak menjelang maut maka dia pasti mengerjakan amal baik dan taubat laantaran dia adalah ahli surga.

Banyak kejadia-kejadian seperti ini terjadi. Seperti contoh Syeih Barsisah yang masyhur dengan kealimannya. Sangking masyhur dan tinggi ilmunya, murid-muridnya bisa terbang menjelajahi awan. Maka tidak terbayangkan lagi bagaimana beliau. Akan tetapi suatu ketika belaiu terperdaya oleh iblis yang menyamar sebagai seorang yang Alim yang berzikir sepanjang waktu didalam masjid. Beliau kagum karena tiada makan dan minum orang tersebut (iblis yang menyamar) tetap berzikir kepada Allah SWT.. Lalu beliau mendatangi orang tersebut dengan bertanya bagaimana dia bisa seperti itu beribadah kepada Allah yaitu tanpa makan dan minum. Maka ditawarkanlah dengan tawaran menyesat seakan-akan itu adalah amal ma’ruf yang padahal itu adalah amalan kafir. Maka dikerjakanlah oleh Syeih pekerjaan tersebut. Panjang ceritanya sebenarnya, singkat saja ceritanya akhirnya beliau mati dalam keadaan kafir.

Begitu juga jika kehidupan seorang yang kafir yang ditakdirkan menjadi penghuni surga maka akan melaksanakan amal perbuatan baik atau bertobat pada akhir hayatnya seperti seorang yang kafir sebelumnya maka masuk islam ketika menjelang ajal. Adapun orang yang baru masuk islam laksana bayi yang baru lahir meskipun amal jahat pernah dilakukan. Karena amal itu akan dihapus dan dia adalah sebagai seorang yang bersih dari dosa sehingga buku amalannya yang baru akan dimulai ketika dia baru masuk islam. Amalan baik atu buruk akan dicatat pada buku amalan baru. Dan apabila dia mati pada saat baru masuk islam maka dia pasti akan masuk surga karena ini adalah janji Allah SWT. Kaum muslimin yang berbahagia,

Nah, sudah jelas bahwa tidak ada satupun amalan yang kita kerjakan didunia kecuali semua telah tercatat sejak dalam kandungan. Mungkin ada yang bertanya, jadi untuk apa kita beramal, jika memang semua yang kita lakukan adalah sudah tertulis sejak kita dalam kandungan. bagaimana jika kita berserah diri saja kepada Allah SWT.. Nah, untuk menjawab  pertanyaan ini, marilah kita simak kisah dari hadits nabi berikut ini,

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)

Bisa kita lihat dalam kehidupan ini, yaitu orang-orang yang melakukan amalan baik maka itulah amalan ahli surga dan itulah ciri-ciri para ahli surga. Begitu pula orang yang suka mengerjakan keburukan, itu adalah cerminan perbuatan ahli  neraka. Para ahli surga senantiasa mengerjakan amalan yang disuruh oleh Allah dan menjauhi larangan-Nya. Baik itu amalan sunnat dan amalan wajib. Misalnya shalat, puasa, haji, zakat, sedekah, berbaik sangka, bersykur dan menjauhkan dari amalan seperti mencuri, berzina, mengupat, melawan orang tua dan lain sebagainya. Adapun ahli neraka senantiasa melakukan amalan-amalan ahli neraka yaitu berbuat kemaksiatan-kemaksiatan, amalan jahat, mencuri, berzina, judi dan meninggalkan amalan-amalan shalih yang dianjurkan oleh Allah SWT.

Maka jika kita ingin menjadi salah satu ahli surga kerjakanlah amalan ahli surga dan juga apabila ingin mendapatkan kehidupan akhirat berupa neraka maka kerjakanlah amalan jahat dan mungkar. Karena kehidupan dunia akan menjadi cerminan bagaimana kehidupan akhirat anda nanti. Kemudian dari pada itu, ahli neraka juga akan nampak, mereka seakan tuli dengan ajaran agama. Mereka senantiasa menegerjakan amalan jahat meskipun diperintahkan untuk mengerjakan amalan shalih.

Ingatkah kita kepada kisah Nabi Adam AS. Mana kala Allah telah menciptakan bumi beserta lautan yang luasnya membentang dan gunung-gunung yang menjulang tinggi sebagai pengokoh dibumi. Bintang dan bulan yang beriringan, bintang yang menghiasi malam  Dan juga Allah menciptakan para malaikat serta makhluk yang dinamakan iblis. Dan tibalah saatnya Allah menciptakan makhluk lain yang akan mengisi bumi dan memeliharanya serta mengelola kekayaannya dengan hidup secara turun temurun hingga saat yang ditentukan. maka ketika Allah SWT. memberitakan ini kepada malaikat, mereka khawatir jika Allah menciptakan makhluk lain itu akan menjadi perusak bumi dan akan menumpah darah anatar sesama. Berkata mereka kepada Allah SWT.  : "Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami, padahal kami selalu bertasbih,  bertahmid,  melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya, sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, nescaya akan bertengkar satu dengan lain, akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."

Allah berfirman,  menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu: "Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepadanya, bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, karena Allah SWT.   melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya. "

Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah SWT.  dari segumpal tanah liat, kering dan lumpur hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.

