Hubungan Ilmu, Iman dan Amal Shaleh dalam Islam

Kemanapun kita pergi dan dimanapun dunia yang kita pijaki, kita dituntut untuk senantiasa beramal baik sesuai dengan syariat dan sunnah Rasulullah. Tidak mesti di darat atau di laut maka kita wajib untuk beramal shalih. Karena amal-amalan inilah yang akan menentukan kehidupan kita baik diakhirat nanti. Semakin banyak amalan baik yang kita lakukan maka akan semakin baik kedudukan kita diakhirat nanti. 


Tidak hanya itu, amalan bukanlah menjadi faktor utama untuk memcapai segala kenikmatan akhirat tersebut. Kita butuh yang namanya iman dalam beribadah. Iman inilah yang menjadi faktor utama kita sesudah ilmu. Karena iman diperoleh  sesudah ilmu. Dengan ilmu inilah muncul yanng namanya iman dan adapun amalan tanpa iman adalah sia-sia. Dengan kata lain, amalan tanpa didasari iman tidak akan diterima disisi Allah SWT.. yang dikatakan iman adalah iman yang mana saja yang merangkum dalam rukun iman, baik itu beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat-Nya, Beriman kepada kitab-Nya, Beriman Kepada Rasul-Nya, beriman kepada hari kiamat atau hari pembalasan, beriman kepada qada dan qadar (untung baik dan untukng buruk). Karena ini merupakan pokok keimanan dan menjadi faktor penentu diterimanya suatu perbuatan seperti yang disabdakan nabi SAW. Berikut ini,

Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR. Ath-Thabrani)

Ketika kita beriman kepada Allah, maka hakikatnya ibadah kita semata karena Allah dan kita akan takut mengerjakan amalan-amalan jahat. Iman kepada Allah meliputi mengetahui sifat-sifat Allah sehingga kita tahu kekuasaan Allah itu tidak ada batasnya. Selain itu, kita juga akan senantiasa bersyukur atas apa yang telah Allah anugrahkan kepada kita. Begitu juga ketika kita beriman kepada malaikat, kita akan sadar bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan akan dicatat oleh malaikat sebagai catatan atas buku yang kita miliki untuk kita pertanggungjawabkan dikahirat kelak. Sehingga dengan keimanan ini kita akan senantiasa beramal dengan sepenuh keyakinan dan karena takut kepada azab Allah SWT diakhirat nanti. 

Tidak jauh berbeda dengan beriman kepada Allah dan malaikat, beriman kepada kitab Allah sebagai firman Allah sekaligus sebagai sumber hukum dan pedoman dalam kita menjalani hidup akan menuntun kita kejalan yang benar sehingga bukan tidak mengkin setiap perbuatan kita akan didasari pada Al quran (kitab Allah). Dengan demikian, amal yang kita lakukan akan sesuai sebagaiman syariat dan in syaa Allah akan diterima disisi Allah SWT.. diikuti dengan beriman kepada Rasul-rasul Allah sebagai pembawa berita gembira dan peringatan dari Allah SWT.. seperti firman Allah berikut ini,

كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ وَمَا ٱخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ مِنَ ٱلْحَقِّ بِإِذْنِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍ

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. AL BAQARAH :213)

Dengan diutusnya rasul inilah turunnya kitab-kitab Allah tadi. Ketika kita beriman kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para Rasul secara otomatis kita beriman kepada rasul yang diutus. Selain rasul yang telah diutus dengan kitab-kitab, ada juga rasul-rasul yang diutus tanpa adanya kitab yang diturunkan kepadanya namun tetap membawa peringatan dan berita gembira bagi umat atau kaumnya dan membawa kepada petunjuk yang benar atau jalan yang lurus dengan izin Allah. Adapun peringatan itu adalah berupa siksaan dan azab yang akan ditimpa bagi siapa saja yang murka dan enggan melaksankan perintah Allah serta menyekutukan-Nya. Sedangkan berita gembira adalah kebalikan dari peringatan tadi yaitu ganjaran pahala dan syurga bagi siapa saja yang taat dan patuh pada perintah Allah SWT.. Berita-berita yang dikabarkan adalah dalambentuk hadits atau perkataan-perkataan beliau yang menjuru kepada amalan kebaikan.

Beriman kepada hari kiamat merupakan iman dimana kita percaya akan adanya hari pembalasan. Hari dimana manusia di bumi lenyap kemudian dihidupakan kembali dengan kehendak-Nya dan dikumpulkan di padang yang sangat luas yang sering kita kenal atau sebut dengan Padang Mahsyar. Pada saat itulah kita akan dipertanyakan apa saja yang telah kita lakukan di dunia ini seperti yang telah Nabi SAW. Jelaskan dalam hadits berikut ini,

Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan. (HR. Ahmad)

Nah, dengan adanya iman kepada hari kiamat atau hari pembalasan ini, kita semakin yakin bahwa setiap amalan kita akan diberi ganjalan sesuai apa yang telah kita kerjakan. Tidak hanya amalan baik, namun amalan buruk pun akan diganjarnya. Tidak hanya amalan yang besar bahkan amalan kecilpun akan tetaap diperhitungkan, seperti firman Allah berikut ini,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا يَرَهُۥ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zalzalah ayat 7-8)

Seperti yang telah kami jelaskan pada ulasan yang lalu tentang amal perbuatan manusia sebagi bekal menuju akhirat bahwa yang dimaksud zarrah adalah suatu partikel kecil yang sangat kecil dari debu. Yang mana menimbangnya saja sangat sulit tapi diakhirat nanti akan diperhitungkan.

Iman yang terakhir adalah beriman kepada untung baik dan untung jahat merupakan keimanan pokok kita yang terakhir. Ini merupakan ketentuan dari Allah sebelum Allah membuat semua makhluk ini, yang baik maupun yang jahat. Jadi segala macam kejadian adalah dengan kehendak Allah yang telah dipastikan sejak zaman azali dulu yaitu zaman sebelum Allah membuat apa-apa. Tetapi kita jangan lupa berikhtiar, karena kita telah diberi akal oleh Allah untuk mengusahakan bagaimana jalannya agar kita tetap bernasib baik dan terjauh dari nasib buruk. Kita tetap harus berdaya-upaya selama hayat dikandung badan. Seperti halnya ketika Nabi Musa berdakwa dengan nabi Adam tentang diturunkannya Nabi Adam kedunia ini. Nabi musa menyalahkan nabi adam karena kesalahan Nabi Adamlah kita semua tidak menghuni syurga. Lalu dengan sontak nabi Adam menjawab “apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?. Lalu Nabi Musa kalah berdebat dengan Nabi Adam. Adapun kisah ini pernah dijelaskan oleh Rasulullah dalam Haditsnya, 

Rasulullah saw. bersabda: Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: Wahai Adam, kamu adalah nenek moyang kami, kamu telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: Kamu Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku? Nabi SAW. bersabda: Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa, akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa. (Shahih Muslim No.4793)

Jadi jelas bahwa semua kejadian yang kita alami memang sudah tertulis sejak kita belum lahir kedunia ini. Dalam satu riwayat pernah Rasulullah menjelaskan bahwa, semua kejadian yang akan terjadi ketika kita didunia, semuanya telah ditentukan sejak kita berada dalam kandungan ibu, baik itu rezki, ajal, amal serta kebahagian atau tidak, untuk lebih jelasnya mari simak ulasan kami dalam artikel lainnya.


Kaum muslimin yang berbahagia,
Amal perbuatan yang dianjurkan itu sangat banyak dan seiring perkembangan zaman banyak bid’ah-bid’ah hadir dikalangan kita. Maka apakah amalan tanpa perintah atau dasar Al-quran dan Hadits ini akan diterima di sisi Allah? Simak hadist berikut :

Barangsiapa melakukan amal perbuatan yang bukan atas perintah kami maka itu tertolak. (HR. Muslim)
Yang dimaksud adalah amal perbuatan yang berhubungan dengan pelaksanaan peribadatan. Nah, sudah sebaiknya kita waspadai dan kita antisipasi kemunculan bid’ah-bid’ah ini dengan memperdalam ilmu-ilmu agama sehingga kita terbebas dari amalan yang sia-sia. Aamiin aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Artikel terkait : Keutamaan menuntut ilmu dalam islam

0 Response to "Hubungan Ilmu, Iman dan Amal Shaleh dalam Islam"

Post a Comment