Tuesday, 30 May 2017

Hukum dan Larangan Laki-laki Memakai Emas dan Sutra Beserta Dalilnya

Emas merupakan suatu logam mulia yang sangat populer dikalangan masayarakat. Keindahan yang mempesona setiap orang yang melihatnya, membuat orang tergila-gila kepada emas. Tidak hanya itu, berkat keindahan dan kemewahan yang dimiliki emas, hingga membuat lonjakan harga yang menggiurkan bagi pemiliknya. Emas yang merupakan salah satu logam mulia yang dicari-cari banyak orang, menjadi bahan penumpuk kekayaan bagi sebagian orang bahkan menjadi perhiasan yang  dikenakan atau dipakai setiap saat. Para pejabat-pejabat kerajaan maupun pemerintahan memamerkan kekayaannya dengan mengenakan emas di kalung dan di tangan. Tidak hanya perumpuan namun laki-laki juga ikut mengenakannya.


Begitu juga dengan Sutra, pakaian yang menawarkan keindahan bagi pemakainya ini memikat dan menyihir setiap mata akan keindahannya. Sehingga menimbulkan nafsu dan hasrat yang tinggi untk mengenakannya. Pakaian yang seakan memeancarkan cahaya ini banyak dipakai oleh kalangan-kalangan  ummat manusia baik laki-laki ataupun perempuan. Tidak hanya orang-orang yang memiliki penghasilan besar, orang penghasilan kecil terkadang juga mengenakannya. Berkat keindahannya seakan menawarkan kebahagian/ keindahan kepada si pekamakai.

Namun demikian, bagaimana pandangan dan sorotan agama dalam dua hal ini yaitu emas dan sutra. Apakah boleh dikenakan oleh laki-laki maupun perempuan? Karena tidak sedikit orang baik laki-laki maupun perempuan yang ada dalam lingkungan masyarakat maupun negara  mengenakannya sebagai pakaian penghias diri dan sebagai kebanggaan. Tidak hanya dipakai di leher sebagai kalung juga terdapat pada tangan bahkan ada sebagaian mengenakannya ditelinga ataupun hidung.

Perlu kita ketahui bahwa, emas dan sutra diharamkan bagi kita umat islam. Yaitu khusus bagi kaum laki-laki sedangkan para wanita diperbolehkan untuk mengenakannya. Bagi kaum laki-laki, baik itu digunakan sebagai cincin atau kalung atau sebagainya yang berbentuk emas baik sedikit ataupun banyak maka haram baginya. Ada sebagian pendapat bahwa boleh bagi laki-laki asalkan setengam manyam saja. Ukuran setengah manyam itu jika dalam gram adalah 3,3 gram dibagi dengan 2 maka sekitar 1,65 gram.

Begitu juga dengan sutra, tidak halal bagi laki-laki mengenakannya walaupun hanya sebatas celana atau baju saja. Suatu riwayat Dari Ali r.a., katanya: "Saya melihat Rasulullah s.a.w. mengambil sutera lalu meletakkannya di tangan kanannya, juga mengambil emas lalu meletakkannya di tangan kirinya, kemudian beliau s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya dua macam benda ini diharamkan atas kaum lelaki dari ummatku." (Riwayat Abu Dawud dengan isnad hasan)

Dalam hadits lain beliau juga bersabda,
Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a. bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda: "Diharamkanlah mengenakan pakaian sutera dan emas atas kaum lelaki dari ummatku dan dihalalkan untuk kaum wanitanya." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

Adapun untuk kaum perempuan maka dibolehkan dalam syariat. Yang haram hanyalah bagi kaum laki-laki. Maka boleh bagi sang suami untuk membeli kain sutra atau emas yang akan dikenakan oleh istrinya. Karena keindahan pun akan tampak ketika mereka mengenakananya sehinggan juga akan menyenangkan hati sang suami.

Abdullah bin Umar ra., ia berkata: Bahwa Rasulullah SAW. menyuruh untuk membuatkan cincin dari emas. Beliau meletakkan mata cincinnya pada bagian dalam telapak tangan bila beliau memakainya. Orang-orang pun berbuat serupa. Kemudian suatu ketika, beliau duduk di atas mimbar lalu mencopot cincin itu seraya bersabda: Aku pernah memakai cincin ini dan meletakkan mata cincinnya di bagian dalam. Lalu beliau membuang cincin itu dan bersabda: Demi Allah, aku tidak akan memakainya lagi untuk selamanya! Orang-orang juga ikut membuang cincin-cincin mereka. (Shahih Muslim No.3898)

Hadits diatas juga menjelaskan larangan Rasulullah SAW. Melarang memakai cincin yang terbuat dari emas bagi kaum laki-laki. Bahkan beliau membuangnya sewaktu di atas mimbar sambil berpidato. Walaupun demikian, kita tidak harus membuang cincin kita karena itu juga merupakan harta yang dapat kita perjualkan untuk nafkah keluarga. Atau kita juga bisa memberikannya kepada anak perempuan kita atau sang istri.

Banyak yang bertanya, mengapa Rasulullah melarang kita memakai emas dan sutra. Padahal emas dan sutra dapat memperindah penampilan baik laki-laki maupun perempuan. Nah, adapun mengapa sutra dan emas sangat dilarang oleh Rasulullah SAW. karena itu merupakan pakaian orang-orang kafir didunia dan orang yang mengenakan sutra di dunia maka tidak akan mengenakannya di akhirat kelak. Sebagaimana sabda Nabi berikut ini,
Dari Umar bin al-Khaththab r.a., katanya: "Rasulullah SAW. bersabda: "Janganlah engkau semua mengenakan pakaian sutera, kerana sesungguhnya orang mengenakannya di dunia ini, maka ia tidak akan mengenakannya di akhirat." (Muttafaq 'alaih)

Dalam hadits lain, Dari Anas r.a., katanya: Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa yang mengenakan pakaian sutera di dunia, maka ia tidak akan mengenakannya di akhirat nanti." (Muttafaq 'alaih)
Dan juga dalam hadits lain Dari Umar bin al-Khaththab r.a. pula, katanya: "Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: "Hanyasanya yang mengenakan pakaian sutera ialah orang yang tidak mempunyai bahagian untuknya." (Muttafaq ‘alaih)

Selain mengenakan emas dijari atau dileher, kita juga dilarang meminum minuman atau makan dari tempat yang terbuat dari emas atupun perak. Baik itu berupa cangkir atau piala emas, atau piring emas atau segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai tempat makanan yaitu yang terbuat dari emas dan perak.
Rasulullah saw. bersabda:
Orang yang minum dengan wadah yang terbuat dari perak, sesungguhnya menggelegak dalam perutnya api neraka Jahanam. (Shahih Muslim No.3846)

Hadis riwayat Hudzaifah bin Yaman ra.:
Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian minum dalam wadah emas dan perak dan jangan mengenakan pakaian sutera sebab pakaian sutera itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.3849)

Dari hadit diatas juga jelas bahwa meminum dari wadah yang terbuat dari dua macam hal ini dilarang dalam agama. Selain itu, disana juga tidak disebutkan khusus bagi laki-laki atau perempuan. Jadi kesimpulannya adalah haram minum atau makan makanan dari wadah yang terbuat dari emas dan perak baik bagi kaum laki-laki maupun perempuan.

