Hukum dan Larangan Laki-laki Memakai Emas dan Sutra Beserta Dalilnya

Emas merupakan suatu logam mulia yang sangat populer dikalangan masayarakat. Keindahan yang mempesona setiap orang yang melihatnya, membuat orang tergila-gila kepada emas. Tidak hanya itu, berkat keindahan dan kemewahan yang dimiliki emas, hingga membuat lonjakan harga yang menggiurkan bagi pemiliknya. Emas yang merupakan salah satu logam mulia yang dicari-cari banyak orang, menjadi bahan penumpuk kekayaan bagi sebagian orang bahkan menjadi perhiasan yang  dikenakan atau dipakai setiap saat. Para pejabat-pejabat kerajaan maupun pemerintahan memamerkan kekayaannya dengan mengenakan emas di kalung dan di tangan. Tidak hanya perumpuan namun laki-laki juga ikut mengenakannya.


Begitu juga dengan Sutra, pakaian yang menawarkan keindahan bagi pemakainya ini memikat dan menyihir setiap mata akan keindahannya. Sehingga menimbulkan nafsu dan hasrat yang tinggi untk mengenakannya. Pakaian yang seakan memeancarkan cahaya ini banyak dipakai oleh kalangan-kalangan  ummat manusia baik laki-laki ataupun perempuan. Tidak hanya orang-orang yang memiliki penghasilan besar, orang penghasilan kecil terkadang juga mengenakannya. Berkat keindahannya seakan menawarkan kebahagian/ keindahan kepada si pekamakai.

Namun demikian, bagaimana pandangan dan sorotan agama dalam dua hal ini yaitu emas dan sutra. Apakah boleh dikenakan oleh laki-laki maupun perempuan? Karena tidak sedikit orang baik laki-laki maupun perempuan yang ada dalam lingkungan masyarakat maupun negara  mengenakannya sebagai pakaian penghias diri dan sebagai kebanggaan. Tidak hanya dipakai di leher sebagai kalung juga terdapat pada tangan bahkan ada sebagaian mengenakannya ditelinga ataupun hidung.

Perlu kita ketahui bahwa, emas dan sutra diharamkan bagi kita umat islam. Yaitu khusus bagi kaum laki-laki sedangkan para wanita diperbolehkan untuk mengenakannya. Bagi kaum laki-laki, baik itu digunakan sebagai cincin atau kalung atau sebagainya yang berbentuk emas baik sedikit ataupun banyak maka haram baginya. Ada sebagian pendapat bahwa boleh bagi laki-laki asalkan setengam manyam saja. Ukuran setengah manyam itu jika dalam gram adalah 3,3 gram dibagi dengan 2 maka sekitar 1,65 gram.

Begitu juga dengan sutra, tidak halal bagi laki-laki mengenakannya walaupun hanya sebatas celana atau baju saja. Suatu riwayat Dari Ali r.a., katanya: "Saya melihat Rasulullah s.a.w. mengambil sutera lalu meletakkannya di tangan kanannya, juga mengambil emas lalu meletakkannya di tangan kirinya, kemudian beliau s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya dua macam benda ini diharamkan atas kaum lelaki dari ummatku." (Riwayat Abu Dawud dengan isnad hasan)

Dalam hadits lain beliau juga bersabda,
Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a. bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda: "Diharamkanlah mengenakan pakaian sutera dan emas atas kaum lelaki dari ummatku dan dihalalkan untuk kaum wanitanya." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

Adapun untuk kaum perempuan maka dibolehkan dalam syariat. Yang haram hanyalah bagi kaum laki-laki. Maka boleh bagi sang suami untuk membeli kain sutra atau emas yang akan dikenakan oleh istrinya. Karena keindahan pun akan tampak ketika mereka mengenakananya sehinggan juga akan menyenangkan hati sang suami.

Abdullah bin Umar ra., ia berkata: Bahwa Rasulullah SAW. menyuruh untuk membuatkan cincin dari emas. Beliau meletakkan mata cincinnya pada bagian dalam telapak tangan bila beliau memakainya. Orang-orang pun berbuat serupa. Kemudian suatu ketika, beliau duduk di atas mimbar lalu mencopot cincin itu seraya bersabda: Aku pernah memakai cincin ini dan meletakkan mata cincinnya di bagian dalam. Lalu beliau membuang cincin itu dan bersabda: Demi Allah, aku tidak akan memakainya lagi untuk selamanya! Orang-orang juga ikut membuang cincin-cincin mereka. (Shahih Muslim No.3898)

Hadits diatas juga menjelaskan larangan Rasulullah SAW. Melarang memakai cincin yang terbuat dari emas bagi kaum laki-laki. Bahkan beliau membuangnya sewaktu di atas mimbar sambil berpidato. Walaupun demikian, kita tidak harus membuang cincin kita karena itu juga merupakan harta yang dapat kita perjualkan untuk nafkah keluarga. Atau kita juga bisa memberikannya kepada anak perempuan kita atau sang istri.

