Hukum Celana di Atas/bawah Mata Kaki (Celana Cingkrang) dalam Islam Berdasrakan Dalil

Berpakaian sesuai syariat dan menutup aurat memang sudah menjadi lambang kita sebagai orang muslim yang beriman. Yaitu pakaian-pakaian yang dianjurkan dalam islam serta menutupi seluruh bahagian yang namanya aurat. Pakaian-pakaian dapat mencerminkan sebagai salah satu tanda orang-orang yang mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya atau tidak. Karena banyak menyebar sekarang ini cara berpakaian yang serba canggih. Sangking canggihnya hingga memberi bentuk kepada bagian aurat dan tubuh.

Cara berpakaian dengan baik dan yang dianjurkan oleh agama adalah pakaian yang tidak tipis, menutup aurat, tidak memberi bentuk tubuh (ketat) singkat dan lain sebagainya. Selaian itu, banyak tuntutan dalam kita berpakaian mulai dari berpakaian sederhana hingga berpakaian dengan tidak menyombongkan diri. Sebagai contoh, yaitu orang-orang yang memanjangkan pakaiannya hingga merembeh. Merembeh maksudnya adalah memenjangkan bagian  bawah pakaian sarung atau celana dengan kesombongan, yaitu untuk membanggakan diri dan tinggi hati. Tidak ada guna dan manfaat dari kaca mata agama untuk memanjangkan pakaian hingga berembeh sehingga agama melarangnya. Kain yang merembeh tersebut bisa juga diartikan sebagai kain yang panjang melebihi mata kaki. Dimana apapun pakaian itu baik celana maupun kaian sarung, maka kita tetap dilarang. Adapun bahaya yang timbul akibat memanjangkan pakaian karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya dihari kiamat dengan rasa keredhaan dan kerahmatan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. berikut ini,

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang menarik bajunya (yakni melemberehkan sampai menyentuh tanah, baik yang berupa baju, sarung dan Iain-lain) kerana maksud kesombongan, maka ia tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat (maksudnya tidak akan dilihat dengan rasa keredhaan dan kerahmatan (pada hari kiamat))." 

Kesombongan mungkin tidak akan terlihat oleh seorang hamba, namun sebagai sang Khaliq Allah pasti tahu hati mereka. Apakah mereka berjalan dan berpakaian karana sembong atau tidak. Nah, jika kita berpakaian pajang bukan untuk menyombongkan diri itu bagaiamana? Bisa saja karana badan kita kurus atau pakaian yang terlalu panjang dan besar atau juga karena tidak bisa bersarung dengan baik. Karena banyak kita lihat orang-orang yang sarungnya melebihi mata kaki, bahkan sampai merembeh ketanah karena alasan tidak bisa bersarung dengan baik dan badan yang kurus. Maka adapun yang seperti ini boleh-boleh saja.  Karena pernah Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah SAW. 

Abu Bakar berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya sarungku itu selalu melembereh saja (kerana kurusnya badan), kecuali kalau saya membenarkan lagi letaknya, misalnya dengan diikat keras-keras atau diangkat ke atas." Maksudnya, apakah diancam dengan tindakan sebagaimana di atas itu. 
Rasulullah SAW. lalu menjawab: "Sesungguhnya anda tidak termasuk golongan orang yang melakukan semacam itu dengan maksud kesombongan," jadi tidak apa-apa hukumnya. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebahagiannya.

Hukum Celana di Atas Mata Kaki dalam Islam Berdasrakan Dalil

Kaum muslimin yang berbahagia,
Abu Hurairah r.a., pernah menceritakan, katanya: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki bersembahyang dengan melemberehkan sarungnya lalu Rasuiullah SAW. bersabda padanya: "Pergilah dulu dan ber-Wudhu'lah." Kemudian orang tersebut lalu pergi dan berwudhu'. Setelah itu ia datang lagi, lalu beliau SAW. bersabda pula: "Pergilah dan berwudhu'lah! "Selanjutnya ada seorang lelaki lain berkata: "Ya Rasulullah, mengapakah Tuan memerintahkan orang itu berwudhu' kemudian Tuan berdiam saja padanya (yakni tidak menyuruh apa-apa lagi padanya). Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya orang itu bersembahyang dan ia melemberehkan sarungnya dan sesungguhnya Allah itu tidak akan menerima shalatnya seseorang yang melemberehkan sarungnya itu." 