Mungkin sebagian orang karena berada dalam kemewahan dan pangkat atau jabatannya malah malu memakan atau minum dari wadah biasa. Tidak terkecuali dengan kerajaan. Karena kebanyakan dalam sistem pemerintahan ini pernah menggunakan emas atau perak sebagai wadah makan dan minum. Maka, walaupun mereka berada pada jabatan tinggi namun perintah dan tuntunan agama juga harus dijalankan terutama bagi orang-orang yang beriman Kepada Allah dalam ikatan Islam. Karena dalam islam tidak ada keutamaan suatu orang ataupun kaum. Baik dia anak pejabat, anak raja, anak konglemerat, anak presiden sekalipun maka ajaran agama tetap berlaku bagi mereka yang beriman. karena yang membedakannya antara yang satu dengan yang lain hanyalah ketaqwaannya disisi Allah SWT..

Kemudian dari pada itu, apabila terjadi suatu kemudharatan, maka sesungguhnya islam memberikan keringanan bagi mereka. Banyak terjadi kemudharatan misalanya karena memiliki penyakit gatal-gatal atau alergi yang apabila memakai pakaian yang kasar akan menambah parah penyakit.  Seperti yang pernah terjadi pada sahabat Rasulullah SAW. Zubair dan Abdur rahman.  Berikut yang dikisahkan dari Anas r.a., katanya:
"Rasulullah SAW. memberikan kelonggaran kepada Az-Zubair dan Abdur Rahman bin 'Auf dalam mengenakan pakaian sutera kerana adanya penyakit gatal-gatal pada kedua orang itu." (Muttafaq 'alaih).




Pada Abad ke-20 ini, para ahli fisika telah melakukan penelitian terhadap  hal ini dan kemudian menyimpulkan bahwa atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit dan masuk ke dalam darah manusia, dan jika pria mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam kadar yang melebihi batas (dikenal dengan sebutan migrasi emas). Dan apabila ini terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka akan mengakibatkan penyakit Alzheimer. Sebab jika tidak di buang maka dalam jangka waktu yang lama atom emas dalam darah ini akan sampai ke otak dan memicu penyakit alzheimer.

Alzheimer adalah suatu penyakit dimana orang tersebut kehilangan semua kemampuan mental dan fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan penuaan normal, tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa.

Dan mengapa Islam membolehkan wanita untuk mengenakan emas ? "Wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui menstruasi." itulah sebabnya islam mengharamkan pria memakai emas dan membolehkan wanita memakai perhiasan emas.

Sungguh Agama Allah, Islam adalah agama yang  sempurna yang  tidak memberatkan penganutnya dalam beribadah dan berinteraksi sehari-hari. Dan apabila ada kemudharatan dalam melakukannya maka agama memberikan keringanan. Dan juga apabila sesuatu yang berbahaya bagi kehidupan maka sungguh Islam melarang mamakai, menggunakan, atau memakannya.

Sekian saja cerahan tentang larangan memakai emas bagi laki-laki semoga apa yang kita bahas mendapat ridha dan rahmat Allah SWT. aamiin aamiin yaa rabbal alamiin.

Thursday, 25 May 2017

10 Keutamaan Membaca Al-quran serta Dalilnya

Al-quran merupakan kitab suci sekaligus sumber hukum bagi seluruh ummat muslim. Isi dan kandungan Al-quran mencakup seluruh aktifitas hukum dan keadaan dalam hidup ini. Bahkan tidak hanya untuk kehidupan dunia, termasuk juga didalamnya penjelasan-penjelasan terperinci untuk memeperoleh kemuliaan akhirat kelak. Bebagai kisah dan keutamaan, anjuran dan tuntuna, kisah dan hikmah para pendahulu, semuannya termaktum didalam Al-quran. Selain itu, juga didalamnya terkandung berbagai ilmu pengetahuan di dunia ini, mulai dari matematika, filosopi, biologi, kimia, fisika, meteorologi, antariksa, geologi, astronomi dan masih bnyak yang lainnya. Seperti contoh dalam surat An-nur tentang penciptaan lampu, begitu juga dalam surat yaasiin tentang penciptaan korek api. Tidak hanya itu, astronomi juga dijelaskan dalam surat yasin dan masih banyak surat-surat dalam al quran yang menjelaskan tentang ilmu pengetahuan.

10 Keutamaan Membaca Al-quran serta Dalilnya
Al quran di turunkan oleh Allah SWT. bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan. Al-quran Memiliki banyak keitimewaan selain daripada berbagai ilmu dan sumber hukum, karena didalamnya terkandung pahala bagi yang membaca dan mengamalkannya. Banyak keistimewaan yang dimiliki Al-qur’an dan juga keutamaannya. Maka marilah kita membahas satu persatu.

1.    Menjadi umat islam yang baik disisi Allah SWT.

Marilah kita simak hadits berikut ini,
Dari Usman bin Affan r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sebaik-baik engkau semua ialah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya pula (kepada orang lain)." (Riwayat Bukhari)

Jika sudah dikatakan yang sebaik-baiknya, maka sudah tidak kita ragukan lagi disana akan mengandung banyak pahala yang diberikan oleh Allah SWT.. memeplajari Al-quran itu merupakan mengetahui tentang Al-quran, dimulai dari cara membacanya dengan benar hingga mentafsirkannya untuk menjadi hujja (sumber hukum) didalam hidup ini. Cara membaca Al-quran termasuk kedalamnya maghraj (tempat kelur suara) huruf-huruf Al-qur’an agar dalam pembacaan tidak adanya kesalahan dan menjuru kepada makna yang relavan. Karena jika salah pengucapan saja sudah berbeda artinya. Maka sebab itulah ini menjadi patokan utama belajar Al-quran. Selain maghraj, kita juga majib mengetahui tatacara panjang-pendeknya suatu bacaan yang sering kita sebut dengan tajwid. Tajwid ini sebagai pembelajaran Al-quran selanujutnya hingga kita sampai kepada tahap pengkajian dan pengamalan isi daripada Al-quran tersubut. Nah, jika kita sudah mengerti dan mahir, maka ajarkanlah Al-quran kepada orang lain. Inilah maksud dari hadits diatas tadi.

