Wednesday, 25 January 2017

Siksa Neraka Sebagai Azab atas Dosa dan Amalan Jelek di Dunia

Neraka, mendengar namanya saja membuat kita mencekam seakan dia akan menerkan setiap sosok-sosok yang mendekatinya. Bagaimana tidak, neraka adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. untuk menyiksa semua makhluk bahkan manusia sebagaimana kadar perbuatan dosanya tanpa belas kasihan.

Neraka adalah tempat penyiksaan bagi mahluk Allah yang membangkang. Mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap syariat Allah dan mengingkari Rasulullah SAW.. Kata neraka sering disebutkan dalam kitab suci Al-Qur'an dan jumlahnya sangat banyak sekali. Dalam bahasa Arab disebut naarالنار (ar)* (an-nār).

Siapapun orang yang dimasukkan ke dalam neraka, dia tidak akan bisa keluar darinya, hingga dosa-dosa yang dia perbuat sudah tertebus dengan siksaan-siksaan. Namun ada juga sebagian yang kekal didalam neraka lantaran amat banyaknya dosa yang dia perbuat atau bahkan dosanya tidak terhapus, contohnya orang kafir dan atau orang musyrik. 

Pintu neraka berdiri kokoh dan tertutup rapat. Dengan penjagaan yang serba ketat dan rapat. Itulah penjara bagi orang-orang yang menganggap remeh berita tentang pengadilan akhirat. Dan di situpulalah manusia banyak menjadi penyesal dengan penyesalan yang tidak terhingga. Di dalam Al-Qur'an disebutkan bahan bakar neraka adalah dari manusia dan batu (ada yang mengartikan berhala). 

Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِ

“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 24)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan bebatuan di sini adalah batu kibrit besar yang berwarna hitam lagi keras dan berbau busuk. Dan dia adalah batu yang paling panas jika dipanaskan.” Semoga Allah Ta’ala melindungi kita darinya. Aamiin

Pintu gerbang Neraka dipimpin oleh Malaikat Malik, yang memiliki 19 malaikat penyiksa di dalam Neraka, salah satunya yang disebut namanya dalam Al-Qur'an adalah Zabaniah. Walaupun neraka sering digambarkan sebagai tempat penyiksaan yang teramat panas, tetapi ada hawa neraka menjadi teramat sangat dingin. Disebutkan di dalam Al-Qur'an:

هَٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌۭ وَغَسَّاقٌۭ

“Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. (Surat Sad ayat 57)”

Artikel terkait: Nama-nama Neraka dan calon penghuninya beserta dalilnya

Jika dibandingkan dengan kedinginan di dunia, maka kedinginan di neraka bukanlah tandingan. Dimana setiap hal dunia ini, maka disana akan menjadi berlipat ganda.Selain itu, Siksaan di dalam neraka yang paling ringan adalah diberikan sandal api yang bisa membuat otak mereka mendidih. Bisa kita bayangkan bagaimana panasnya, padahal kaki yang menginjak sandal tapi malah otak juga ikut mendidih. Bagaimana dengan siksaan lain?

Seperti hadits Rasulullah SAW. berikut ini:
“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya ialah orang yang diberi sepasang sandal yang talinya terbuat dari api neraka, lalu mendidihlah otaknya karena panasnya yang laksana air panas mendidih di dalam periuk. Dia mengira tiada seorangpun yang menerima siksaan lebih dahsyat dari itu, padahal dialah orang yang mendapat siksaan paling ringan.” (HR. Bukhari-Muslim).

Gambaran Neraka
Maka dari itu, jauhkanlah diri dari api neraka dan juga keluarga. Yang mana ini adalah pokok utama yang menjadi tanggung jawab hidup di dunia. Contoh saja, jika orang tua tidak melarang anaknya berbuat kemaksiatan dan memakai baju-baju yang serba ketat. Tentu anak tersebut akan menuai hasilnya di neraka. Maka saat ditanya oleh Allah mengapa dia sering melakukan kemaksiatan maka dia menjawab  bahwa orang tuanya tidak pernah melarang atau memberitahunya. Dan pada akhirnya, orang tua juga terkena imbasnya. Oleh karena itu, sangat jelas sekali firman Allah berikut ini. 

Allah Ta’ala juga berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌۭ شِدَادٌۭ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim ayat 6)

Mujahid rahimahullah berkata menafsirkan firman Allah Ta’ala, “Bertakwalah kalian kepada Allah dan perintahkanlah keluargamu untuk bertakwa kepada Allah.” Qatadah rahimahullah berkata, “Perintahkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan laranglah mereka dari maksiat kepada Allah. Perlakukanlah mereka sesuai dengan perintah Allah, perintahlah mereka, dan bantulah mereka dalam menjalankan perintah-Nya.”
Di antara bentuk pengamalan hadits ini, sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud no. 417)

Para ulama menyatakan: Demikian halnya dalam berpuasa, sebagai pelatihan kepada anak-anak untuk beribadah, agar ketika dia dewasa dia terus-menerus di atas ibadah dan ketaatan serta menjauhi maksiat dan meninggalkan kemungkaran.

Adapun sifat neraka, maka Allah Ta’ala berfirman tentang pintu-pintunya:

وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَٰبٍۢ لِّكُلِّ بَابٍۢ مِّنْهُمْ جُزْءٌۭ مَّقْسُومٌ

“Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (QS. Al-Hijr: 43-44)

Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, “Gejolak api neraka.”
Tatkala diliputi api neraka membuat mereka sangat kesusahan dan kehausan karena besarnya kejolak api neraka, Allah Ta’ala berfirman:

وَإِن يَسْتَغِيثُوا۟ يُغَاثُوا۟ بِمَآءٍۢ كَٱلْمُهْلِ يَشْوِى ٱلْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتْ مُرْتَفَقًا

“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Allah Ta’ala juga berfirman:

 وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنْ حَدِيدٍۢ كُلَّمَآ أَرَادُوٓا۟ أَن يَخْرُجُوا۟ مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا۟ فِيهَا وَذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلْحَرِيقِ

“Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini.” (QS. Al-Hajj: 21-22)

Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengingatkan dan memperingatkan kita untuk menjauhkan diri dari neraka. Dari An-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah:

أَنْذَرْتُكُمْ النَّارَ أَنْذَرْتُكُمْ النَّارَ أَنْذَرْتُكُمْ النَّارَ حَتَّى لَوْ أَنَّ رَجُلًا كَانَ بِالسُّوقِ لَسَمِعَهُ مِنْ مَقَامِي هَذَا قَالَ حَتَّى وَقَعَتْ خَمِيصَةٌ كَانَتْ عَلَى عَاتِقِهِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ

“Aku ingatkan kalian akan (dahsyatnya) neraka, aku ingatkan kalian akan (dahsyatnya) neraka, aku ingatkan kalian akan (dahsyatnya) neraka.” Seandainya seseorang berada di pasar, niscaya ia akan mendengarnya dari tempatku ini.” Dia (An-Nu’man) berkata, “Sampai-sampai khamishah (kain yang ada campuran sutera) yang ada di pundak beliau jatuh ke kakinya.” (HR. Ahmad no. 17672)

Dan dalam riwayat lain beliau bersabda:

أَنْذَرْتُكُمْ النَّارَ أَنْذَرْتُكُمْ النَّارَ حَتَّى لَوْ كَانَ رَجُلٌ كَانَ فِي أَقْصَى السُّوقِ سَمِعَهُ وَسَمِعَ أَهْلُ السُّوقِ صَوْتَهُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ

“Aku peringatkan kalian akan (dahsyatnya) neraka, aku peringatkan kalian akan (dahsyatnya) neraka.” Sampai-sampai jika ada orang yang ada di ujung pasar, maka ia dan seluruh penghuni pasar akan dapat mendengarnya, sedangkan beliau di atas mimbar.” (HR. Ahmad no. 17673)

Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلِهِ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Tidaklah salah seorang di antara kalian melainkan akan diajak bicara oleh Tuhannya dengan tanpa juru penerjemah, saat ia melihat sebelah kanannya maka ia tidak melihat selain amalnya yang pernah dilakukan, saat ia melihat sebelah kirinya maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah ia lakukan sebelumnya, dan saat ia lihat depannya maka melihat selain neraka di depan mukanya. Maka jagalah kalian dari neraka walau hanya dengan separuh biji kurma.” (HR. Al-Bukhari no. 6958 dan Muslim no. 1688)

adapun makna separuh biji kurma adalah dengan bersedekah. karena sedekah sedikit saja akan di hitung oleh Allah SWT. dan akan mendapat ganjaran sebagaimana di sedekahkan tadi dengan syarat bahwa sedekah yang kita lakukan bukanlah untuk mendapat pujian semata.

Tatkala ayat:

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ ٱلْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara` ayat 214)

turun kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau mengumpulkan keluarga beliau dari suku Quraisy lalu bersabda:

يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي مُرَّةَ بنِ كَعْبٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي هَاشِمٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنْ النَّارِ فَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا

‘Wahai Bani Ka’ab bin Luaiy, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Bani Murrah bin Ka’ab, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Bani Abdul Syams, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Bani Abdul Manaf, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Bani Abdul Mutthalib, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Fatimah, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Sesungguhnya aku tidak memiliki (kekuatan sedikit pun untuk) menolak siksaan Allah kepadamu sedikit pun, selain kalian adalah kerabatku, maka aku akan menyambung tali kerabat tersebut.” (HR. Muslim no. 303)

Dari Anas radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ رَأَيْتُمْ مَا رَأَيْتُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا قَالُوا وَمَا رَأَيْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَأَيْتُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, kalau kalian melihat sesuatu yang aku lihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Mereka bertanya, “‘Apa yang anda lihat wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku melihat surga dan neraka.” (HR. Muslim no. 646)

Adapun kedalaman neraka, sungguh sangat dalam dibandingkan dengan apa yang kita bayangkan. sesuatu yang di lempar saja sangat lama jatuhnya hingga ke kerak neraka. Rasulullah SAW. telah menjelaskan dalam sabda beliau dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:

 كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَدْرُونَ مَا هَذَا قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا

“Kami bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam tiba-tiba beliau mendengar suara sesuatu yang jatuh berdebuk. Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Tahukah kalian suara apa itu?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak 70 tahun lalu dan sekarang baru mencapai keraknya.” (HR. Muslim no. 5078)

Sementara mengenai tingkat kekuatan panas api neraka, sungguh tidak ada bandingan pula dengan api yang kita gunakan sehari-hari untuk memamsak. perbandingannya adalah 1 banding 70 kali lipat lebih panas api neraka. Bayangkan saja bagaimana panasnya, api di dunia saj membuat kulit kita melepuh walau hanya sebentar apalagi apai neraka. Beliau juga telah mensabdakannya. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ قَالُوا وَاللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا


“Api kalian ini yang dinyalakan oleh anak cucu Adam adalah satu dari tujuh puluh bagian panasnya neraka jahanam.” Mereka berkata: Bila seperti itu niscaya sudah cukup wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Sesungguhnya ditambahi 69 bagian, masing-masing seperti panasnya.” (HR. Muslim no. 5077)

Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengabarkan tentang neraka bahwa:

اشْتَكَتْ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ فَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنْ الْحَرِّ وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنْ الزَّمْهَرِيرِ

“Neraka mengadu kepada Rabbnya seraya berkata; “Wahai Tuhanku, sebagianku (api) saling memakan satu sama lain”. Maka neraka diizinkan untuk berhembus dua kali. Satu kali pada saat musim dingin dan satu kali lagi pada saat musim panas. Maka hawa panas yang kamu rasakan merupakan hawa panas dari hembusan api neraka dan hawa dingin yang kamu rasakan merupakan hawa dingin dari zamharir (hawa dingin) neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 504 dan Muslim no. 977)


Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

 يَلْقَى إِبْرَاهِيمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتَرَةٌ وَغَبَرَةٌ فَيَقُولُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ لَا تَعْصِنِي فَيَقُولُ أَبُوهُ فَالْيَوْمَ لَا أَعْصِيكَ فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ يَا رَبِّ إِنَّكَ وَعَدْتَنِي أَنْ لَا تُخْزِيَنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ فَأَيُّ خِزْيٍ أَخْزَى مِنْ أَبِي الْأَبْعَدِ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى إِنِّي حَرَّمْتُ الْجَنَّةَ عَلَى الْكَافِرِينَ ثُمَّ يُقَالُ يَا إِبْرَاهِيمُ مَا تَحْتَ رِجْلَيْكَ فَيَنْظُرُ فَإِذَا هُوَ بِذِيخٍ مُلْتَطِخٍ فَيُؤْخَذُ بِقَوَائِمِهِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ
“Nabi Ibrahim alaihissalam bertemu dengan ayahnya, Azar, pada hari kiamat. Ketika itu wajah Azar ada debu hitam lalu Ibrahim berkata kepada bapaknya: “Bukankah aku sudah katakan kepada ayah agar ayah tidak menentang aku?”. Bapaknya berkata; “Hari ini aku tidak akan menentangmu?” Kemudian Ibrahim berkata; “Wahai Rabb, Engkau sudah berjanji kepadaku untuk tidak menghinakan aku pada hari berbangkit. Lalu kehinaan apalagi yang lebih hina dari pada keberadaan bapakku yang jauh (dariku)?”. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Aku mengharamkan surga bagi orang-orang kafir”. Lalu dikatakan kepada Ibrahim; “Wahai Ibrahim, apa yang ada di kedua telapak kakimu?”. Maka Ibrahim melihatnya yang ternyata ada seekor hyena jantan yang kotor. Maka hyena itu dipegang kakinya lalu dibuang ke neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 3101)