Banyak yang bertanya, mengapa Rasulullah melarang kita memakai emas dan sutra. Padahal emas dan sutra dapat memperindah penampilan baik laki-laki maupun perempuan. Nah, adapun mengapa sutra dan emas sangat dilarang oleh Rasulullah SAW. karena itu merupakan pakaian orang-orang kafir didunia dan orang yang mengenakan sutra di dunia maka tidak akan mengenakannya di akhirat kelak. Sebagaimana sabda Nabi berikut ini,
Dari Umar bin al-Khaththab r.a., katanya: "Rasulullah SAW. bersabda: "Janganlah engkau semua mengenakan pakaian sutera, kerana sesungguhnya orang mengenakannya di dunia ini, maka ia tidak akan mengenakannya di akhirat." (Muttafaq 'alaih)

Dalam hadits lain, Dari Anas r.a., katanya: Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa yang mengenakan pakaian sutera di dunia, maka ia tidak akan mengenakannya di akhirat nanti." (Muttafaq 'alaih)
Dan juga dalam hadits lain Dari Umar bin al-Khaththab r.a. pula, katanya: "Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: "Hanyasanya yang mengenakan pakaian sutera ialah orang yang tidak mempunyai bahagian untuknya." (Muttafaq ‘alaih)

Selain mengenakan emas dijari atau dileher, kita juga dilarang meminum minuman atau makan dari tempat yang terbuat dari emas atupun perak. Baik itu berupa cangkir atau piala emas, atau piring emas atau segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai tempat makanan yaitu yang terbuat dari emas dan perak.
Rasulullah saw. bersabda:
Orang yang minum dengan wadah yang terbuat dari perak, sesungguhnya menggelegak dalam perutnya api neraka Jahanam. (Shahih Muslim No.3846)

Hadis riwayat Hudzaifah bin Yaman ra.:
Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian minum dalam wadah emas dan perak dan jangan mengenakan pakaian sutera sebab pakaian sutera itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.3849)

Dari hadit diatas juga jelas bahwa meminum dari wadah yang terbuat dari dua macam hal ini dilarang dalam agama. Selain itu, disana juga tidak disebutkan khusus bagi laki-laki atau perempuan. Jadi kesimpulannya adalah haram minum atau makan makanan dari wadah yang terbuat dari emas dan perak baik bagi kaum laki-laki maupun perempuan.

Mungkin sebagian orang karena berada dalam kemewahan dan pangkat atau jabatannya malah malu memakan atau minum dari wadah biasa. Tidak terkecuali dengan kerajaan. Karena kebanyakan dalam sistem pemerintahan ini pernah menggunakan emas atau perak sebagai wadah makan dan minum. Maka, walaupun mereka berada pada jabatan tinggi namun perintah dan tuntunan agama juga harus dijalankan terutama bagi orang-orang yang beriman Kepada Allah dalam ikatan Islam. Karena dalam islam tidak ada keutamaan suatu orang ataupun kaum. Baik dia anak pejabat, anak raja, anak konglemerat, anak presiden sekalipun maka ajaran agama tetap berlaku bagi mereka yang beriman. karena yang membedakannya antara yang satu dengan yang lain hanyalah ketaqwaannya disisi Allah SWT..

Kemudian dari pada itu, apabila terjadi suatu kemudharatan, maka sesungguhnya islam memberikan keringanan bagi mereka. Banyak terjadi kemudharatan misalanya karena memiliki penyakit gatal-gatal atau alergi yang apabila memakai pakaian yang kasar akan menambah parah penyakit.  Seperti yang pernah terjadi pada sahabat Rasulullah SAW. Zubair dan Abdur rahman.  Berikut yang dikisahkan dari Anas r.a., katanya:
"Rasulullah SAW. memberikan kelonggaran kepada Az-Zubair dan Abdur Rahman bin 'Auf dalam mengenakan pakaian sutera kerana adanya penyakit gatal-gatal pada kedua orang itu." (Muttafaq 'alaih).




Pada Abad ke-20 ini, para ahli fisika telah melakukan penelitian terhadap  hal ini dan kemudian menyimpulkan bahwa atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit dan masuk ke dalam darah manusia, dan jika pria mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam kadar yang melebihi batas (dikenal dengan sebutan migrasi emas). Dan apabila ini terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka akan mengakibatkan penyakit Alzheimer. Sebab jika tidak di buang maka dalam jangka waktu yang lama atom emas dalam darah ini akan sampai ke otak dan memicu penyakit alzheimer.

Alzheimer adalah suatu penyakit dimana orang tersebut kehilangan semua kemampuan mental dan fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan penuaan normal, tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa.

Dan mengapa Islam membolehkan wanita untuk mengenakan emas ? "Wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui menstruasi." itulah sebabnya islam mengharamkan pria memakai emas dan membolehkan wanita memakai perhiasan emas.

Sungguh Agama Allah, Islam adalah agama yang  sempurna yang  tidak memberatkan penganutnya dalam beribadah dan berinteraksi sehari-hari. Dan apabila ada kemudharatan dalam melakukannya maka agama memberikan keringanan. Dan juga apabila sesuatu yang berbahaya bagi kehidupan maka sungguh Islam melarang mamakai, menggunakan, atau memakannya.

Sekian saja cerahan tentang larangan memakai emas bagi laki-laki semoga apa yang kita bahas mendapat ridha dan rahmat Allah SWT. aamiin aamiin yaa rabbal alamiin.

0 Response to "Hukum dan Larangan Laki-laki Memakai Emas dan Sutra Beserta Dalilnya"

Post a Comment