Saturday, 18 February 2017

10 Macam Adab Membaca Al-Quran Bagi Laki-Laki dan Perempuan Beserta Dalilnya

Adab adalah berbagai aturan atau norma yang berlaku terkait sopan santun berdasarkan aturan agama, terutama Agama Islam. Ternyata, Norma tidak hanya tentang adab yang digunakan dalam pergaulan antara manusia, antar tetangga, dan antar kaum, akan tetapi juga terhadap kitabullah yaitu Al-quranul karim. Adapun mengapa kita harus  memperhatikan adab ketika berhadapan yaitu membaca Al-quran adalah karena kemuliaan, kesucian dan keluhuran Firman Allah yang terkandung di dalamnya sebagai sumber hujah (hukum) dalam hidup di dunia dimanapun kita berada. Selain itu juga untuk mencapai pahala yang sempurna bagi kita sebagai bekal menuju akhirat. Seperti yang disabdakan Nabi SAW. berikut ini:

Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan sunnah Rasulullah SAW.. (HR. Muslim)

Selain sebagai sumber Hukum, Al-quran adalah kitabullah yang sedikitpun tidak mengandung kebathilan di dalamnya. Al-quran yang merupakan petunjuk dan pemberi kabar gembira serta peringatan kepada kita adalah sumber ilmu yang tiada tara dibandingkan dengan sumber ilmu apapun di dunia ini karena semua ilmu telah terkandung di dalamnya. Hanya orang-orang yang mau berfikir saja yang dapat menuai ilmu di dalam Al-quran tersebut.

adab membaca alquran
Adab dalam membaca Al-quran sangatlah penting kita ketahui karena kita akan berhadapan dengan kalamullah yang suci. Mengapa adab itu perlu? Karena adab itu di atas ilmu yang kita miliki. Jika seseorang memiliki adab maka dia seakan-akan atau tampak memiliki ilmu yang tinggi. Begitu juga sebaliknya, apabila seseorang yang memiliki ilmu tinggi tetapi tidak memiliki adab maka akan terlihat sebagai orang yang tak berilmu. Sebagai mana Rasullullah telah bersabda:

Al adabu fauqal ilmi: "adab/akhlaq adalah diatas ilmu"

Kemudian Rasulullah juga telah bersabda dalam hadits berikut tentang ketinggian adab tersebut:
"Sesungguhnya aku diutus  ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia".

Ada beberapa adab membaca Al-quran yang harus kita ketahui, baik dari segi membaca, memegang atau bahkan berhadapan dengan kalamullah tersebut agar mencapai pahala yang sempurna. Marilah kita membahas satu-persatu.

Adab Membaca Al-Qur’an ada 10 perkara:

1.    Menghadap kiblat,

Dalam membaca Al-quran, kita di sunnahkan untuk menghadap kiblat yaitu Ka’bah Baitullah di Mekkah. Berbeda dengan shalat yang mewajibkan kita untuk mengahadap kiblat. Ketika kita membaca Al-quran tetapi tidak memungkinkan untuk menghadap ke kiblat maka boleh kita menghadap kearah mana saja seperti membaca lewat komputer, membaca di atas kendaraan, membaca di tempat yang tidak kita ketahui kiblatnya dan lain sebagainya. 

Seperti halnya kita berbicara kepada seseorang dengan berhadapan maka begitu pula ketika kita berhadapan dengan Al-quran. Jika kita menghadap kiblat berarti kita berkomunikasi dengan berhadapan langsung dengan Allah SWT. dengan artian bahwa lebih afdhal apabila kita menghadap kiblat. 

2.    Membersihkan gigi sebelum membaca Al-quran.

Biasanya kita membersihkan gigi ketika hendak berjumpa dengan seseorang yang istimewa, ketika hendak pergi kerja, sebelum tidur atau dalam keadaan tertentu. Sangat jarang orang membersihkan giginya ketika membaca Al-quran padahal kita disunnahkan untuk membersihkan gigi ketika hendak membaca Al-quran sebagai Adab dalam membacanya.

Pada zaman yang serba canggih ini, membersihkan gigi sudah berbeda dengan zaman Nabi SAW. yaitu menggunakan Siwak. Meskipun masih ada pada zaman sekarang yaitu membersihkan gigi dengan Siwak, kebanyakan kita membersihkan gigi dengan sikat gigi dan odol. Apapun bentuknya, Agar kita mencapai pahala yang sempurna maka bersihkanlah gigi kita sebelum mengaji atau membaca Al-quran dengan niat Lillahita’ala.