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad yang shahih atas syarat Imam Muslim
Nah, apakah kita masih mau merembehkan sarung atau pakaian? Apakah kita mau ibadah sembahyang kita sia-sia? Maka jauhilah merembehkan pakaian dengan maksud sombong. Sesungguhnya kesombongan memang sangat berbahaya dalam hidup kita. Karena dengan bersikap sombong, ibadah kita tidak lagi dengan niat yang baik, sudah lari kemana-mana dan malah berbuat semena-mena. Makanya Allah memberikan tuntunan untuk tidak bersikap sombong hingga termasuk kedalam perkara berpakaian. Baik itu laki-laki maupun perempuan.

Didalam islam tidak hanya menjelaskan tentang bergaul, tata cara hidup dengan baik tapi juga mencakup dengan tata cara berpakaian dengan benar. Sehingga menjauhkan kita dari sikap sombong dan mendekatkan kepada sikap qanaah atau rendah hati. Seperti yang Rasulullah SAW. ungkapkan dalam sebuah hadits,
Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah SAW bersabda: "Cara bersarungnya seseorang Muslim itu ialah sampai pertengahan betis dan tidak ada halangan serta tidak ada dosa untuk bersarung di antara pertengahan betis itu sampai kepada kedua mata kaki. Apa yang ada di bahagian bawah dari kedua mata kaki, maka itulah yang akan dimasukkan dalam neraka. Juga barangsiapa yang menarik (yakni melemberehkan sarungnya sampai menyentuh tanah) dengan maksud kesombongan, maksud kesombongan, maka ia tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan keredhaan dan kerahmatan)." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih. 

Lain halnnya dengan wanita, mereka malah boleh merembehkan dengan  sekedar saja yaitu sehasta dan jangan lebih. Adapun alasan mengapa wanita diperbolehkan panjang sehasta adalah karana wanita/perempuan auratnya seluruh tubuh, bahkan mereka malah berdosa jika menampakkan salah satu bagian dari tubuh mereka. Sehelai rambut saja sangat dilarang oleh Allah untuk tampak apalagi bagian lain. Adapaun mengapa aurat perempuan itu sangat banyak karena wanita dengan pesona dan daya tariknya (bagian tubuhnya) akan membahayakan kaum laki-laki. Berbagai kesyahwatan-kesyahwatan muncul jika melihat bagaian tubuh wanita. Maka tidak heran mengapa sekarang marak sekali pemerkosaan, sodomi, pelecehan seksual, tak lain adalah akibat aurat-aurat para wanita yang sekarang sudah dipamerkan bagai dagangan dipasaran. Seakan tubuh mereka adalah bahan pameran, mereka tidak sadar bahwa memamerkan aurat itu hanya akan merendahkan harkat dan martabatnya sendiri.

Suatu kisah yang Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma , katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menarik pakaiannya (yakni melemberehkannya) karena maksud kesombongan, maka Allah tidak akan melihatnya (dengan pandangan keredhaan dan kerahmatan) padanya pada hari kiamat." Ummu Salamah bertanya: "Bagaimanakah kaum wanita berbuat dengan hujung pakaiannya," maksudnya bahwa oleh sebab kaum wanita itu diperintah menutupi seluruh tubuhnya karena merupakan aurat, maka apakah melemberehkan pakaian untuk kaum wanita itu juga berdosa? Beliau s.a.w. menjawab:
"yaitu kalau mereka melemberehkannya itu sejengkaI." la berkata: "Kalau begitu masih dapat terbuka kaki mereka itu." Beliau s.a.w. bersabda; "Bolehlah melemberehkannya sampai sehasta dan jangan menambahkan lagi."
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. 

Maksudnya adalah wanita boleh merembehkan pakaiannya yaitu sejengkal hingga menutup aurat dan apabila ketika merembehkan dengan ukuran sejengkal tapi masih tampak bagian tubuhnya maka boleh merembehkan sehasta, karena tujuan menutup aurat. Tapi ingat, jangan sekali-kali karena sombong. Karena jika sombong, maka sama saja tidak akan dilihat oleh Allah SWT. dengan pandangan keredhaan dan kerahmatan di hari kiamat. Tidak hanya dalam segi berpakaian tapi dari segi apapun yang berbau sombong akan mendapat murka dari Allah SWT.

Semoga kita senantiasa mendapat ridha dan rahmat serta petunjuk dari Allah SWT. aamiin aamiin yaa rabbla ‘aalaamiin.

0 Response to "Hukum Celana di Atas/bawah Mata Kaki (Celana Cingkrang) dalam Islam Berdasrakan Dalil"

Post a Comment