Tuesday, 25 April 2017

Asal Mula Azan Dua-Dua Kali

Suatu lantunan yang luar biasa yang disebut Azan terus menggema disetiap penjuru dunia. Tidak hanya diwilayah muslim bahkan di daerah yang mayoritas non muslim juga ikut dikumandangkan oleh para muslim di tanah tersebut. Lantuna yang tidak ada perubahan dari waktu ke waktu itu dikumandangkan setiap hari dalam lima waktu shalat atau 5 (lima) kali dalam 24 (dua puluh empat) jam atau bahkan lebih.

Ada sebagian yang memang dalam shalat sunat juga dikumandangkan  lantunan adzan seperti pada shalat gerhana, shalat tarawih dan lain-lainnya. Namun, pada shalat yang lima kebanyakan di negeri islam terutama negeri kita indonesia selalu melantunkan adzan. Walaupun demikian, tidak dapat disangkal bahwa, seiring perjalanan waktu dan pergantian siang dan malam, ada sebagian daerah yang walaupun merupakan daerah indonesia yang masih tergolong negara islam ada yang sudah jarang mengumandangkan adzan setiap masuk waktu shalat atau sembahayang. 


Bagaimana kita menghadapi situasi seperti ini? yaitu dengan sosialisasi atau pengajian-pengajian untuk mempedalam pengetahuan agama di desa-desa dan surau-surau. Memberikan pendidikan agama kepada golongan masyarakat atau membangun suatu majelis ta’lim yang diselengggarakan dalam hari tertentu. Apakah ini penting, penting karena untuk membangun kembali marwah agama yang telah hilang ditelan globalisasi. Dimana adzan yang merupakan kebiasaan bahkan sunnah yang telah hilang agar kembali menggema dipelosok negeri kita.

Kaum muslimin yang berbahagia
Mungkin ada diantara kita yang ingin bertanya Apakah hal yang membedakan antara adzan dan iqamah? Bisa saja itu ada karena mungkin ada yang masih awam tentang dunia islam atau ada yang ingin kembali kejalan ilahi. Maka kini akan kita bahas permasalahan tersebut.

Sebenarnya tidak sulit untuk memebedakan antara adzan dan iqamah, dengan mendengarnya saja kita sudah tahu bahwa adzan itu diucapakan duakali-duakali (kecuali Allaahuakbar dan laailaahaillallah yang tearkhir). Tapi apakah ada perbedaaan yang lain? Ya, ada. Apakah itu? Berikut penjelasannya. Azan merupakan ucapan kalimat-kalimat tertentu untuk memberitahu waktu shalat telah tiba sedangkan iqmah adalah ucapan kalimat-kalimat tertentu yang menandakan bahwa shalat akan segera dimulai. Pada lantunan azan subuh, setelah lantunan HAYYALALFALAH, maka ditambah dengan ucapan ASSHALTUKHAIRUMMINANNAUM yang berarti bahwa shalat lebih baik dari pada tidur. Ini memberitahu atau menyeru kepada kita tentang kebaikan shalat. Selain dari pada itu, dalam ucapan iqamah adanya kalimat 'Qad qaamatish shalah (shalat telah dikumandangkan) '.yang diucapkan dua kali dan yang mana kalimat ini tidak di ucapkan dalam lantunan adzan.

Namun demikian, mengapa adzan diucapakan duakali-duakali, apakah ada hadist atau sabda rasul tentang ini? Tepat sekali, berikut adalah hadits yang menjelaskan tentang tuntunan adzan yang diajarkan Rasulullah SAW.

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَأَنْ يُوتِرَ الْإِقَامَةَ قَالَ إِسْمَاعِيلُ فَذَكَرْتُ لِأَيُّوبَ فَقَالَ إِلَّا الْإِقَامَةَ

Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Khalid dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik berkata, Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan kalimat adzan dengan genap (dua kali dua kali) dan mengganjilkan iqamat. Isma'il berkata, Aku sampaikan masalah ini kepada Ayyub, lalu ia berkata, 'Kecuali kalimat iqamat 'Qad qaamatish shalah (shalat telah dikumandangkan) '. (Shahih Bukhari nomor: 572)

Kaum muslimin seiman seagama yang dirahmati Allah swt.
Sesungguhnya adzan itu adalah lantunan yang luar biasa. Dimana banyak keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya. Mungkin dilain hari kita akan membahas lebih jelas tentang keistimewaan atau keutamaan adzan. Namun pada hari ini kita akan membahas sedikit tentang keutamaan adzan tersebut. Sebelum itu marilah kita lihat hadits berikut:
  
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ الْأَنْصَارِيِّ ثُمَّ الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ لَهُ إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abdurrahman bin Abdullah bin 'Abdurrahman bin Abu Sha'sha'ah Al Anshari Al Mazini dari Bapaknya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa'id Al Khudri berkata kepadanya, Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (pengembalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu'adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat. Abu Sa'id berkata, Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. (Shahih Bukhari nomor: 574)