2.    Allah memberikan pahala sepuluh kali lipat untuk setiap huruf bacaan Al-quran.

Makhluk mana di dunia ini yang masih punya akal sehat yang tidak menginginkan pahala yang berlipat ganda. Karena ini akan menjadi bekal kita menuju alam yang sebenarnya yaitu akhirat dan menjadi amal kebaikan sebagai pemberat timbangan kebaikan untuk meraih syurga-Nya Allah SWT.. Karena semakin banyak amal kebaikan kita maka semakin baik kedudukan kita diakhirat kelak. Nah, adapun dengan membaca Al-quran, maka Allah akan melipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat untuk setiap huruf yang dibacanya. Seperti yang diterangkan dalam hadits berikut ini,

Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang membaca sebuah huruf dari kitabullah (yakni al-Quran), maka ia memperoleh satu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih dan juga diriwayatkan oleh imam bukhari.

Sepuluh kali lipat pahala untuk setipa huruf  yang kita baca, maka berapa hurufkah yang kita baca sehari? Ataukah kita termasuk orang yang mudah jemu membaca Al Quran? Karena sebagian orang jemu membaca Al Quran walau hanya satu ayat tapi tidak bosan-bosan membaca novel dan lainya walau puluhan bab. Apakah membaca novel akan mendapat pahala? Apalagi novel yang berisi cinta-cintaan, itu sungguh hasilnya adalah nihil. Jika memang dengan membaca Al-quran akan mendapat banyak kebaikan dan pahala mengapa harus pilih yang lain yang bahkan terkadang mengundang dosa. 

Sepeluh kali lipat ini merupakan bagi orang-orang yang membaca Al-quran dengan benar dan juga dengan ikhlas. Jika membaca Al-quran saja salah bagaimana mendapat pahalanya. Apalagi ikhlas, walaupun kita membaca Al quran satu just untuk setiap malam jika niat kita bukan karena Allah, maka hasilnya akan sia-sia. Maka oleh sebab itu, belajarlah Al-quran dengan benar dan bacalah dengan ikhlas yaitu karena ingin mendapat ridhah Allah SWT..

3.    Semakin banyak membaca Al-quran maka semakin tinggi kedudukannya diakhirat

Syurga yang merupakan sasaran utama setiap umat manusia memang membuat orang terpana bahkan  hanya dengan namanya saja, belum lagi dengan kenikmtan yang terkandung didalamnya. Semakin tinggi sutu syurga maka semakin indah dan menawan kenikmatan-kenikmatan yang terkandung didalamnya. Jika di dunia suatu kenikmatan itu sangat luar biasa maka tidak terbayangkan betapa maha dahsyatnya kelezatan dan keunggulan dari kenikmatan itu dan apalagi pada tingkat yang terbaik yaitu syurga yang tinggi. Bagi pembaca Al-quran, maka dia akan dengan mudah mendapatlkan syurga in Syaa Allah,  karena Rasulullah Muhammad SAW. Sudah menjelaskan dalam haditsnya,

Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma dari Nabi SAW., sabdanya: "Dikatakanlah (nanti ketika akan masuk syurga) kepada orang yang mempunyai Al-Quran (yakni gemar membaca, mengingat-ingat kandungannya serta mengamalkan isinya): "Bacalah dan naikilah derajatmu (dalam syurga) serta tartilkanlah (yakni membaca perlahan-lahan) sebagaimana engkau mentartilkannya dulu ketika di dunia, sebab sesungguhnya tempat kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca," Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

Maksudnya pada akhir ayat engkau baca adalah kalau membaca seluruhnya adalah tertinggi kedudukannya dan kalau tidak, tentulah di bawahnya itu menurut kadar banyak sedikitnya bacaan. Semakin banyak bacaan Al-quran kita maka semakin baik dan tinggi kedudukan syurga kita. Maka dari itu, perbanyaklah membca Al-quran.

4.    Tiga ayat Al-quran lebih baik dari pada unta hamil dan gemuk.

Unta hamil dan gemuk akan menjadi hal terbaik yang dapat kita peroleh karena dapat memberikan perkembangan kemasa depannya. Perkembangbiakannya yang terus menerus nantinya akan berdampak kebaikan kepada pemiliknya. Namun unta hamil dan gemuk itu tidak ada harganya bila dibandingkan dengan tiga ayat al quran dalam shalat, 

Rasulullah bertanya kepada para sahabat.“Inginkah salah seorang di antara kalian yang kembali ke keluarganya membawa tiga ekor unta yang hamil dan gemuk-gemuk ?” kami berkata "Ya, maka beliau bersabda "tiga ayat yang kalian baca dalam shalat kalian itu lebih baik dari unta yang hamil dan gemuk(HR Muslim).

Unta yang gemuk saja bukan bandingan apalagi yang kurus. Allaahu akbar, sungguh banyak sekali keistimewaan ayat-ayat suci Al-quran. Maka perbanyaklah membaca ayat-ayat Al-quran didalam shalat agar kita memperoleh kebaikan.

5.    Mendapat ketenangan, rahmat, dikelilingi oleh malaikat dan Allah menyebut mereka pada makhluk yang ada disisi-Nya.

Kedamaian dan ketenagan serta rahmat memang sangat kita inginkan dalam hidup. Seberapapun banyak harta namun sia-sia jika tiada ketenangan. Begitu pula rahmat Allah yang terputus kepada kita, maka kemana lagi hendak kita tuju. Ketenangan sebagai salah satu cita-cita hidup memang sangat kita butuhkan. Banyak cara memperoleh ketenangan dan rahmat Allah serta dikelilingi oleh malaikat. Salah satunya adalah membaca Al-Quran dirumah-rumah. Baik hanya sebentar saja maupun berlenggang lama. Karena tidak hanya ketenangan yang akan kita peroleh namun juga rahmat yang akan Allah curahkan kepada kita, yang diikuti oleh para malaikat yang mengelilingi rumah kita. Selain itu Allah akan menyeubut nama kita diantara para makhluk yang ada disisinya, seperti yang pernah Rasulullah Hanturkan dalam haditsnya,

Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah yang didalamnya mereka membaca Al Qur'an dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dicurahkan rahmat dan dikelilingi oleh para malaikat serta Allah sebut-sebut mereka pada (makhluk) yang ada di Sisi-Nya (HR Muslim).