Sungguh betapa maha dahsyatnya neraka sebagai azab bagi pelaku dosa ini, sungguh kita kita bisa mengelakkan semua azab itu kecuali melakukan amal kabaikan dan mendapat ridha Allah SWT. semoga Allah menjauhkan kita dari azab neraka yang sangat pedih, aamiin aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

Baca Juga : Surga sebagai balasan atas amalan baik yang kita kerjakan

Sunday, 22 January 2017

Rukun Islam dan Penjelasannya Beserta Dalilnya

Kata dan istilah “rukun” memiliki dasar yang merupakan hasil dari ijtihad para ulama untuk mempermudah memahami agama. Rukun adalah bagian sesuatu yang menjadi syarat terjadinya sesuatu tersebut, jika salah satu rukun tidak ada atau tidak terlaksana maka sesuatu tersebut tidak terjadi. Penerapan kata dan istilah rukun telah banyak kita lihat dalam kehidupan beragama. Baik itu rukun iman, rukun islam, rukun shalat, rukun wudhu, rukun mandi dan rukun-rukun lainnya. Bermula pada Rukun Islam maka istilah rukun ini tidak berlaku secara mutlak, artinya meskipun salah satu Rukun Islam tidak terlaksana, masih memungkinkan Islam masih tetap ada tergantung amalan apa yang ditiadakan.

Sebagaimana kita seorang yang islam, sudah sepantasnya kita ketahui yang mana saja rukun islam itu agar tercapai kesempurnaan islam dan bukan islam abal-abal alias islam KTP. Rukun islam merupakan pondasi islam sebagai agama dan merupakan pokok utama dalam beragama. Rasulullah SAW. bersabda:

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab ra., dia berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: ’Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR.Bukhori dan Muslim)

Dalam Hadis lain yang diriwayatkan oleh Thalhah bin Ubaidillah ra., ia berkata:

shalat merupakan shalah satu rukun islam
Seseorang dari penduduk Najed yang kusut rambutnya datang menemui Rasulullah SAW. Kami mendengar gaung suaranya, tetapi kami tidak paham apa yang dikatakannya sampai ia mendekati Rasulullah SAW. dan bertanya tentang Islam. Lalu Rasulullah SAW. bersabda: (Islam itu adalah) shalat lima kali dalam sehari semalam. Orang itu bertanya: Adakah salat lain yang wajib atasku? Rasulullah saw. menjawab: Tidak ada, kecuali jika engkau ingin melakukan salat sunat. Kemudian Rasulullah bersabda: (Islam itu juga) puasa pada bulan Ramadan. Orang itu bertanya: Adakah puasa lain yang wajib atasku? Rasulullah SAW. menjawab: Tidak, kecuali jika engkau ingin melakukan puasa sunat. Lalu Rasulullah SAW. melanjutkan: (Islam itu juga) zakat fitrah. Orang itu pun bertanya: Adakah zakat lain yang wajib atasku? Rasulullah saw. menjawab: Tidak, kecuali jika engkau ingin bersedekah. Kemudian lelaki itu berlalu seraya berkata: Demi Allah, aku tidak akan menambahkan kewajiban ini dan tidak akan menguranginya. Mendengar itu, Rasulullah SAW. bersabda: Ia orang yang beruntung jika benar apa yang diucapkannya. (Shahih Muslim No.12) 

Maka marilah kita bahas satu persatu dari rukun islam tersebut agar kita tidak meninggalkan satupun sehingga islam kita sempurna. Apalah gunaya jika kita beragama islam namun tidak memiliki kesempurnaa.

Adapun rukun - rukun Islam itu ada 5 (lima) perkara yaitu :

1.    Mengucap dua kalimah syahadat

Dua kalimah syahadat adalah mengakui bahwa tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah SWT. dan mengakui bahwa nabi Muhammad SAW. adalah utusan Allah SWT. berikut ucapannya:

أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان محمد رسول الله

Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullaah
yang artinya "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib di sembah kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah rasul (utusan) Allah".

Syahadat memiliki rukun alias Syahadat tidak akan sah sehingga tidak terkumpul padanya tiga perkara yaitu mengikrarkan dengan lidah (ucapan lisan), mentasydikkan dengan hati (keyakinan hati), dan mengamalkan dengan perbuatan (mengaplikasikannya dalam kehidupan). Dua kalimah syahadat merupakan pokok pertama yang harus ada ketika berada dalam islam. Biasanya orang yang baru masuk islam akan di syahadatkan, ada juga orang yang hendak disunnat mengucapkan dua kalimah syahadat.

Seperti yang pernah terjadi pada Cabang Rumah Tahanan Negara Blangkejeren yang merupakan unit palaksa teknis dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Kantor Wilayah Aceh, dua orang narapidana menjadim mua’allaf dalam kurun waktu yang berbeda. Mereka bersungguh-sungguh ketika masuk ke agama islam. Meskipun mereka telah mengucapkan dua kalimah syahadat ketika pertama masuk islam namun mereka juga dituntun lagi mengucapkan dua kalimah syahadat ketika hendak melakukan Sunat Rasul agar sempurna keislamannya. Tidak hanya mu’llaf yang mengucapkan dua kalimah syahadat ketika Sunat Rasul namun semua orang muslim Wajib melakukannya.

2.    Mendirikan sholat atau sembahyang

Orang yang sudah mukallaf (islam, baligh, berakal) wajib baginya untuk shalat lima waktu. Tidak ada shalat lain yang wajib baginya kecuali jika ada shalat nazar yang diikrarkan. Mendirikan shalat adalah ciri khas dari seorang muslim karena Sabda Rasulullah SAW.

بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thabariy dengan sanad shahih.)