Nah saudara-suadaraku yang beriman. Sungguh sangat luar biasa lantunan adzan. Hadits di atas Memberitakan kepada kita, untuk mengeraskan suara adzan agar setiap orang yang mendengar adzan yang kita kumandangkan, baik itu manusia, jin, malaikat, binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan dan makhluk lainnya akan menjadi saksi dihari kiamat. Bayangkan saja, berapa orang dimuka bumi ini yang dapat mendengar adzan kita, berapa jin, berapa hewan, berapa malaikat, berapa tumbuhan dan lain sebaginya yang akan naik saksi untuk kita nanti. Sungguh sangat luar biasa. Walau demikian ingatlah, IKHLAS adalah kuncinya. Mengapa harus ikhlas, kan begitu? Ikhlas adalah kunci segala pahala, karena sesuatu dilakukan tanpa ikhlas alias ria tau untuk mendapatkan pujian maka ibadah kita sia-sia. Ingat firman Allah :


وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ 

 "Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya sama menyembah Allah, dengan tulus ikhlas menjalankan agama untuk-Nya semata-mata, berdiri lurus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat dan yang sedemikian itulah agama yang benar." (QS. Al-Bayyinah Ayat 5)

Bagaimana sahabat beriman, jelas bukan. Allah menganjurkan kita untuk beribadah secara ikhlas. Maka dari itu lakukanlah sesuatu itu dengan ikhlas tanpa pamrih atau mendapat pujian dari pulan atau siapapun itu.
Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aaminn aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Friday, 7 April 2017

Hubungan Ilmu, Iman dan Amal Shaleh dalam Islam

Kemanapun kita pergi dan dimanapun dunia yang kita pijaki, kita dituntut untuk senantiasa beramal baik sesuai dengan syariat dan sunnah Rasulullah. Tidak mesti di darat atau di laut maka kita wajib untuk beramal shalih. Karena amal-amalan inilah yang akan menentukan kehidupan kita baik diakhirat nanti. Semakin banyak amalan baik yang kita lakukan maka akan semakin baik kedudukan kita diakhirat nanti. 


Tidak hanya itu, amalan bukanlah menjadi faktor utama untuk memcapai segala kenikmatan akhirat tersebut. Kita butuh yang namanya iman dalam beribadah. Iman inilah yang menjadi faktor utama kita sesudah ilmu. Karena iman diperoleh  sesudah ilmu. Dengan ilmu inilah muncul yanng namanya iman dan adapun amalan tanpa iman adalah sia-sia. Dengan kata lain, amalan tanpa didasari iman tidak akan diterima disisi Allah SWT.. yang dikatakan iman adalah iman yang mana saja yang merangkum dalam rukun iman, baik itu beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat-Nya, Beriman kepada kitab-Nya, Beriman Kepada Rasul-Nya, beriman kepada hari kiamat atau hari pembalasan, beriman kepada qada dan qadar (untung baik dan untukng buruk). Karena ini merupakan pokok keimanan dan menjadi faktor penentu diterimanya suatu perbuatan seperti yang disabdakan nabi SAW. Berikut ini,

Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR. Ath-Thabrani)

Ketika kita beriman kepada Allah, maka hakikatnya ibadah kita semata karena Allah dan kita akan takut mengerjakan amalan-amalan jahat. Iman kepada Allah meliputi mengetahui sifat-sifat Allah sehingga kita tahu kekuasaan Allah itu tidak ada batasnya. Selain itu, kita juga akan senantiasa bersyukur atas apa yang telah Allah anugrahkan kepada kita. Begitu juga ketika kita beriman kepada malaikat, kita akan sadar bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan akan dicatat oleh malaikat sebagai catatan atas buku yang kita miliki untuk kita pertanggungjawabkan dikahirat kelak. Sehingga dengan keimanan ini kita akan senantiasa beramal dengan sepenuh keyakinan dan karena takut kepada azab Allah SWT diakhirat nanti. 

Tidak jauh berbeda dengan beriman kepada Allah dan malaikat, beriman kepada kitab Allah sebagai firman Allah sekaligus sebagai sumber hukum dan pedoman dalam kita menjalani hidup akan menuntun kita kejalan yang benar sehingga bukan tidak mengkin setiap perbuatan kita akan didasari pada Al quran (kitab Allah). Dengan demikian, amal yang kita lakukan akan sesuai sebagaiman syariat dan in syaa Allah akan diterima disisi Allah SWT.. diikuti dengan beriman kepada Rasul-rasul Allah sebagai pembawa berita gembira dan peringatan dari Allah SWT.. seperti firman Allah berikut ini,

كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ وَمَا ٱخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ مِنَ ٱلْحَقِّ بِإِذْنِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍ

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. AL BAQARAH :213)