Seperti yang kitaa lihat di lingkungan kita, mengapa rumah sederhana namun memiliki ketenangan yang luar biasa padahal mereka hidup serba kekurangan, tapi mereka yang kaya raya malah sering terjadinya kecekcokan-kecekcokan yang tidak karuan atau juga sebaliknya. Dan setelah kita selidiki ternyata rumahnya dihidupkan dengan cahaya lantunan ayat-ayat Allah yaitu ayat suci Al-quran.

Seperti kejadian baru-baru ini, terjadi longsor disuatu daerah di indonesia. Yang mana rumah yang ada disekitar longsor semuanya kandas diterjang ganasnya ambrukan tanah. Namun tinggallah sebuah rumah tua dengan berdindingkan kayu yang masih berdiri kokoh diantara lumpur-lumpur longsor. Padahal bangunan yang mewah dan kokoh berdiri disekitar rumah beliau kandas lenyap ditelan bumi bahkan yang jauh posisinya dari tanah longsor juga ikut ditelan longsor. Setelah diteliti-teliti ternyata oh ternyata rumah yang dihuni oleh seorang bapak tua bersama seorang istrinya ini mengajarkan atau melakukan pengajian Al-quran dirumahnya yang melibatkan anak-anak di lingkungannya. Subhanallah, bukankah ini bukti nyata kepada kita bagi orang yang melihat dan berfikir. 

6.    Al-quran akan datang pada hari kiamat memberi syafaat (pertolongan) bagi orang yang membaca dan mengamalkannya.

Akan datang hari dimana tak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat kecuali beberapa orang karena alasan tertentu. Seperti para Nabi kepada umatnya. selain itu, Al-quran akan datang bagi orang-orang yang sering membacanya dan mengamalkannya untuk memberi syafaat pada hari kiamat. 

Dari Abu Umamah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bacalah olehmu semua akan Al-Quran itu, sebab Al-Quran itu akan datang pada hari kiamat sebagai sesuatu yang dapat memberikan syafaat (yakni pertolongan) kepada orang-orang yang memilikinya." (Riwayat Muslim) 

Maksudnya kata "memilikinya" ialah membaca Al-Quran yang dilakukan dengan mengingat-ingat makna dan kandungannya lalu mengamalkan isinya, mana-mana yang merupakan perintah dilakukan dan yang merupakan larangan dijauhi. Yaitu orang-orang yang tidak menduskan ayat-ayat Allah. Mengamalkan karena takut kepada Allah karena telah nyata bagi mereka ketentuan-ketentuan hukum yang mereka baca.

Tidak sedikit dari orang-orang yang membaca Al-quran, mengetahui maknanya dan hukum-hukum didalamnya tetapi mendustakan ayat-ayat Allah. Artinya dia senantiasa melakukan kemungkarang yang dilarang dalam Al-quran seakan dia tidak pernah membacanya dan mengetahuinya.

Maka orang yang senantiasa membaca dan mengamal isinya inilah yang akan mendapatkan syafaat dan pertolongan pada hari kiamat nanti. Maka sebab itu, bacalah Al-quran dengan sebenarnya dan amalkanlah isinya. Semoga kita termasuk orang yang mendapat syafaat nantinya.

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW. Bersabda,                       
Dari an-Nawwas bin Sam'an r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Al-Quran itu akan didatangkan pada hari kiamat nanti, demikian pula ahli-ahli Al-Quran yaitu orang-orang yang mengamalkan Al-Quran itu di dunia, didahului oleh surat Al-Baqarah dan surat Ali-Imran. Kedua surat ini menjadi hujah untuk keselamatan orang yang mempunyainya (yakni membaca, memikirkan dan mengamalkan). (Riwayat Muslim)

Menjadikan hujjah yaitu menjadikan Al-quran sebagai sumber hukum dan tuntunan hidup. Dimana tak ada yang lain baginya yang dia lihat sebagai sumber hukum utama kecuali Al-quran. Dan sesungguhnya hukum yang sempurna adalah hukum-hukum Allah yang tercantum seutuhnya di dalam kitab suci Al-quran.

Terlebih lagi apabila kita membaca Al-quran pada malam bulan Ramadahan, Al-quran akan memberi syafaat kepada kita yang membacanya, seperti Sabda Rasulullah SAW. Berikut ini:
“Shoum (puasa) dan Al Qur’an akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat. Shoum berkata, “Ya Rabb, aku telah mencegahnya dari makanan dan syahwat di waktu siang, izinkan aku memberi syafa’at untuknya.” Al Qur’an berkata, “Aku telah mencegahnya tidur di waktu malam, izinkan aku memberi syafa’at untuknya. Keduanya pun diberi izin untuk memberi syafa’at.” (HR Ahmad dan lainnya).

7.    Orang yang membaca Al-quran akan beserta para malaikat

Malaikat yang merupakan salah satu makhluk Allah yang senantiasa berbakti dan berzikir kepada Allah. Allah menganugrahkan kemuliaan dan rahmat kepada mereka. Maka adapun orang yang membaca  Al-quran akan beserta para malaikat. Dalam hal ini sangat jelas bahwa Allah juga akan melimpahkan rahmatnya kepada orang tersebut dan berbagai kenikmatan-kenikmatan. Seperti sabda Rasulullah SAW. berikut ini,
Dari Aisyah Radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Orang yang membaca al-Quran dan ia sudah mahir dengan bacaannya itu, maka ia adalah beserta para malaikat utusan Allah yang mulia lagi sangat berbakti, sedang orang yang membacanya Al-Quran dan ia berbolak-balik dalam bacaannya (yakni tidak lancar) juga merasa kesukaran di waktu membacanya itu, maka ia dapat memperoleh dua pahala." (Muttafaq 'alaih)

Nah, bagi orang yang mahir mendapatkan kemulian tersebut dan juga bagi orang yang tidak mahir namun terus berusaha membacanya karena iman dan taqwanya kepada Allah. Karena dalam hal tersebut usahanya kepada kebaikan dan keinginannya untuk belajar maka Allah SWT. melimpahkan dua pahala baginya. Sungguh sangat adil Yang Maha Kuasa. Tidak hanya bagi yang mahir juga bagi orang yang mau belajar. Sebagian orang memiliki kemalasan dalam belajar Al-quran karena dia kurang mahir atau lancar membaca ayat Al-quran padahal semakin kita bermalas-malasan maka semakin kita tidak bisa. Maka oleh sebab itu belajarlah dan bacala meskipun belum lancar karena Allah tidak akan menyanyiakan ketaqwaan seorang hamba yang iklas kepada-Nya.