Nah, jika saja kita telah meninggalkan shalat fardhu lima waktu sehari semalam maka kita termasuk kedalam orang yang syirik (menyekutukan Allah). Apa salahnya kita mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam tersebut selain sebagai kewajiban juga sebagai bukti rasa syukur kita atas nikmat yang banyak yang Allah SWT. limpahkan kepada kita. Selain itu, satu waktu dari shalat juga tidak begitu lama sampai berjam-jam. Melakukan hal lain saja kita sanggup berjam-jam kenapa menghadap kepada Allah untuk mengerjakan kebaikan tidak sanggup. Inilah keanehan ummat akhir zaman, bermain di sosial media tidak bosan meskipun 24 jam, main game tidak ketinggalan merkipun mata sudah berlingkaran hitam, padahal semua itu mengeluarkan dana dan biaya yang pada dasarnya sangat sulit kita cari. Jika harta yang kita miliki mudah untuk kita dapatkan lantas dari mana harta itu datang? Bukankah dari Allah? Maka oleh sebab itu sudah sepentasnya kita mensyukuri nikmat Allah tersebut dengan shalat alias mengerjakan apa yang di perintahkan oleh-Nya. Karena,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. )

3.    Mengeluarkan zakat

Zakat terbagi dua yaitu zakat mal (zakat harta) dan zakat fitrah. Kedua-duanya berfungsi untuk membersihkan harta yang kita miliki. Mengeluarkan zakat adalah kewajiban setiap insan terutama yang mampu. 

Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata:
Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. Islam manakah yang paling baik? Rasulullah saw. bersabda: Memberikan makanan, mengucap salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal. (Shahih Muslim No.56) 

Ketahuilah bahwa, selain menjadi pokok menjadi muslim sejati, zakat merupakan suatu kewajiban yang mendatangkan manfaat bagi siapa saja yang mengeluarkan dengan ikhlas, ingat hanya dengan ikhlas. Karena jika tidak ikhlas maka sia-sia saja amalan tersebut. salah satu manfaatnya adalah Allah SWT. akan memberikan keberkatan terhadap harta bahkan menggantikannya dengan berlipat ganda dan dengan yang lebih baik kepada si pemberi zakat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi, Rasulullah SAW. bersabda,:

أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

 "Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya aku berinfak kepadamu." (Muttafaq 'Alaih)

Dan Allah SWT. berfirman pula:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ

"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba' ayat 39)

Seperti yang kita bicarakan di atas tadi, bahwa makna hadits di atas adalah Allah akan memberika kepada kita ganti bahkan berlipat ganda dan membuat harta kita semakin berkah. Sebenarnya bukalah banyaknya yang kita butuhkan akan tetapi berkahnyalah yang paling utama. Apalah guna harta banyak namun tidak berkah. Bahkan banyak orang yang banyak harta namun imannya terkoyak. Kenapa? Karena meraka terpedaya oleh hasutan syaitan dengan tidak berzakat dan terus mengumpulkan harta hingga lupa kewajibannya sebagai seorang insan.

Allah Ta'ala berfirman,

ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةًۭ مِّنْهُ وَفَضْلًۭا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat buruk (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah ayat 268)

Selain sebagai orang kikir dan hartanya yang banyak mengoyak keimanan, orang yang enggan menunaikan zakat akan mendapat gelar sebagai golongan pendusta agama yaitu orang-orang yang akan meruntuhkan agama. Dan pada akhirnya menjadi jilatan api neraka, nauzubillahi min  zalik.

4.    Berpuasa di bulan Ramadhan

Puasa ramadahan merupakan puasa yang kita lakukan sebulan penuh dan hanya sekali dalam setahun. Puasa ramadahan adalah rukun iman yang ke-4 yang wajib kita kerjakan. Tidak boleh meningggalkan puasa ramadahan bagi siapa saja yang beragama islam. Seperti yang difirmankan Allah SWT. berikut ini:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah ayat 183)

Tidak lain dan tidak bukan, puasa adalah untuk menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT. kewajiban puasa bukanlah kewajiban semasa kita semata akan tetapi masa sebelum nabi Muhammad SAW. juga telah mengerjakan yang namanya puasa. Selain sebagai penambah ketaqwaan, puasa juga bermanfaat bagi kesehatan. Beberapa ilmuan telah malakukan riset terhadap puasa dan hasilnya sungguh luar biasa yaitu sangat banyak sekali manfaat yang terkandung didalamnya. Contoh saja ketika orang hendak melakukan operasi, dokter menyarankan kepada pasien untuk berpuasa. Nah itulah bukti keampuhan puasa bagi kesehatan. Masih banyak khasiat puasa yang tidak kita bahas secara terperinci kali ini.

Apabila seseorang ozor baik itu lanjut usia, hamil, sedang dalam perjalanan (musafir) dana lain sebagainya maka boleh untuk tidak berpuasa dengan syarat-syarat tertentu yang sesuai dengan syariat atau syara’. Baik itu berupa membayarnya dengan puasa atau membayar fidiyah. Seperti firman Allah berikut ini:

أَيَّامًۭا مَّعْدُودَٰتٍۢ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌۭ طَعَامُ مِسْكِينٍۢ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًۭا فَهُوَ خَيْرٌۭ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Qs. Al-Baqarah ayat 184)

5.    Berhaji ke Baitullah bagi orang yg mampu akan perjalanannya (yang mampu mengerjakannya)

Haji kebaitullah adalah kewajiban seorang muslim untuk di kerjakan. Berbeda dengan rukun-rukun islam yang lain, haji  hanya diwajibkan untuk orang-orang yang mampu saja. Jika orang miskin apalagi fakir maka tidak wajib baginya. Karena perjalanan haji butuh biaya dan bekal serta kemapuan lahir dan batin. Ketika mengerjakan haji kita diwajibkan siap dalam mengerjakan rukun-rukun haji. Jika tidak maka haji kita tidak mabrur (tidak sah). Adapun kewajiban Haji telah dituangkan oleh Allah SWT. dalam firmannya:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍۢ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًۭا وَهُدًۭى لِّلْعَٰلَمِينَ فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌۭ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًۭا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Qs. Ali-Imran ayat 96-97)

Dari ayat di atas jelas bahwa haji adalah wajib bagi yang orang islam yang mampu. Namun ada yang mengatakan bahwa haji orang miskin adalah shalat jumat, dengan pedoman hadits berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الجمعة حج الفقراء و المساكين 

Rasulullah SAW bersabda “Shalat jum’at adalah haji bagi para orang fakir dan orang miskin”
Nah, dari beberapa pendapat bahwa hadits di atas tidak shahih bahkan hadits palsu. Perawi hadits diatas adalah Abu Nu’a-im, Al-Qudha’i dan Ibnu ‘Asakir dari Ibnu ‘Abbas dengan lafazh “Faqir” saja, dan juga dirawi oleh Al-Qudha’i  dan Ibnu Zanjawa-ih dengan lafazh “miskin saja. Hadits ini dimuat di dalam Al-Jami’ush-Shaghir, no. 2659.

Al-Munawi menuturkan di dalam Fa-idhul-Qadir Syarh Al-Jami’ush-Shaghir: “Hadits ini (juga) diriwayatkan oleh Al-Harits bin Abi Usamah. Mereka semua meriwayatkannya melalui Isa bin Ibrahim Al-Hasyimi, dari Muqatil, dari Adh-Dhah–hak, dari Ibnu ‘Abbas. Al-‘Iraqi mengatakan: “Sanad hadits ini dha’if“.

Syaikh Al-Albani memberikan penjelasan bahwa Muqatil ini yaitu yakni bin Sulaiman adalah seorang pendusta dan perawi sebelumnya yaitu Isa bin Ibrahim Al-Hasyimi, adalah seorang yang sangat dha’if. Imam Al-Bukhari dan An-Nasai mengatakan mengenai hadits tersubut: “Haditsnya munkar“. Maka daripada itu, marilah kita beralih kepada hadits yang shahih berikut ini:

Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci menuju shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji. Barangsiapa keluar untuk shalat sunnah Dhuha, yang dia tidak melakukannya kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan (melakukan) shalat setelah shalat lainnya, tidak melakukan perkara sia-sia antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘illiyyun (kitab catatan amal orang-orang shalih)

Kerjakanlah haji jika kita sudah memiliki kemampuan baik lahir maupun batin. Sehingga harta, waktu dan kesempatan kita tidak sia-sia dalam memenuhi panggilan Allah SWT. sehingga kesempurnaan rukun islam kita tercapai. Selain itu juga kita melakukan haji dengan keikhlasan semata yaitu lillahita’ala. 

Demikian saja ulasan kali ini, semoga memberikan faedah dan diredhai oleh Allah SWT.. Dan semoga Allah selalu menuntun kita kejalan yang benar sehingga kita mampu memanfaatkan harta dan kemampuan yang kita miliki kepada kebaikan dan mencapai keislaman yang hakiki. Aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

Friday, 20 January 2017

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu Menurut Imam Syafi'i

Seperti halnya shalat, wudhu juga memiliki beberapa hal yang dapat membatalkannya. Baik itu sengaja atau tidak disegaja, apabila telah kita miliki atau kita telah mendapatkan hal yang dapat membatalkan wudhu baik itu cuma satu hal saja maka wudhu kita akan batal dan wajib kita mengulanginya apabila hendak melaksanakan shalat atau ibadah lain yang diwajibkan untuk wudhu. Jika kita hendak memperbaharui wudhu kita maka diperbolehkan dalam agama dan hukumnya sunnat. Seperti yang disabdakan oleh Nabi SAW. berikut ini.

Abu Hurairah berkata, 'Tidaklah wajib mengulangi wudhu kecuali bagi orang-orang yang berhadats. 

Akan tetapi apabila wudhu kita yang pertama (wudhu yang belum batal tadi) tidak sempurna atau ada salah satu bagian dari anggota wudhu kita tidak terkena air (hal keadaan tidak sengaja atau tidak di ketahui) dan pada wudhu yang kedua ini (yang di perbaharui) terkena air pada bagain itu maka wudhu kita yang pertama tidak sah. Begitulah yang di jelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin.

hal yang dapat membatalkan wudhu
Setelah kita membahas sebelumnya tentang syarat sah wudhu dan rukun wudhu maka sudah saatnya kita mengetahui hal-hal apa saja yang dapat membatalkan air sembahyang atau wudhu kita. Adapun mengetahuinya adalah wajib. Karena bagaimana kita akan beribadah dengan benar apabila yang membatalkannya saja kita tidak mengetahui. Jangan-jangan wudhu sudah hilang akan tetapi kita masih melaksanakan ibadah disebabkan kemiskinan ilmu pada diri kita. Berikut ini adal hal-hal yang dapat membatalkan wudhu yang wajib kita ketahui.

Hal-hal yang dapat membatalkan wudhu menurut Imam Syafi'i :

1.    Keluar sesuatu dari qubul dan dubur kecuali mani diri sendiri

Sebagai makhluk yang normal dan masih diberikan kesehatan oleh Allah Yang Maha Kuasa, sudah tentu kita masih mengelurkan sesuatu dari qubul dan dubur kita. Karena jika kita tidak sehat maka hal tersebut akan susah terjadi. Sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur akan menyebakan hilang wudhu. Baik yang keluar berupa kotoran, angin (kentut), darah haid (bagi wanita yang datang bulan), madzi wadi dan lain sebagainya. Namun wudhu tidak batal apabila yang keluar adalah mani yaitu mani diri sendiri dengan kata lain bukan mani orang lain atau mani yang bercampur dengan mani dirinya. Akan tetapi baginya diwajibkan mandi sebagaimana Ibnu abbas Radhiyallahu ‘anhu mengatakan.

Beliau berkata, “Mani, wadhi, madzi. Adapun mani mewajibkan mandi. Adapun wadhi dan madzi, cucilah kemaluanmu, kemudian berwudhulah sebagaimana wudhu-mu untuk shalat”. (Riwayat Muslim)

Seperti sabda Rasulullah SAW. “Cucilah kemaluannya, kemudian berwudhulah.”(HR. Bukhari Muslim). 

Dan menurut imam syafi’i juga mengatakan bahwa keluar mani tidak membatalkan wudhu akan tetapi wajib baginya mandi. jadi jelas menurut imam syafi'i bahwa segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur adalah membatalkan wudhu kecuali mani. Dan apabila wudhunya tidak sah maka jelas shalanya tidak sah. Seperti sabda Rasulullah berikut ini: 

Siapa yang di timpa (mengeluarkan) muntah, mimisan, qalas (muntah yang keluar dari kerongkongan) atau madhi (di dalam shalatnya) hendaklah ia berpaling dari shalanya lalu berwudhu (HR. Ibnu majah No. 1221)

Adapaun cara mencucinya telah dijelaskan Rasulullah dalam Haditsnya: “cukup bagimu dengan mengambil segenggam air, kemudian engkau percikkan bagian pakaian yang terkena air madzi tersebut.”(HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)

Nah, bagaimana jika kita shalat dengan menggunakan pakaian yang terkena mani, madzi atau wadi? apakah boleh menggunakan pakaian tersebut?

Sulaiman bin Yasar berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah tentang pakaian yang terkena mani. Dia menjawab, 'Aku mencucinya dari pakaian Rasulullah SAW. dan beliau pun keluar untuk shalat, padahal noda-noda mani itu masih terlihat.'" 

2.    Hilang akal sebab gila, pingsan, mabuk dan tidur yang tidak tetap atau tidur nyenyak

Apabila kita telah mengambil wudhu, kemudian kita pingsan atau mabuk atau tidur yang tidak tetap maka wudhu kita batal. Termasuk juga hilang akal sebab gila. Apakah ada orang gila tiba-tiba dalam sekejab? Ada, penyakit gila seperti ini akan kambu pada waktu tertentu, maka pada saat dia kambuh otomatis hilang wudhunya. Mengenai tidur, tidak semua tidur dikategorikan membatalkan wudhu. Tidur yang tetap alias tidak nyenyak atau dengan keadaan tidak bergerak-gerak atau tidur yang tidak berubah kedudukannya maka wudhu tidak batal.  Dengan kata lain, Jika kita tertidur lalu kita mendapati posisi kita masih semula maka wudhu kita tetap sah. Namun jika kita ragu akan posisi tidur kita yang berobah atau kita ragu wudhu kita telah batal atau tidak, maka lebih baik kita memperbaharui wudhu. 

3.    Tersentuh kulit laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa yang bukan muhrim (mahram)nya

Apabila tersentuh kulit laki-laki dan perempuan yang sudah sampai umur atau disebut sudah baliq yang bukan muhrim maka wudhu kita akan batal yaitu dengan syarat apabila tersentunya tidak memakai tutup, contohnya dilapisi kain. Adapaun bermula muhrim itu adalah keluarga yang tidak boleh di nikahi. Ada beberapa orang yang tergolong mahram atau muhrim kita yaitu ayah dan ibu, saudara laki-laki dan perempuan, anak, kakek dan nenek serta paman dan bibi saudara sesusuan dan masih banyak lagi. Bila seseorang yang bukan muhrim/ mahram kita tetapi dia belum sampai umur atau baliq  baik itu laki-laki maupun perempuan maka tidak akan batal wudhunya.

Ada sebagian orang mengatakan bahwa istri boleh menyentuh kulit suami atau suami boleh menyentuh kulit istri dalam keadaan berwudhu dan wudhunya tidak batal. Sesungguhnya ini adalah sebuah kesalahan. Meskipun kita sudah menikah dengannya, sudah halal bagi kita, akan tetapi dia bukanlah mahram kita. Lihat siapa saja mahram kita di atas tadi. dan lihat apa itu pengertian mahram,  yaitu orang yang tidak boleh dinikahi. Maka jika istri atau suami bersentuh kulit dalam keadaan berwudhu maka wudhunya BATAL. 

4.    Tersentuh kemaluan (qubul atau dubur) dengan telapak tangan atau jari-jari yang tidak memakai tutup

Hal yang dapat membatalkan wudhu selanjutnya adalah menyentuh kemaluan baik itu qubul atau dubur meskipun kemaluannya sendiri. Qubul adalah kemaluan berupa jenis kelamin kita dan dubur adalah tempat keluarnya kotoran berupa feses atau sering disebut anus. Apabila kita menyentuh qubul atau dubur baik sengaja atau tidak yaitu dengan menggunakan telapak tangan dan jari-jari maka wudhu kita batal kecuali kita memakai penutup. Dan jika kita menyentuhnya dengan punggung tangan atau tangan bagian belakang maka itu tidak membatalkan wudhu.

Perlu kita ketahui bahwa, apabila kita dalam keadaan berwudhu kemudian terkena najis maka kita tidak wajib untuk mengulang wudhunya, akan tetapi baginya cukup dengan mencuci bagian yang terkena najis saja. Contoh apabila tangan terkena taik cicak maka basuhlah tangan dengan air yang suci lagi menyucikan.

Inilah beberapa hal yang harus dihindari ketika dalam keadaan berwudhu. Agar wudhu kita terus terjaga dan kita melakukan ibadah secara sah dan afdhal. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita dan semoga ibadah kita selalu diterima oleh Allah, Aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

Thursday, 19 January 2017

Rukun Wudhu dan Tata Cara Berwudhu dengan Benar Beserta Lafadz Niatnya

Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, pokok permasalahan wudhu memanglah sangat pending sebelum kita melaksankan shalat. Karena ketika melaksankan shalat maka kita harus dalam keadaan suci dari hadats kecil apalagi hadats besar. Wudhu yang merupakan kata lain dari bersuci dari hadast kecil memiliki syarat sahnya dan rukunnya serta hal yang membatalkannya. Sebeleumnya kita telah membahas syarat sah wudhu maka pada kesempatan hari ini akan kita bahas rukun wudhu dan tata cara berwudhu dengan baik dan benar. Mengetahui syarat sah wudhu adalah wajib  karena akan berakibat fatal jika kita tidak mengetahuinya. maka bagi yang belum tahu syarat sah wudhu, simaklah ulasan kami tersebut.

Perintah wudhu memang sudah tercantum dalam Al-quran Surat Al-maidah ayat 6 seperti yang berbunyi berikut ini:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ

"Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki......" (al-Maa'idah: 6)

Dan Nabi Muhammad SAW. juga bersabda tentang kewajiban wudhu sebelum shalat dan menyatakan tidak sah shalat apabila tidak berwudhu:

Abu Hurairah r.a. berkata, "Rasulullah SAW. bersabda, 'Tidaklah diterima shalat orang yang berhadats sehingga ia berwudhu.' Seorang laki-laki dari Hadramaut bertanya, "Apakah hadats itu, wahai Abu Hurairah?" Ia menjawab, "Kentut yang tidak berbunyi atau kentut yang berbunyi."

Rukun wudhu terdiri atas 6 perkara. bukan hanya sekedar 6 perkara tetapi kita harus mengetahui secara detail apa yang enam itu, yang mana saja enam perkara itu, bagaimana proses atau tata pelaksaannya dengan baik. Karena jika kita berwudhu asal-asalan alias tidak sesuai dengan tuntunan agama maka wudhu tidak akan sah dan ibadah akan sia-sia bahkan berdosa. Nah bagaimana jika kita belum mengetahui? Bagi yang belum mengetahui makanya dianjurkan untuk belajar. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini  marilah kita bahas satu persatu rukun wudhu dan tata cara berwudhu dengan baik dan benar.

Rukun wudhu ada 6 perkara:

1.    dan 2. Niat dan membasuh muka

rukun wudhu, tata cara wudhu dengan benar
Saudara-saudari semua pasti bertanya, kenapa 1 dan 2 itu bergabung? Kan begitu. Perlu diketahu bahwa, ketika kita melakukan rukun pertama yaitu niat maka harus diikuti dengan perbuatan. Karena pengertian niat berdasarkan kitab-kitab fiqh adalah niat itu harus di sertai dengan perbuatan (anniytu qadha syai’in bi fi’lihi). Dalam kasus ini, perbuatan pertama dalam wudhu adalah mengusap atau membasuh seluruh muka mulai dari telinga kanan kemudian ke rambut kepala bagian kening diikuti telinga sebelah kiri hingga turun kedagu dan kembali lagi ke telinga kanan tanpa terputus. Nah, pada saat kita membasuh muka inilah kita membacakan niat dalam hati, ingat membacanya hanya dalam hati. Adapun lafadhnya diucapkan dengan lidah dan hukumnya adalah sunnat. Mari kita lihat dan simak lafadh dan niat wudhu berikut ini:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil fardu atasku karena Allah Ta'ala

Setiap niat wajib di ucapkan dalam hati termasuk niat wudhu. Yang mana niat dan yang mana lafadh? Lafadhnya adalah yang bertulisan atau berbahasa arab sedangkan niat adalah makna dari lafadh tersebut. Diingatkan sekali lagi bahwa membaca niat beriringan dengan kita membasuh muka. Tidak boleh di lakukan setelah membasuh muka atau sebelum membasuh muka. Iringan bacaan niat dalam hati harus sama habisnya usapan kita ketika membasuh muka, contoh kita membaca niat “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil fardu atasku karena Allah Ta'ala” maka pada saat niat habis atau sampai pada bacaan “Allah ta’ala” maka pada saat itu pula usapan kita selesai. Kita boleh mengulangi usapan muka berulang-ulang hingga habis bacaan niat dalam hati kita.