3.    Suci dari hadats kecil dan besar.

Apabila kita berhadats kita sangat dilarang untuk menyentuh atau membaca Al-quran. Baik itu hadats besar atau hadats kecil, kita diwajibkan untuk bersuci terlebih dahulu sebelum membaca atau memegang Al-quran. Adapun contoh hadats kecil adalah orang yang tidak berwudhu. Bagi orang yang tidak berwudhu maka baginya haram memegang Al-quran terkecuali Al-quran yang memiliki terjemahan atau berupa tafsir. Artian bahwa lebih banyak tulisan lain selain Kalamullah dalam bahasa arab, contohnya tafsir Al-Quran.

Begitu juga dengan hadats besar, ketika kita sedang berhadat besar maka kita dilarang untuk membaca atau memegang Al-quran. Contoh hadats besar yaitu haid, nifas, wiladah jenabah, berhubungan badan, bermimpi dan lain sebagainya. Suci dari hadats merupakan adab yang sangat ditekankan untuk dilaksanakan. Akan tetapi apabila kita dalam keadaan mudharat maka boleh memegang Al-quran.

4.    Membaca dalam keadaan suci dari najis, dengan duduk yang sopan dan tenang.

Dalam membaca Al-quran, di sunnahkan untuk suci dari najis. Berbeda dengan hadats yaitu wajib kita untuk membersihkannya terlebih dahulu. Apakah kita akan menghadap dengan Allah SWT. dalam keadaan bernajis sedangkan kita menghadap dengan para pejabat selalu dalam keadaan bersih? Bukankah Allah SWT. itu lebih Mulia? Maka oleh sebab itu, bersihkanlah badan dan pakaian dari najis sebelum membaca Al-quran agar mencapai pahala yang baik.

Menurut imam Haromain, boleh membaca Alquran dalam keadaan bernajis. Seperti kata beliau “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59)

Selain bersih dari najis, kita juga di anjurkan untuk duduk dengan sopan dan tenang. Duduk yang sopan adalah duduk yang memiliki nilai adab. Contoh duduk silang, duduk seperti duduk antara dua sujud , duduk seperti duduk tasyahud/ tahiyat, dan duduk lain yang sopan.

4.    Membaca dengan khusyu’, tafakkur dan tadabbur (merenungi isi kandungan Al-Qur’an) dan disunnahkan untuk menangis jika membaca ayat-ayat azab (siksaan).

Khusyuk dalam membaca Al-quran adalah membaca Al-quran dengan penuh penyerahan dan kebulatan hati,  sungguh-sungguh, penuh kerendahan hati. Sedangkan Tafakur dalam membaca Al-quran adalah merenungi isi Al-quran dengan melihat, menganalisa, meyakini secara pasti untuk mendapatkan keyakinan terhadap Al-quran dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah SWT.. Tafakur dalam Islam akan meningkatkan tauhid, keyakinan dan kepercayaan kepada Allah SWT. berdasarkan akal pikiran dan perasaan atau hati. Dan Tadabbur adalah perenungan yang menyeluruh terhadap Al-quran untuk mengetahui maksud dan makna dari suatu ungkapan secara mendalam. Jadi jelas sekali khusyu, tafakkur dan tadabbur saling berkesinambungan. Allah SWT. juga telah menjelaskan dalam Al-quran tentang hamba-hambanya yang shalih yaitu:

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًۭا 

 “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’ ayat 109). 

Dengan adanya khusyuk, tafakkur dan tadabbur dalam membaca Al-quran akan membuat kita menangis dan itu terjadi dengan sendirinya. Apalagi memang di sunnahkan untuk menangis ketika membaca ayat-ayat tentang azab. Akan tetapi, kita tidak di anjurkan untuk berpura-pura menangis karena Allah SWT. maha tahu terhadap hamba-Nya yang benar-benar tulus.

Bagaimanakah kita mengetahui itu ayat-ayat tentang azab sedangkan kita tidak bisa berbahasa arab? Nah, walaupun kita tidak bisa berbehasa arab maka baca juga tafsir Al-quran. Dengan demikian kita akan tahu yang mana ayat-ayat tantang azab atau bukan.