Tidak ada manusia di dunia ini yang langsung lancar dan benar membaca al quran tanpa belajar kecuali dengan ilham Allah. Bukankah Rasulullah saja juga diajarkan oleh malaikat jibril sewaktu pertama turunya Al-quran dalam gua hira’? apalagi kita yang hamba-hamba lemah ini, sudah pasti kita butuh belajar dan ilmu. Maka janganlah menyerah dalam belajar karena akan mendapatkan pahala dari Allah SWT..

8.    Orang mukmin membaca Al-quran bagai buah jeruk utrujah, baunya harum dan enak rasanya

Mari kita simak hadits berikut ini,
Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Perumpamaan orang mu'min yang suka membaca Al-Quran ialah seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanyapun enak dan perumpamaan orang mu'min yang tidak suka membaca Al-Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca Al-Quran ialah seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit." (Muttafaq 'alaih)

Baunya harum dan enak rasanya adalah umpama bagi orang mukmin yang suka membaca Al-quran. Bagaimana tidak, dia senantiasa mengimplementasikannya atau mengamalkannya dalam kehidupan, dengan kata lain syiarnya hidupdan isinya memang sesuai sebagai orang mukmin. Sehingga keitimewaan-keistimewaan pasti dimilikinya berkat rahmat Allah SWT.. Adapun orang mukmin yang malas membaca Al-quran bagai kurma yaitu manis tapi tidak ada baunya, Keimanannya tidak terlalu terpanacar dalam hidupnya artinya syiarnya kurang tidak sesuai dengan isinya sebagai mukmin. Dengan kata lain, mukmin yang tidak membaca Al-quran tidak ada daya tariknya. Dan juga orang yang munafik membaca Al-quran bagai minyak wangi dan pasti rasanya pahit. Dia memiliki daya tarik namun isinya tidak sesuai dengan baunya. Ibaratnya adalah orang yang tahu kepada hukum-hukum Allah namun  mengingkari hukum Allah. Dia tahu mana baik dan mana buruk, dia berkata seolah melaksanakan sebagaimana kata-katanya yang dihanturkan tapi pada kenyataan dialah yang mendustakan ayat-ayat Allah. Kemudian orang munafik yang tidak mau membaca Al-quran bagai rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanya pun pahit. Ibaratnya orang yang sudah tidak tahu kepada hukum Allah yang terkandung dalam Al-Quran namun tidak mau membacanya maka isinyapun tidak ada apalagi syiarnya sehingga sering mengutarakan hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah agama. Maka oleh sebab itu, tanamkanlah kegemaran diri untuk membaca Al quran.

9.    Allah SWT. mengangkat derajat bagi kaum yang mendasari hukum pada Al-quran dan merendahkan derajat orang yang tidak mendasarinya

Rasulullah SAW. Pernah bersabda,
Dari Umar bin al-Khaththab r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan adanya kitab Al-Quran ini (yakni orang-orang yang beriman) serta menurunkan derajatnya kaum yang lain-lain dengan sebab Al-Quran itu pula (yakni yang menghalang-halangi pesatnya Islam dan tersebarnya ajaran-ajaran Al-Quran itu)." (Riwayat Muslim)

Allah mengangkat derajat suatu ummat karena adanya Al-quran maksudnya adalah karena mereka menggunakan Al-Quran sebagai sumber hujjah atau hukum dalam tatanan hidup mereka, baik dalam lingkungan, keluarga dan tata negara. Dijadikannya Al-Quran sebagi sandaran ilmu dan ketentuan-ketentuan pelaksanaan undang-undang kehidupannya. Maka bukan tidak mungkin Allah Akan meninggikan derajat mereka. Begitu pula orang yang menghalangi tersiarnya ajaran agama dan Al-Quran sebagi sumber hukum. Al-Quran malah mereka anggap aturan kuno padahal Al-quran merupakan sumber hukum utama yang tidak akan pernah kadaluarsa. Mereka menjalankan hukum berdasarkan fikiran bodoh dan awam maka bukan tidak mungkin Allah merendahkan derajat mereka di sisi Allah SWT.. 

10.     Ayat Al-quran mengisi hati dari kehampaan

Kekosongan dan kehampaan adalah milik mereka yang tidak memiliki sedikitpun dari ayat Allah dalam hatinya. Ibarat suatu rumah tanpa penghuni, apakah akan ada dalam rumah itu selain setan-setan dan jin-jin yang penuh kekotoran dan menakutkan suasana jiwa. Kejahatan dan keburukan sudah pasti ada di dalam rumah itu, bahkan orang-orang akan enggan masuk. Tidak hanya itu, rumah yang tidak dirawat pasti akan lapuk ditelan masa dan hancur dengan tiba-tiba. Maka begitulah perumpamaan orang-orang yang tidak ada sedikitpun dihafal dalam hatinya akan ayat Al-Quran, Rasulullah SAW. Pernah menjelaskan dalam haditsnya,
Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya orang yang dalam hatinya tidak ada sesuatu apapun dari Al-Quran (yakni tidak ada sedikitpun dari ayat-ayat al-Quran yang dihafalnya,) maka ia adalah seperti rumah yang musnah (sunyi dari perkakas)." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

Artian selanjutnya adalah ketika hati tidak memiliki ketentuan-ketentuan hidup dan tidak pula memiliki dasar yang benar dalam menjalani kaidah-kaidah kehidupan sesuai dengan tuntutan Allah yang tertulis nyata dalam Al Quran. Maka apakah hendak terjadi selain kehancuran dan kebinasaan jiwanya. Maka jelas bahwa hati yang sering membaca Al-quran akan terisi dengan kedamaian dan lepas dari kehampaan.

Perlu kita garis bawahi bahwa semua amalan yang kita lakukan harus dengan hati yang ikhlas. Maka oleh sebab itu, marilah kita senantiasa membaca dan mengamalkan isi dan kandungan Al Quran agar kita mendapat kemuliaan dan rahmat Allah SWT. dan selalu dalam Lindungannya. Aamiin aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

Artikel terkait: Adab membaca Al-quran

Thursday, 18 May 2017

Hukum Celana di Atas/bawah Mata Kaki (Celana Cingkrang) dalam Islam Berdasrakan Dalil

Berpakaian sesuai syariat dan menutup aurat memang sudah menjadi lambang kita sebagai orang muslim yang beriman. Yaitu pakaian-pakaian yang dianjurkan dalam islam serta menutupi seluruh bahagian yang namanya aurat. Pakaian-pakaian dapat mencerminkan sebagai salah satu tanda orang-orang yang mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya atau tidak. Karena banyak menyebar sekarang ini cara berpakaian yang serba canggih. Sangking canggihnya hingga memberi bentuk kepada bagian aurat dan tubuh.

Cara berpakaian dengan baik dan yang dianjurkan oleh agama adalah pakaian yang tidak tipis, menutup aurat, tidak memberi bentuk tubuh (ketat) singkat dan lain sebagainya. Selaian itu, banyak tuntutan dalam kita berpakaian mulai dari berpakaian sederhana hingga berpakaian dengan tidak menyombongkan diri. Sebagai contoh, yaitu orang-orang yang memanjangkan pakaiannya hingga merembeh. Merembeh maksudnya adalah memenjangkan bagian  bawah pakaian sarung atau celana dengan kesombongan, yaitu untuk membanggakan diri dan tinggi hati. Tidak ada guna dan manfaat dari kaca mata agama untuk memanjangkan pakaian hingga berembeh sehingga agama melarangnya. Kain yang merembeh tersebut bisa juga diartikan sebagai kain yang panjang melebihi mata kaki. Dimana apapun pakaian itu baik celana maupun kaian sarung, maka kita tetap dilarang. Adapun bahaya yang timbul akibat memanjangkan pakaian karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya dihari kiamat dengan rasa keredhaan dan kerahmatan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. berikut ini,

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang menarik bajunya (yakni melemberehkan sampai menyentuh tanah, baik yang berupa baju, sarung dan Iain-lain) kerana maksud kesombongan, maka ia tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat (maksudnya tidak akan dilihat dengan rasa keredhaan dan kerahmatan (pada hari kiamat))." 

Kesombongan mungkin tidak akan terlihat oleh seorang hamba, namun sebagai sang Khaliq Allah pasti tahu hati mereka. Apakah mereka berjalan dan berpakaian karana sembong atau tidak. Nah, jika kita berpakaian pajang bukan untuk menyombongkan diri itu bagaiamana? Bisa saja karana badan kita kurus atau pakaian yang terlalu panjang dan besar atau juga karena tidak bisa bersarung dengan baik. Karena banyak kita lihat orang-orang yang sarungnya melebihi mata kaki, bahkan sampai merembeh ketanah karena alasan tidak bisa bersarung dengan baik dan badan yang kurus. Maka adapun yang seperti ini boleh-boleh saja.  Karena pernah Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah SAW. 

Abu Bakar berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya sarungku itu selalu melembereh saja (kerana kurusnya badan), kecuali kalau saya membenarkan lagi letaknya, misalnya dengan diikat keras-keras atau diangkat ke atas." Maksudnya, apakah diancam dengan tindakan sebagaimana di atas itu. 
Rasulullah SAW. lalu menjawab: "Sesungguhnya anda tidak termasuk golongan orang yang melakukan semacam itu dengan maksud kesombongan," jadi tidak apa-apa hukumnya. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebahagiannya.

Hukum Celana di Atas Mata Kaki dalam Islam Berdasrakan Dalil

Kaum muslimin yang berbahagia,
Abu Hurairah r.a., pernah menceritakan, katanya: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki bersembahyang dengan melemberehkan sarungnya lalu Rasuiullah SAW. bersabda padanya: "Pergilah dulu dan ber-Wudhu'lah." Kemudian orang tersebut lalu pergi dan berwudhu'. Setelah itu ia datang lagi, lalu beliau SAW. bersabda pula: "Pergilah dan berwudhu'lah! "Selanjutnya ada seorang lelaki lain berkata: "Ya Rasulullah, mengapakah Tuan memerintahkan orang itu berwudhu' kemudian Tuan berdiam saja padanya (yakni tidak menyuruh apa-apa lagi padanya). Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya orang itu bersembahyang dan ia melemberehkan sarungnya dan sesungguhnya Allah itu tidak akan menerima shalatnya seseorang yang melemberehkan sarungnya itu." 

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad yang shahih atas syarat Imam Muslim
Nah, apakah kita masih mau merembehkan sarung atau pakaian? Apakah kita mau ibadah sembahyang kita sia-sia? Maka jauhilah merembehkan pakaian dengan maksud sombong. Sesungguhnya kesombongan memang sangat berbahaya dalam hidup kita. Karena dengan bersikap sombong, ibadah kita tidak lagi dengan niat yang baik, sudah lari kemana-mana dan malah berbuat semena-mena. Makanya Allah memberikan tuntunan untuk tidak bersikap sombong hingga termasuk kedalam perkara berpakaian. Baik itu laki-laki maupun perempuan.

Didalam islam tidak hanya menjelaskan tentang bergaul, tata cara hidup dengan baik tapi juga mencakup dengan tata cara berpakaian dengan benar. Sehingga menjauhkan kita dari sikap sombong dan mendekatkan kepada sikap qanaah atau rendah hati. Seperti yang Rasulullah SAW. ungkapkan dalam sebuah hadits,
Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah SAW bersabda: "Cara bersarungnya seseorang Muslim itu ialah sampai pertengahan betis dan tidak ada halangan serta tidak ada dosa untuk bersarung di antara pertengahan betis itu sampai kepada kedua mata kaki. Apa yang ada di bahagian bawah dari kedua mata kaki, maka itulah yang akan dimasukkan dalam neraka. Juga barangsiapa yang menarik (yakni melemberehkan sarungnya sampai menyentuh tanah) dengan maksud kesombongan, maksud kesombongan, maka ia tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan keredhaan dan kerahmatan)." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih. 

Lain halnnya dengan wanita, mereka malah boleh merembehkan dengan  sekedar saja yaitu sehasta dan jangan lebih. Adapun alasan mengapa wanita diperbolehkan panjang sehasta adalah karana wanita/perempuan auratnya seluruh tubuh, bahkan mereka malah berdosa jika menampakkan salah satu bagian dari tubuh mereka. Sehelai rambut saja sangat dilarang oleh Allah untuk tampak apalagi bagian lain. Adapaun mengapa aurat perempuan itu sangat banyak karena wanita dengan pesona dan daya tariknya (bagian tubuhnya) akan membahayakan kaum laki-laki. Berbagai kesyahwatan-kesyahwatan muncul jika melihat bagaian tubuh wanita. Maka tidak heran mengapa sekarang marak sekali pemerkosaan, sodomi, pelecehan seksual, tak lain adalah akibat aurat-aurat para wanita yang sekarang sudah dipamerkan bagai dagangan dipasaran. Seakan tubuh mereka adalah bahan pameran, mereka tidak sadar bahwa memamerkan aurat itu hanya akan merendahkan harkat dan martabatnya sendiri.

Suatu kisah yang Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma , katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menarik pakaiannya (yakni melemberehkannya) karena maksud kesombongan, maka Allah tidak akan melihatnya (dengan pandangan keredhaan dan kerahmatan) padanya pada hari kiamat." Ummu Salamah bertanya: "Bagaimanakah kaum wanita berbuat dengan hujung pakaiannya," maksudnya bahwa oleh sebab kaum wanita itu diperintah menutupi seluruh tubuhnya karena merupakan aurat, maka apakah melemberehkan pakaian untuk kaum wanita itu juga berdosa? Beliau s.a.w. menjawab:
"yaitu kalau mereka melemberehkannya itu sejengkaI." la berkata: "Kalau begitu masih dapat terbuka kaki mereka itu." Beliau s.a.w. bersabda; "Bolehlah melemberehkannya sampai sehasta dan jangan menambahkan lagi."
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. 

Maksudnya adalah wanita boleh merembehkan pakaiannya yaitu sejengkal hingga menutup aurat dan apabila ketika merembehkan dengan ukuran sejengkal tapi masih tampak bagian tubuhnya maka boleh merembehkan sehasta, karena tujuan menutup aurat. Tapi ingat, jangan sekali-kali karena sombong. Karena jika sombong, maka sama saja tidak akan dilihat oleh Allah SWT. dengan pandangan keredhaan dan kerahmatan di hari kiamat. Tidak hanya dalam segi berpakaian tapi dari segi apapun yang berbau sombong akan mendapat murka dari Allah SWT.

Semoga kita senantiasa mendapat ridha dan rahmat serta petunjuk dari Allah SWT. aamiin aamiin yaa rabbla ‘aalaamiin.

Sunday, 14 May 2017

Hidup di Dunia Bagaikan Seorang Musafir atau Perantauan

Perantuan adalah suatu tempat yang hanya sebagai singgahan saja. Di sana kita mengais rezki dan bekal untuk kita bawa pulang ke kampung halaman. Sedih dan senang kita hadapi, badai hujan kita arungi demi bekal dan rezki. Perantuan merupakan suatu tempat yang bukan untuk berlama-lama dan menetap. Maka begitulah perumpamaan antara dunia dan akhirat.

Dunia hanyalah tempat kita mencari bekal, dunia hanyalah tempat untuk beramal. Segala sesuatu yang kita kerjakan akan berefek di akhirat. Amalan-amalan dan bekal akan kita bawa pulang ke kampung halaman yaitu akhirat. Dengan kata lain, dunia ini juga bersifat sementara, dimana kita akan kembali ke akhirat, kapanpun, dimanapu dan bagaimanapun serta itu pasti.

Hidup di Dunia Bagaikan Seorang Musafir atau Perantauan
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma katanya: "Rasulullah s.a.w. menepuk kedua belikatku, lalu bersabda: "Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau orang gharib (yakni perantau atau orang yang sedang berada di negeri orang dan tentu akan kembali ke negeri asalnya) atau sebagai orang yang menyeberangi jalan (yakni amat sebentar sekali di dunia ini)." Ibnu Umar berkata: "Jikalau engkau di waktu sore, maka janganlah menantikan waktu pagi dan jikalau engkau di waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore (untuk beramal baik itu, ambillah kesempatan sewaktu engkau sehat untuk masa sakitmu, sewaktu engkau masih hidup untuk masa matimu." (Hadits Riwayat Bukhari)

Para 'Alim Ulama mengatakan dalam syarahnya hadits ini: "Artinya ialah: Janganlah engkau terlampau cinta pada dunia, jangan pula dunia itu dianggap sebagai tanah air, juga janganlah engkau mengucapkan dalam hatimu sendiri bahwa engkau akan lama kekalmu di dunia itu. Selain itu janganlah pula amat besar perhatianmu padanya, jangan tergantung padanya, sebagaimana orang yang bukan di negerinya tidak akan menggantungkan diri pada negeri orang yakni yang bukan tanah airnya sendiri. Juga janganlah bekerja di dunia itu, sebagaimana orang yang bukan di negerinya tidak akan berbuat sesuatu di negeri orang tadi yakni yang diperbuat hendaklah yang baik-baik saja supaya meninggalkan nama harum di negeri orang, karena pasti ingin kembali ke tempat keluarganya semula