3.    Membasuh dua tangan hingga siku

Semua kita tahu yang mana siku dan yang mana tangan. Aturan syara’ dalam berwudhu adalah membasuh dua tangan hingga siku atau boleh melebihkan sedikit agar bertambah yakin akan keafdhalan wudhunya. Ketika kita membasuh siku, di anjurkan untuk mengusapnya agar airnya memang benar-benar merata keseluruh bagian tangan dan siku dan apabila ada benda yang menghalangi air wudhu akan hilang dengan usapan tadi atau setidaknya kita tahu bahwa ada benda yang menghalangi baik itu berupa getah, lem atau sebagainya.

4.    Mengusap bagian rambut kepala

Bagian rambut kepada juga harus di usap. Dalam satu pendapat mengatakan mengusap sebagian kepala dan sebagian lagi mengusap rambut kepala. Mengusap rambut kepala biasanya dilakukan pada bagian rambut di kening. Pada pendapat lain mengatakan bahwa mengusap sebagian kepala itu mengusap dari kening hingga ke kepala bagian belakang. Yang terpenting adalah tidak ada  yang menghalangi air wudhu tadi. Nah, bagaimana jika orang botak atau tidak berambut? Maka baginya tetap mengusap kepala di bagian tumbuh rambut tersebut.

5.    Membasuh dua telapak kaki hingga mata kaki

Setelah mengusap rambut, kita langsung menuju kepada kaki yaitu membasuh dua telapak kaki hingga mata kaki. Mata kaki adalah bagian yang berbentuk benjolan pada kanan dan kiri kaki kedua-duanya baik kiri atau kanan. Mata kaki inilah yang menjadi batasan untuk kita membasuh dalam rukun wudhu. Usahakan membasunya lebih sedikit untuk menambah yakin atau keafdhalan wudhu kita. Lain halnya dengan orang musafir, mereka diperbolehkan untuk menyapu dua sepatu. Kita tidak membahas menyapu dua sepatu pada kesempatan ini.

6.    Tertib

Tertib adalah berturut-turut atau mendahulukan yang mana yang harus di dahulukan dan mengakiri apa yang terakhir. Yaitu mendahulukan niat dan membasuh muka diikiti membasuh dua siku, menyapu kepala dan yang terakhir adalah membasuh dua telapak kaki hingga mata kaki. Tidak boleh terbalik  atau bertukar urutan dalam mengerjakan rukun wudhu, jika bertukar maka wudhunya tidak sah. 

Dari uraian di atas sudah jelas yang mana saja rukun wudhu itu yaitu yang wajib di kerjakan saat berwudhu. Mungkin kita bertanya, kenapa membaca basmillah, membasuh tangan, berkumur-kumur dan membasuh telinga tidak ada? Ketahuilah bahwa itu semua adalah sunnat dalam berwudhu. Oleh karena itu kita di wajibkan untuk mengetahui syarat-syarat wudhu yang mana tersebut salah satu syarat wudhu adalah mengetahui yang mana yang wajib dan yang mana yang sunnat. 

Jika kita ingin memperluas area wudhu kita maka di perbolehkan dalam syariat bahkan suatu yang istimewa karena wudhu akan memancarkan cahaya pada anggota tubuh kita yang terkena wudhu. Seperti sabda nabi Muhammad SAW. Berikut ini:

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: "Sesungguhnya umatku itu akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya dari sebab bekas-bekasnya berwudhu'. Maka dari itu, barangsiapa yang dapat diantara engkau semua hendak memperpanjang (yakni menambahkan) bercahayanya, maka baiklah ia melakukannya (dengan menyempurnakan berwudhu' itu sesempurna mungkin)." (Muttafaq 'alaih)

Selain memancarkan cahaya, wudhu juga dapat melunturkan dosa-dosa yang kita miliki seperti di jelaskan oleh Rasulullah SAW.:
Barangsiapa berwudhu dengan baik keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya sampaipun dari bawah kuku-kukunya. (HR. Muslim)

Namun Nabi SAW. melarang kita berboros-borosan dalam berwudhu yaitu pemborosan air yang kita gunakan. Penggunaaan air dalam wudhu dianjurkan untuk sewajarnya saja yaitu tidak terlalu berlebihan. Berikut dasar hukumnya:

Nabi Saw melihat Sa'ad yang sedang berwudhu, lalu beliau berkata, "Pemborosan apa itu, hai Sa'ad?" Sa'ad bertanya, "Apakah dalam wudhu ada pemborosan?" Nabi menjawab, "Ya, meskipun kamu (berwudhu) di sungai yang mengalir." (HR. Ahmad)

Nah, marilah kita berwudhu dengan baik dan dengan benar sesuai dengan syariat agar dan supaya amal ibadah kita tidak sia-sia untuk dikerjakan. Dan semoga Allah SWT. selalu melimpahkan rahmat dan karunia atas kita semua atas ibadah kita kepadanya. Aamiin aamiin ya rabbal alamiin.

Artikel terkait: Hal-hal yang dapat membatalkan wudhu menurut imam syafi'i

Tuesday, 3 January 2017

Macam-macam Syarat Sah Wudhu dan Penjelasannya

Wudhu adalah membersihkan beberapa anggota badan dari hadats kecil sesuai dengan yang telah ditentukan oleh syara’. Berwudhu biasanya dilakukan ketika hendak shalat baik itu shalat fardhu dan shalat sunnat, membaca Al-quran, melangsungkan akad nikah dan lain sebagainya. Adapun hukum berwudhu adalah wajib ‘ain (kewajiban bagi setiap ummat) kecuali dalam hal-hal tertentu yang disunnahkan. Seperti yang di firmankan Allah SWT. tentang kewajiban wudhu berikut ini:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ 

"Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki......" (Surat Al-Maa'idah: 6)

Sebelum mengetahui apa saja yang termasuk dalam rukun wudhu dan apa saja yang membatalkan wudhu, maka wajib kita mengetahui yang mana syarat sah untuk kita lakukan wudhu. Karena jika kita tidak mengetahui syarat-syaratnya maka otomatis wudhu kita tidak akan sah dan otomatis shalat yang akan kita kerjakan juga tidak akan sah. Bagaimana kita akan melakukan wudhu dengan benar jika syarat yang membuat dia sah saja tidak kita ketahui. Maka sebelum kita masuk rukun wudhu, marilah kita bahas syarat sah wudhu.