Dengan diutusnya rasul inilah turunnya kitab-kitab Allah tadi. Ketika kita beriman kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para Rasul secara otomatis kita beriman kepada rasul yang diutus. Selain rasul yang telah diutus dengan kitab-kitab, ada juga rasul-rasul yang diutus tanpa adanya kitab yang diturunkan kepadanya namun tetap membawa peringatan dan berita gembira bagi umat atau kaumnya dan membawa kepada petunjuk yang benar atau jalan yang lurus dengan izin Allah. Adapun peringatan itu adalah berupa siksaan dan azab yang akan ditimpa bagi siapa saja yang murka dan enggan melaksankan perintah Allah serta menyekutukan-Nya. Sedangkan berita gembira adalah kebalikan dari peringatan tadi yaitu ganjaran pahala dan syurga bagi siapa saja yang taat dan patuh pada perintah Allah SWT.. Berita-berita yang dikabarkan adalah dalambentuk hadits atau perkataan-perkataan beliau yang menjuru kepada amalan kebaikan.

Beriman kepada hari kiamat merupakan iman dimana kita percaya akan adanya hari pembalasan. Hari dimana manusia di bumi lenyap kemudian dihidupakan kembali dengan kehendak-Nya dan dikumpulkan di padang yang sangat luas yang sering kita kenal atau sebut dengan Padang Mahsyar. Pada saat itulah kita akan dipertanyakan apa saja yang telah kita lakukan di dunia ini seperti yang telah Nabi SAW. Jelaskan dalam hadits berikut ini,

Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan. (HR. Ahmad)

Nah, dengan adanya iman kepada hari kiamat atau hari pembalasan ini, kita semakin yakin bahwa setiap amalan kita akan diberi ganjalan sesuai apa yang telah kita kerjakan. Tidak hanya amalan baik, namun amalan buruk pun akan diganjarnya. Tidak hanya amalan yang besar bahkan amalan kecilpun akan tetaap diperhitungkan, seperti firman Allah berikut ini,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا يَرَهُۥ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zalzalah ayat 7-8)

Seperti yang telah kami jelaskan pada ulasan yang lalu tentang amal perbuatan manusia sebagi bekal menuju akhirat bahwa yang dimaksud zarrah adalah suatu partikel kecil yang sangat kecil dari debu. Yang mana menimbangnya saja sangat sulit tapi diakhirat nanti akan diperhitungkan.

Iman yang terakhir adalah beriman kepada untung baik dan untung jahat merupakan keimanan pokok kita yang terakhir. Ini merupakan ketentuan dari Allah sebelum Allah membuat semua makhluk ini, yang baik maupun yang jahat. Jadi segala macam kejadian adalah dengan kehendak Allah yang telah dipastikan sejak zaman azali dulu yaitu zaman sebelum Allah membuat apa-apa. Tetapi kita jangan lupa berikhtiar, karena kita telah diberi akal oleh Allah untuk mengusahakan bagaimana jalannya agar kita tetap bernasib baik dan terjauh dari nasib buruk. Kita tetap harus berdaya-upaya selama hayat dikandung badan. Seperti halnya ketika Nabi Musa berdakwa dengan nabi Adam tentang diturunkannya Nabi Adam kedunia ini. Nabi musa menyalahkan nabi adam karena kesalahan Nabi Adamlah kita semua tidak menghuni syurga. Lalu dengan sontak nabi Adam menjawab “apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?. Lalu Nabi Musa kalah berdebat dengan Nabi Adam. Adapun kisah ini pernah dijelaskan oleh Rasulullah dalam Haditsnya, 

Rasulullah saw. bersabda: Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: Wahai Adam, kamu adalah nenek moyang kami, kamu telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: Kamu Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku? Nabi SAW. bersabda: Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa, akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa. (Shahih Muslim No.4793)

Jadi jelas bahwa semua kejadian yang kita alami memang sudah tertulis sejak kita belum lahir kedunia ini. Dalam satu riwayat pernah Rasulullah menjelaskan bahwa, semua kejadian yang akan terjadi ketika kita didunia, semuanya telah ditentukan sejak kita berada dalam kandungan ibu, baik itu rezki, ajal, amal serta kebahagian atau tidak, untuk lebih jelasnya mari simak ulasan kami dalam artikel lainnya.


Kaum muslimin yang berbahagia,
Amal perbuatan yang dianjurkan itu sangat banyak dan seiring perkembangan zaman banyak bid’ah-bid’ah hadir dikalangan kita. Maka apakah amalan tanpa perintah atau dasar Al-quran dan Hadits ini akan diterima di sisi Allah? Simak hadist berikut :

Barangsiapa melakukan amal perbuatan yang bukan atas perintah kami maka itu tertolak. (HR. Muslim)
Yang dimaksud adalah amal perbuatan yang berhubungan dengan pelaksanaan peribadatan. Nah, sudah sebaiknya kita waspadai dan kita antisipasi kemunculan bid’ah-bid’ah ini dengan memperdalam ilmu-ilmu agama sehingga kita terbebas dari amalan yang sia-sia. Aamiin aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Artikel terkait : Keutamaan menuntut ilmu dalam islam