Namun ketika mereka disuruh untuk bersujud kepada adam maka sujudlah mereka kecuali sesosok makhluk yang namanya iblis. Iblis tidak mahu bersujud kepada Adam lantaran dia diciptakan dari api sedangkan adam hanya dari tanah. Iblis menganggap mereka lebih mulia dari adam. Dan iblis sama sekali tidak mahu taubat kepada Allah SWT. Maka diusirlah iblis oleh Allah dari surga.

Baca juga Nabi Adam sebagi asal mula  dan nenek moyang umat manusia

Dari gerak-gerik penghuni surga atau neraka sudah nampak, yang mana para malaikat sujud kepada nabi adam dan iblis malah membangkang. Maka itulah maksud yang dikatakan dalam hadits diatas tadi bahwa jika seorang memang penghuni surga maka dia pasti akan melakukan perbuatan yang mengarah kepada surga tersebut dan begitu sebaliknya. Lihatlah kemungkaran dan kesombongan yang dilakukan iblis yang mana perbuatan ini merupakan perbuatan ahli neraka.

Kemudian karena telah diusir oleh Allah, iblis meminta izin kepada Allah untuk menggoda anak cucu Adam untuk mengikut kejalan mereka. Maka Allah mengabulkan permintaan iblis. Untuk pertama kalinya iblis menggoda adam dan istrinya memakan buah khuldi yang dilarang oleh Allah. Karena mereka menganggap bahwa adam adalah penyebab mereka terusir. Dengan berbagai rayuan dan  bujukan Nabi Adam juga belum terhasut oleh iblis namun ketika iblis marayu istrinya maka termakanlah oleh Hawa juga disusul oleh Nabi Adam. Sesuai dengan janji Allah akan mengusir mereka juga jika memakan buah khuldi maka Adam juga ikut terusir dari surga. Namun walaupun terusir Nabi Adam telah bertaubat dan Allah menerima taubatnya Nabi Adam AS.

Adapun hikmah dari kisah Nabi Adam, Allah SWT. memang sudah menciptakan bumi untuk manusia dan atau anak cucu adam. Dimana ketika Allah berbincang dengan para malaikat, para malaikat merasa khawatir akan kemunculan makhluk lain itu yang kemudian dikenal sebagai Nabi Adam. Kemudian Allah menjelaskan tentang perkara-perklara tersebut. Dan juga proses termakannya buah khuldi oleh Nabi Adam dan Siti Hawa adalah sebab mengapa mereka keluar dari surga. Karena sesungguhnya ketetapan Allah untuk menurunkan nabi adam kebumi memang sudah ada sejak sebelum nabi adam muncul. Dan inilah yang dinamakan takdir.

Pernah terjadi peredebatan antara Nabi Musa AS dan Nabi Adam AS. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW. dalam hadits yang diriwayaatkan oleh Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: Wahai Adam, kamu adalah nenek moyang kami, kamu telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: Kamu Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku? Nabi saw. bersabda: Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa, akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa. (Shahih Muslim No.4793)

Maka setiap makhluk yang telah ditentukan oleh Allah SWT. tentang takdirnya sungguh tidak dapat dihindari, apabila ketetapanya sebagi seorang yang beramal shalih maka dia akan senantiasa beramal shalih, apabila  ketetapanya sebagai hamba yang  berilmu maka amalannya senantiasa menuntut ilmu dan Allah memudahkannya menuntu ilmu. Begitu juga apabila dia seorang pencuri maka dia akan senantiasa mencuri. Apabila dian seorang pejudi maka amalanya itu tidak lepas dari perbuatan judi. Apabila ketetapannya sebagai orang seorang pezina maka kelakuannya adalah selalu bergelimang dengan zina.seperti sabda nabi SAW. berikut ini,

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya Allah telah menentukan kadar nasib setiap manusia untuk berzina yang pasti akan dikerjakan olehnya dan tidak dapat dihindari. Zina kedua mata ialah memandang, zina lisan (lidah) ialah mengucapkan, sedangkan jiwa berharap dan berkeinginan dan kemaluanlah (alat kelamin) yang akan membenarkan atau mendustakan hal itu. (Shahih Muslim No.4801)
Maka lihatlah mereka yang sering berbuat keburukan, mereka senantiasa melakukan keburukan itu meskipun berbagai tuntunan agama telah diajarkan kepadanya. Karena mereka telah ditetapkan sebagai penghuni neraka. Dan apabila dia memang ahli surga, dengan sekali dua kali dan tiga kali tuntunan agama yang diberikan, maka dia akan mendengarnya dan meninggalkan amalan jahat serta mengerjakan amalan shalih kerana sesungguhnya dia telah memiliki ketetapan sebagai ahli surga.

Artikel terkait: Nama-nama surga dan calon penghuninya berdasarkan amal perbuatan di dunia
Apakah kita harus tetap demikian? Tetap dalam amalan jahat? Berusahala menjadi lebih baik, mungkin takdir kita bukan yang demikian. karena hasutan dan rayuan setan itu sangat menyesatkan jiwa dan raga kita. Semoga kita menjadi lebih baik. aamiin ya rabbal 'alamiin

Demikian saja cerahan singkat ini, semoga mendapat ridha dari Allah SWT. dan selalu mendapat petunjuk-Nya. Aamiin aamiin yaaa rabbal ‘aalamiin.

2 comments:

  1. masih ada beberapa hal yang menurut saya janggal...!!!

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete