Sunday, 14 May 2017

Hidup di Dunia Bagaikan Seorang Musafir atau Perantauan

Perantuan adalah suatu tempat yang hanya sebagai singgahan saja. Di sana kita mengais rezki dan bekal untuk kita bawa pulang ke kampung halaman. Sedih dan senang kita hadapi, badai hujan kita arungi demi bekal dan rezki. Perantuan merupakan suatu tempat yang bukan untuk berlama-lama dan menetap. Maka begitulah perumpamaan antara dunia dan akhirat.

Dunia hanyalah tempat kita mencari bekal, dunia hanyalah tempat untuk beramal. Segala sesuatu yang kita kerjakan akan berefek di akhirat. Amalan-amalan dan bekal akan kita bawa pulang ke kampung halaman yaitu akhirat. Dengan kata lain, dunia ini juga bersifat sementara, dimana kita akan kembali ke akhirat, kapanpun, dimanapu dan bagaimanapun serta itu pasti.

Hidup di Dunia Bagaikan Seorang Musafir atau Perantauan
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma katanya: "Rasulullah s.a.w. menepuk kedua belikatku, lalu bersabda: "Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau orang gharib (yakni perantau atau orang yang sedang berada di negeri orang dan tentu akan kembali ke negeri asalnya) atau sebagai orang yang menyeberangi jalan (yakni amat sebentar sekali di dunia ini)." Ibnu Umar berkata: "Jikalau engkau di waktu sore, maka janganlah menantikan waktu pagi dan jikalau engkau di waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore (untuk beramal baik itu, ambillah kesempatan sewaktu engkau sehat untuk masa sakitmu, sewaktu engkau masih hidup untuk masa matimu." (Hadits Riwayat Bukhari)

Para 'Alim Ulama mengatakan dalam syarahnya hadits ini: "Artinya ialah: Janganlah engkau terlampau cinta pada dunia, jangan pula dunia itu dianggap sebagai tanah air, juga janganlah engkau mengucapkan dalam hatimu sendiri bahwa engkau akan lama kekalmu di dunia itu. Selain itu janganlah pula amat besar perhatianmu padanya, jangan tergantung padanya, sebagaimana orang yang bukan di negerinya tidak akan menggantungkan diri pada negeri orang yakni yang bukan tanah airnya sendiri. Juga janganlah bekerja di dunia itu, sebagaimana orang yang bukan di negerinya tidak akan berbuat sesuatu di negeri orang tadi yakni yang diperbuat hendaklah yang baik-baik saja supaya meninggalkan nama harum di negeri orang, karena pasti ingin kembali ke tempat keluarganya semula

Seorang asing atau seorang perantau itu, sekalipun berapa lamanya saja di negeri orang, ia tetap tidak bertanah air di tempat yang didiami itu. Kalau orang itu bijaksana, tentu kegiatan bekerjanya ditujukan untuk mencari bekal yang akan dibawa ke tanah airnya  kembali, sehingga hidupnya di negeri asalnya itu tidak mengalami kekecewaan dan tidak mengalami kekurangan sesuatu apapun, sebab telah dipersiapkan seluruhnya. Nabi Muhammad s.a.w. menasihati kita manusia yang masih hidup di dunia sekarang ini, hendaknya beranggapan sebagai orang asing atau perantau yang bijaksana tadi. Dengan demikian tidak hanya sekadar untuk makan minum saja yang giat kita usahakan, tetapi bekal untuk kembali ke kampung akhirat itulah yang wajib lebih diutamakan. Bekal untuk berpergian yang jauh ke tanah air akhirat itu tidak ada (jalan) lain kecuali (supaya) memperbanyak amalan yang shalih, menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun maksud ucapan Ibnu Umar ra. itu ialah supaya segera-segeralah kita melakukan amal-amal yang baik, jangan ditunda-tunda waktunya. Kalau waktu pagi, jangan menunggu sampai sore hari dan kalau waktu sore jangan menunggu sampai pagi hari, sebab kematian itu datangnya dapat sekonyong-konyong. Demikian pula di saat badan sehat, jangan memperlambat-lambatkan untuk beramal shalih, sebab sakit itu dapat mendatangi kita kapan saja. Juga selagi masih hidup ini segeralah giat-giat berbuat kebajikan, sebab mati itupun dapat juga mendadak, tanpa memberikan tanda-tanda apapun. Malaikat tidak akan bernegosiasi dengan kita ketika hendak mencabut nyawa. Ketika tiba waktunya, maka lenyaplah kehidupan.

Kini yang perlu kita perhatikan ialah:
  • Dunia fana ini jangan sampai dianggap sebagai tempat kediaman yang abadi, agar kita tidak lengah untuk mencari bekal guna kebahagiaan kita di akhirat;
  • Ini tidak berarti bahwa untuk kebahagiaan kita di dunia harus diabaikan, tetapi antara dua kepentingan itu wajib kita laksanakan bersamaan. Masing-masing sama dikejar menurut waktunya sendiri-sendiri. Jadi di waktu datang kewajiban ibadah jangan sekali-kali digunakan mengejar duit/uang/nafkah atau sebaliknya;
  • Mencintai harta benda duniawiyah jangan melampaui batas, hingga menjadi kikir untuk melakukan kesosialan. Ingatlah bahwa semua yang kita cintai itu pada suatu ketika pasti akan kita tinggalkan, sedangkan harta benda itu nantinya menjadi milik orang lain dan tidak mustahil akan dibuat bentrokan di kalangan anak dan cucu. Perbanyaklah amal shalih sedapat mungkin dengan harta yang kita miliki itu.

Keadaan dunia yang fana ini seharusnya menyadarkan kita bahwa untuk lebih mementingkan kehidupan akhirat dibandingkan dengan dunia. Tidak salah untuk mengejar dunia namun harus seimbang bahkan harus berat kearah akhirat. Karena sesungguhnya kehidupan yang sebenarnya adalah akhirat sedangkan kehidupan dunia ini hanyalah sandiwara dan senda gurau belaka, seperti yang Allah firmankan kepada kita,

وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌۭ وَلَعِبٌۭ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

"Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda-gurau dan permainan belaka dan sesungguhnya perumahan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, jikalau mereka mengetahui." (QS. Al-Ankabut ayat 64)

Makna senda gurau dari ayat diatas adalah kehidupan dunia ini sebagai gambaran fana dan bukanlah kehidupan sebenarnya karena kita memiliki akhirat sebagai kampung halaman dan akan pulang kesana pada saat waktunya tiba. 

Sebagian perantau akan lupa kepada kampung halaman ketika harta telah menggelutinya. Sebagian perantau akan lupa kekampung halaman ketika pangkat dan jabatan sebagai pertimbangan hidupnya. Begitu pula dengan dunia ini. Sebagian orang lupa kepada kahirat akibat terpedaya oleh banyaknya harta. Seorang dilalaikan oleh pangkat dan jabatan yang harus dipertahankan, dan sebagian pula lupa untuk bersyukur bahkan kufur terhadap nikmat Allah akibat tipu daya dan daya tarik dunia yaitu rela menggadaikan agama demi pangkat dan jabatan. Bahakan ada yang rela menggadaikan Iman demi harta yang sedikit atau demi sesuap nasi. Sehinggaa akibatnya akan berefek kepada kehidupan akhirat itu sendiri. Bukan tidak boleh kita mengejar dunia akan tetapi ingatlah bahwa ada akhirat sebagai tempat tinggal terakhir kita. Numun ada sebagian dari mereka walaupun disibukkan oleh harta, pangkat dan jabatan tapi rasa syukur dan amalan kepada akhirat tetap seimbang. 


Hal yang sulit memang mengandalikan dunia yang serba canggih ini, bukan hanya sekedar angka dari tahun yang terus bertambah namun pola fikir sudah jauh berevolusi kearah yang berantakan. Sebagian besar dari seluruh ummat manusia telah melenceng dari norma-norma  agama. Hukum-hukum aneh mulai diterapkan. Hukum Allah mulai diperjual belikan. Mereka menganggap Alquran sudah kadaluarsa, Ayat suci dijadikan bahan olok-olok, dan bahkan dinistakan oleh orang-orang yang mungkin otaknya tidak beres. Ada yang mengaku ulama tapi eksistensi atau keadaan keulamaannya diregukan berkenaan dengan hukum yang diterapkan terjun jauh dari Ijma' atau Ijtihat para ulama. Dan mereka telah dibutakan oleh dunia sebab ketamakan mereka kepada harta sehingga lupa kepada akhirat. Maka wajar saja mengapa dunia ini laksana penjara bagi orang-orang yang beramal shalih. 

Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dunia ini adalah penjara bagi orang mu'min kalau dibandingkan dengan kenikmatan yang disediakan di syurga dan syurga bagi orang kafir kalau dibandingkan dengan pedihnya siksa di neraka." (Riwayat Muslim)

Orang-orang yang shalih akan mendapatkan surga sebagai balasan dan perbuatan mereka yang sabar terhadap rayuan dunia sedangkan orang yang menuruti hasutan dunia, mereka akan menjadi santapan neraka. Maka jangan terlalu mendambakan  dunia ini, karena dunia ini hanya sebentar. Kita hidup di dunia sekitar 80 tahun, sedangkan di akhirat tidak akan ada kematian lagi. Jadi mengapa kita terlalu mengejar kehidupan sesaat ini padahal kita punya ahirat sebagai kampung halaman untuk kita naungi selamanya.

Oleh sebab itu, janganlah terlalu mengejar dunia, dunia hanyalah sebuah perantauan. Tidak banyak kehidupan yang akan kita habiskan di sini tapi akhiratlah tempatnya yaitu tempat kehidupan yang nyata dan yang sebenarnya. Semoga kita selalu dalam tuntunan Allah SWt, aamiin aamiin yaa rabbaln ‘alamiin.

No comments:

Post a Comment