Seorang asing atau seorang perantau itu, sekalipun berapa lamanya saja di negeri orang, ia tetap tidak bertanah air di tempat yang didiami itu. Kalau orang itu bijaksana, tentu kegiatan bekerjanya ditujukan untuk mencari bekal yang akan dibawa ke tanah airnya  kembali, sehingga hidupnya di negeri asalnya itu tidak mengalami kekecewaan dan tidak mengalami kekurangan sesuatu apapun, sebab telah dipersiapkan seluruhnya. Nabi Muhammad s.a.w. menasihati kita manusia yang masih hidup di dunia sekarang ini, hendaknya beranggapan sebagai orang asing atau perantau yang bijaksana tadi. Dengan demikian tidak hanya sekadar untuk makan minum saja yang giat kita usahakan, tetapi bekal untuk kembali ke kampung akhirat itulah yang wajib lebih diutamakan. Bekal untuk berpergian yang jauh ke tanah air akhirat itu tidak ada (jalan) lain kecuali (supaya) memperbanyak amalan yang shalih, menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun maksud ucapan Ibnu Umar ra. itu ialah supaya segera-segeralah kita melakukan amal-amal yang baik, jangan ditunda-tunda waktunya. Kalau waktu pagi, jangan menunggu sampai sore hari dan kalau waktu sore jangan menunggu sampai pagi hari, sebab kematian itu datangnya dapat sekonyong-konyong. Demikian pula di saat badan sehat, jangan memperlambat-lambatkan untuk beramal shalih, sebab sakit itu dapat mendatangi kita kapan saja. Juga selagi masih hidup ini segeralah giat-giat berbuat kebajikan, sebab mati itupun dapat juga mendadak, tanpa memberikan tanda-tanda apapun. Malaikat tidak akan bernegosiasi dengan kita ketika hendak mencabut nyawa. Ketika tiba waktunya, maka lenyaplah kehidupan.

Kini yang perlu kita perhatikan ialah:
  • Dunia fana ini jangan sampai dianggap sebagai tempat kediaman yang abadi, agar kita tidak lengah untuk mencari bekal guna kebahagiaan kita di akhirat;
  • Ini tidak berarti bahwa untuk kebahagiaan kita di dunia harus diabaikan, tetapi antara dua kepentingan itu wajib kita laksanakan bersamaan. Masing-masing sama dikejar menurut waktunya sendiri-sendiri. Jadi di waktu datang kewajiban ibadah jangan sekali-kali digunakan mengejar duit/uang/nafkah atau sebaliknya;
  • Mencintai harta benda duniawiyah jangan melampaui batas, hingga menjadi kikir untuk melakukan kesosialan. Ingatlah bahwa semua yang kita cintai itu pada suatu ketika pasti akan kita tinggalkan, sedangkan harta benda itu nantinya menjadi milik orang lain dan tidak mustahil akan dibuat bentrokan di kalangan anak dan cucu. Perbanyaklah amal shalih sedapat mungkin dengan harta yang kita miliki itu.

Keadaan dunia yang fana ini seharusnya menyadarkan kita bahwa untuk lebih mementingkan kehidupan akhirat dibandingkan dengan dunia. Tidak salah untuk mengejar dunia namun harus seimbang bahkan harus berat kearah akhirat. Karena sesungguhnya kehidupan yang sebenarnya adalah akhirat sedangkan kehidupan dunia ini hanyalah sandiwara dan senda gurau belaka, seperti yang Allah firmankan kepada kita,

وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌۭ وَلَعِبٌۭ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

"Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda-gurau dan permainan belaka dan sesungguhnya perumahan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, jikalau mereka mengetahui." (QS. Al-Ankabut ayat 64)

Makna senda gurau dari ayat diatas adalah kehidupan dunia ini sebagai gambaran fana dan bukanlah kehidupan sebenarnya karena kita memiliki akhirat sebagai kampung halaman dan akan pulang kesana pada saat waktunya tiba. 

Sebagian perantau akan lupa kepada kampung halaman ketika harta telah menggelutinya. Sebagian perantau akan lupa kekampung halaman ketika pangkat dan jabatan sebagai pertimbangan hidupnya. Begitu pula dengan dunia ini. Sebagian orang lupa kepada kahirat akibat terpedaya oleh banyaknya harta. Seorang dilalaikan oleh pangkat dan jabatan yang harus dipertahankan, dan sebagian pula lupa untuk bersyukur bahkan kufur terhadap nikmat Allah akibat tipu daya dan daya tarik dunia yaitu rela menggadaikan agama demi pangkat dan jabatan. Bahakan ada yang rela menggadaikan Iman demi harta yang sedikit atau demi sesuap nasi. Sehinggaa akibatnya akan berefek kepada kehidupan akhirat itu sendiri. Bukan tidak boleh kita mengejar dunia akan tetapi ingatlah bahwa ada akhirat sebagai tempat tinggal terakhir kita. Numun ada sebagian dari mereka walaupun disibukkan oleh harta, pangkat dan jabatan tapi rasa syukur dan amalan kepada akhirat tetap seimbang. 


Hal yang sulit memang mengandalikan dunia yang serba canggih ini, bukan hanya sekedar angka dari tahun yang terus bertambah namun pola fikir sudah jauh berevolusi kearah yang berantakan. Sebagian besar dari seluruh ummat manusia telah melenceng dari norma-norma  agama. Hukum-hukum aneh mulai diterapkan. Hukum Allah mulai diperjual belikan. Mereka menganggap Alquran sudah kadaluarsa, Ayat suci dijadikan bahan olok-olok, dan bahkan dinistakan oleh orang-orang yang mungkin otaknya tidak beres. Ada yang mengaku ulama tapi eksistensi atau keadaan keulamaannya diregukan berkenaan dengan hukum yang diterapkan terjun jauh dari Ijma' atau Ijtihat para ulama. Dan mereka telah dibutakan oleh dunia sebab ketamakan mereka kepada harta sehingga lupa kepada akhirat. Maka wajar saja mengapa dunia ini laksana penjara bagi orang-orang yang beramal shalih. 

Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dunia ini adalah penjara bagi orang mu'min kalau dibandingkan dengan kenikmatan yang disediakan di syurga dan syurga bagi orang kafir kalau dibandingkan dengan pedihnya siksa di neraka." (Riwayat Muslim)

Orang-orang yang shalih akan mendapatkan surga sebagai balasan dan perbuatan mereka yang sabar terhadap rayuan dunia sedangkan orang yang menuruti hasutan dunia, mereka akan menjadi santapan neraka. Maka jangan terlalu mendambakan  dunia ini, karena dunia ini hanya sebentar. Kita hidup di dunia sekitar 80 tahun, sedangkan di akhirat tidak akan ada kematian lagi. Jadi mengapa kita terlalu mengejar kehidupan sesaat ini padahal kita punya ahirat sebagai kampung halaman untuk kita naungi selamanya.

Oleh sebab itu, janganlah terlalu mengejar dunia, dunia hanyalah sebuah perantauan. Tidak banyak kehidupan yang akan kita habiskan di sini tapi akhiratlah tempatnya yaitu tempat kehidupan yang nyata dan yang sebenarnya. Semoga kita selalu dalam tuntunan Allah SWt, aamiin aamiin yaa rabbaln ‘alamiin.