Syarat  sahnya wudhu menurut Imam Syafi'i ada 6 (enam) perkara:

1.    Islam

Orang yang hendak melakukan wudhu hendaklah dia beraga islam. Jika orang itu beragama selain islam maka tidak akan sah wudhunya apalagi menjalani shalat dan amalan lain. Seseorang dikatakan beragama islam apabila telah mengucapkan dua kalimah syahadat dengan hati tulus dan ikhlas. Selain itu, dia juga malakukan amalan yang mencerminkan seorang muslim sebagai bukti kepada syariat bahwa dia benar-benar seorang muslim yang benar.

2.    Tamyiz (Berakal)

Tamyiz adalah mampu atau bisa membedakan sesuatu yang baik dan yang buruk. Misalnya seseorang tahu itu najis atau bukan, tahu itu kotora atau bukan, mengetahui perbuatan ini merupakan perbuatan baik atau perbuatan buruk. Dengan kata lain seorang yang sudah mampu membedakan sesuatu yang baik untuk dikerjakan atau buruk untuk di kerjakan maka orang itu di katakan tamyiz atau mumayyiz. Lebih singkatnya adalah orang yang berakal.

3.    Tidak berhadas besar

Untuk menghilangkan hadas kecil, maka kita juga harus menghilangkan hadas besar. Ada beberapa penyebab seseorang berhadas besar, dianatarnya bersetubuh atau bersenggama atau berhubungan badan antara laki-laki dan perempuan, bermimpi basah (biasanya yang baru sampai umur), haid, nifas, wildah, jenabah dan lain sebagainya. Setiap orang yang berhadats besar maka wajib baginya mandi terlebih dahulu kemudia melaksankan wudhu untuk shalat.

4.    Dengan air suci lagi menyucikan

syarat sah wudhu, tata cara wudhu dengan benar, ada berapa syarat sah wudhu, pengertian wudhu
Ada perbedaan dalam pembagian air, ada air suci lagi menyucikan, air suci tapi tidak menyucikan, air musyammas dan air mutanasi. Hanya air yang suci lagi menyucikan yang diperbolehkan untuk melakukan wudhu. Yang mana saja air suci lagi menyucikan? Adapaun air suci lagi menyucikan adalah air sungai, air laut, air telaga atau danau, air hujan, air salju, air embun air mata air dan air sumur. Air suci tapi tidak menyucikan adalah air yang suci tapi tidak boleh di gunakan untuk berwudhu dan menyucikan hal-hal lain, contoh air kelapa, air susu, air kopi, air teh dan sejenisnya. Kemudia air musyammas adalah air yang dipanaskan dengan atau oleh mata hari, maka dengan air ini tidak boleh berwudhu. Sebagian pendapat mengatakan bahwa boleh menggunakan air musyammas untuk berwudhu akan tetapi hukumnya makruh (lebih baik meninggalkannya). Dan bermula air yang bernajis adalah air yang bekas pakai dan air yang jatuh najis ke dalamnya. Baik itu bangkai atau najis lainnya yang menyebabkan berubah rasa, warna dan bau pada air tersebut. Adapun air suci tapi tidak boleh di masukkan tangan atau mencelupkan tanggan apabila air itu tidak sampai 2 qulah (dua kulah (tempatnya persegi panjang yang mana panjangnya, lebarnya,dalamnya 1 1/4 hasta.kalau tempatnya bundar maka garis tengahnya 1 hasta, dalam 2 ¼ hasta, dan keliling 3 1/7hasta atau 50 cm persegi)

5.    Tidak ada sesuatu yang menghalangi air ke anggota wudhu

Adapun rukun wudhu yang selanjutnya adalah tidak ada yang menghalangi air kepada anggota wudhu. Maknanya adalah pada setiap anggota wudhu, baik itu wajah, tangan, kaki dan lainya tidak ada benda atau sesuatu yang menghalangi sampainya air kepada anggota tersebut. Sebagai contohnya adalah apabila anggota wudhu salah satunya melekat lem yang tidak masuk air atau berupa getah baik itu getah alam atau getah buatan atau sesuatu yang lain yang mencegah masuknya air kepada anggota tubuh, maka wudhunya tidak sah. Kita harus menghilangkan yang menghalangi itu terlebih dahulu kemudia mengulangi wudhu. Begitu juga dengan tato, apabila orang bertato maka wudhunya tidak akan sah karena tato akan menghalangi air masuk atau membasahi anggota wudhu. Lain halnya dengan inai atau pacar itu dibolehkan karena tidak menghalangi air berbeda dengan kutek atau sejenisnya maka ini tidak boleh.

6.    Mengetahui mana rukun yang wajib dan yang sunnat

Mengetahui mana yang wajib (fardhu) dan yang mana yang sunat yang sering banyak kita jumpai. Banyak kalangan baik itu remaja, dewasa, orang tua yang tidak tahu-menahu tentang yang mana wajib dan yang mana yang sunat. Sehingga mereka tidak mampu membedakan apakah rukun wudhu yang ini memang wajib dan apakah sunnat. Perlu diketahui bahwa selain yang fardhu atau yang termuat dalam rukun wudhu maka itu adalah sunnat wudhu. Seperti contoh berkumur, membasuh tangan, memasukkan air dalam hidung, membasuh telinga itu adalah sunnat. Yang perlu kita ketahui adalah fardhu atau rukun wudhu sehingga kita akan tahu yang mana yang sunnat. Harus digaris bawahi bahwa sunnat wudhu harus sesuai dengan syariat yang berlaku sehingga tidak terjadi penyimpangan.

Nah, itulah ulasan tentang syarat sahnya wudhu yang wajib kita ketahui sebagai bekal untuk melaksanakan wudhu dengan benar. Perlu digaris bawahi bahwa jika salah satu syarat di atas tidak memenuhi maka tidak sah wudhunya. Mengenai rukun wudhu akan kita bahas dalam artikel berikutnya. Penulis berharap dapat memberi manfaat bagi penulis sendiri dan juga pembaca dan selanjutnya semoga diredhai oleh Allah SWT. aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

Artikel terkait: Hal-hal yang dapat membatalkan wudhu menurut imam Syafi'i