5.    Memperhatikan bacaan dan berbekas dihati, tidak tertawa atau memperhatikan dan memikirkan masalah yang lain.

Hampir sama dengan ulasan dengan di atas tadi yaitu khusyu, tafakkur dan tadabbur. Memperhatikan bacaan dengan tidak tertawa adalah adab yang harus kita perhatikan dalam membaca Al-quran. Jika seseorang bermain-main dalam membaca A-quran maka ini sungguh perbuatan yang tidak beradab. Jika sedang membaca Al-quran hendaklah fokus dan pusatkan perhatian padanya dan jauhkan perbuatan lain agar pahala kita sempurna.

6.    Membaca dengan suara yang merdu (membaguskan suara). Jika tidak bisa membaguskan suara maka sekurang-kurangnya sesuai dengan tajwid. 

Siapa yang tidak senang mendengar Al-quran dengan alunan merdu? Anak-anak saja mendapatkan kedamaian apalagi orang-orang yang benar-benar beriman. berbeda dengan orang yang sudah buta mata hatinya, walau bagaimanapun mereka mendengar lantunan Al-quran tetap saja tidak akan peka. Maka bacalah Alquran dengan suara merdu atau berirama minimal dengan tajwid Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

 “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). 

Dalam hadits lain Rasulullah Bersabda,

 “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Maksudnya adalah membaca Al-quran dengan memperhatikan tajwidnya (panjang pendeknya, makhrajnya (tempat keluarnya huruf-huruf), susunan bacaan, tanda baca. Atau dengan irama yang bagus baik itu bayyati, nahwan, atau lainnya asalkan jangan mengolok-ngolok bacaan Al-quran. Menyayikan musik atau lagu saja bisa kita lakukan lantas mengapa kita enggan melakukannya ketika membaca Al-quran.

7.    Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah (kalimat ta'awudz, yaitu ucapan atau kalimat untuk memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan). 


Sudah sering kita mendengan bacaan Al-quran dengan permulaan “A’UZUBILLAHIMINASYSYAITHANIRRAJIIM” yang artinya aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk. Kenapa kita baca demikian? Karena syaithan senantiasa menggoda anak adam dalam beribadah kepada Allah SWT. termasuk dalam membaca Al-quran. Maka kita dianjurkan untuk membaca bacaan isti’adhah karena Allah adalah sebaik-baiknya pelindung. Selain itu, Allah SWT. juga telah berfirman:

فَإِذَا قَرَأْتَ ٱلْقُرْءَانَ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

 “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl ayat 98)

8.    Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat dengan tujuan yaitu agar kita menghayati kandungannya


Membaca dengan tartil adalah membaca Al-quran dengan tidak terlalu cepat atau dengan kata lain disebut pelan-pelan. Jika kita membaca Al-quran dengan terlalu cepat dan mengkhatamnya dengan cepat sudah pasti kita tidak mengetahui kandungan dalam ayat yang kita baca tersebut. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW. berikut ini:

 “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)
Dan dalam hadits lain:

Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rasulullah telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim). 

Mengkhatam Al-quran yang seperti ini adalah Sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa sahabat Nabi SAW. yaitu Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan,  Zaid bin Tsabit dan lain-lainnya.

9.    Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras 

Rasulullah SAW. bersabda,
“Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). 

Kita yang setiap hari bermunajat kepada Allah sudah pasti memerlukan suasana damai agar ibadah kita khusyu termasuk di dalamnya shalat. Apabila salah seorang di sekitar kita sedang shalat maka pelankanlah suara bacaan Al-quran agar orang lain juga damai dalam beribadah. Membaca Al-quran tidak diharuskan dengan bacaan yang besar akan tetapi dengan bacaan yang benar dan khusyuk. Maka itulah yang sangat diperlukan dalam membaca Al-quran.

10.    Membaca Al-quran dengan menutup aurat

Sudah menjadi ketentuan dalam beribadah untuk menutup aurat. Apa jadinya membaca Al-quran dengan tidak menutup aurat. Baik itu bagi laki-laki atau perempuan kita dianjurkan untuk menutup aurat ketika membaca Al-quran. Menutup aurat juga berarti memakai pakaian yang sopan yang sesuai syariat. Bahkan berdosa jika kita membaca Al-quran tanpa menutup aurat. Maka perhatikan terlebih dahulu aurat yang terbuka dan menutupinya sebelum melanjutkan membaca Al-quran.

Baca juga: Adab dan Cara Berpakaian Didalam Islam Untuk Laki-Laki dan Perempuan

Demikian saja pembahasan kita tentang adab membaca Al-quran. Semoga memberi manfaat terutama bagi penulis dan kemudia para pembaca. Semoga amalan kita di terima oleh Allah SWT. dengan pahala yang sempurna, aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

Artikel terkait: Keutamaan membaca Al-quran