Keutamaaan Menuntut Ilmu dalam Islam

Ilmu dapat kita ibaratkan sebagai roda-roda yang akan menggerakkan perjalanan zaman dari waktu ke waktu. Ilmu itu adalah mesin yang akan memicu perubahan-perubahan di alam jagad raya ini. Dari semenjak zaman nabi Adam hingga tibanya kehancuran, ilmu tetap akan menjadi mesin utama penggerak perubahan dunia ini. Dengan ilmu dunia bisa mengenal yang namanya teknologi, dengan ilmu dunia bisa berkembang kearah yang signifikan, dengan ilmu maka sistem pemerintahan akan berjalan dengan lancar, dan semua proses dan aktifitas dunia pasti membutuhkan ilmu sebagai faktor utamanya. Maka oleh sebab itu kita dianjurkan untuk menuntut ilmu, seperti sabda nabi SAW.

Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)

menuntut ilmu wajib bagi laki-laki dan perempuan

Baik wanita atau laki-laki, baik anak anak atau remaja baik dewasa maupun orang tua maka wajib bagi kita mencari ilmu. Tidak ada larangan dan kemudharatan bagi orang yang menimba ilmu pengetahuan bahkan berbagai keistimewaan akan diperolehnya berkat menuntu ilmu. Banyak keistimewaan-keistimewaan yang akan kita dapatkan dengan menuntut dan berilmu. Maka oleh sebab itu, pada kesempatan ini kana kita bahas tentang keutamaan dan keistimewaan menuntut ilmu.

1.    Jaminan kebahagiaan dunia dan akhirat

Sabda nabi SAW. Barang siapa ingin (memperoleh kebahagiaan) di dunia, hendaklah ia berilmu, barang siapa ingin (memperoleh kebahagiaan) di akhirat, hendaklah ia berilmu, dan barang siapa ingin memperoleh keduanya (kebahagiaan di dunia dan di akhirat) hendaklah ia berilmu. (HR Ahmad).

Kebahagian-kebahagian akan kita genggam jika kita memiliki ilmu. Baik itu ilmu dunia maupun akhirat (ilmu agama). Namun kita sangat diprioritaskan untuk lebih memadai dalam bidang ilmu agama dari pada ilmu dunia. Karena sesungguhnya masa depan yang sesungguhnya adalah akhirat dan kita akan kembali kesana apapun ceritanya. Selain itu, kehidupan dunia merupakan sementara sedangkan akhirat adalah kekal. Dan juga ilmu agama menjadi bekal yang akan membantu kita di akhirat kelak.

Mengenai kebahagiaan, memang tidak ada yang berani menyangkal bahwa ilmu dapat memberikan kebahagian dunia dan akhirat dan sebagaimana yang Rasulullah SAW. sabdakan tadi. Kita lihat saja, ingin menjadi presiden, harus pintar alias punya ilmu, ingin jadi pegawai harus punya ilmu, jadi petani juga harus punya ilmu, menjadi pedagang harus punya ilmu bahkan tidak ada satupun kesuksesan di dunia ini tanpa ilmu.
Jika seorang presiden tidak punya ilmun ketatanegaraan pasti akan berantakan. Manakala pegawai suatu perkantoran pasti membuat reputasi berantakan. Dan juga para pedagang-pedagang tanpa ilmu dagang akan mencapai kerugian begitu pula para petani akan memperoleh gagal panen apabila tidak memiliki ilmu pertanian. Sungguh tidak ada suatu kesuksesan itu tanpa ilmu pengetahuan.

Kebahgian akhirat akan sangat mudah kita capai dengan ilmu pula. Kita mengenal Allah dengan ilmu, kita tahu hukum Allah karena ilmu, sadar akan dosa dan pahala karena ilmu. Kita senantiasa beribadah sehingga mencapai puncak pahala karena ilmu bahkan tidak sah suatu ibadah tanpa didasari dengan ilmu. Maka sudah jelas kebahagian untuk kita capai diakhirat nanti dimotori oleh ilmu.  Apalah guna kita ibadah siang malam pagi dan petang karena jika tanpa ilmu maka Allah akan menolak ibadah mentah-mentah.

Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang beramal tidak mengikuti perintah kami, maka akan ditolak." (HR Muslim)

Imam Ghazali berkata: "Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia."

Imam Syafii juga berkata, "Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan ditolak sia-sia." (Matan Zubad, juz I, hlm 2, Majallatul buhuts al-Islamiyah, juz 42, hlm 279).

Imam ‘Abdullah al-Haddad رضي الله عنه,. Menyebut di dalam kitabnya Risaalah al-Mu`aawanah:
Dan ketahuilah bahwasanya seseorang yang beribadat kepada Allah tanpa ilmu, maka kemudharatan yang kembali kepadanya sebab ibadatnya itu lebih banyak daripada manfaat yang terhasil baginya. Berapa ramai ahli ibadat yang memenatkan dirinya dalam ibadat sedangkan dia sebenarnya atas maksiat padahal dia beranggapan apa yang dilakukannya adalah ketaatan atau bukannya maksiat…..”

Harus diingat juga bahwa, berilmu bukan hanya sekedar berilmu, kita harus memiliki guru sebagai teladan kita dan dasar ilmu kita tadi. Baik belajar kepada ulama, tengku/ustad, mualim-maulim, dan lainnya yang terpenting kita mengakui kebenaran ilmunya dan ilmu nya tidak sesat. Dan Allah juga berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Israa’:36)

Maka oleh sebab itu, janganlah bermalas-malasan dalam menimba ilmu pengetahuan agar kita mendapat kebagaian dunia dan akhirat.

Baca Juga : Perbandingan kehidupan dunia dan akhirat

2.    Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu dan menjadikannya kepada kedudukan terhormat.

Janji Allah SWT. ini tercantum dalam surat Al-Mujadalah ayat 11,



Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Al-Mujadalah:11)

Dan juga Rasulullah SAW. Bersabda,
Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sadaqah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii')

Berbagai kemulian dan kedudukan tinggi akan diperoleh oleh orang yang memiliki ilmu pengetahuan baik kedudukan dunia dan akhirat nanti. Lihatlah kedudukan para ulama di dunia ini, dimuliakan oleh semua orang dari seluruh pelosok negeri ini . Tidak ada kemudharatn dan kesengsaraan pula bagi mereka diakhirat karena Allah menjamin mereka kedudukan yang baik. Terkecuali bagi kaum munafiqin (mengaku islam tapi tidak cinta kepada islam) dan kaum kafir harbi, mereka memang sangat membeci ulama.

Selain kedudukan dan kemulian para mu’alim-mu’alim juga menjadi sorotan diseluruh negeri ini. Karena seiring dengan perjalanan waktu, para pemuda-pemuda disibukkan oleh budaya-budaya kampungan bangsa jahiliah yang mereka adopsi dari negeri barat sehingga minimnya dari mereka menuntu ilmu baik dunia maupun akhirat. Mereka telah dibodohkan oleh susunan tata kehidupan berantakan yang kemudian mereka anggap “keren”. Sehingga oleh sebab itu, semakin hari para mu’alim-mu’alim sangat dicari dan dibayar mahal untuk ilmu  yang diajarkannya. Selain dari akibat langkanya orang yang berilmu juga karena Allah menjamin kedudukan mereka.

Selain itu, dalam urusan dunia, berbagia teknologi dan innovasi dikuasai oleh orang-orang yang pintar. Adakah orang pandir menguasai teknologi? Adakah orang yang lalai mendapat kedudukan yang baik di dunia. Tidak ada jalan lain selain menuntut ilmu untuk menjalin hubungan dengan perjalanan waktu. Orang kaya bukan hanya karena takdir tapi karena mereka menguasai ilmu sehingga takdir itu sejalan, para ilmuan bukan hanya karena takdir mampu membuat innovasi tapi karena rasa mau belajar dan ingin tahu. Jika kita ditakdirkan menjadi orang kaya sedangkan kita tidak punya ilmu apakah sejalan? Maka oleh sebab itu, tuntutlah ilmu untuk medapatkan kedudukan baik dunia dan akhirat.

3.    Orang berilmu bagai bulan diantara bintang-bintang.

Tidak hanya perbandingan dengan orang yang pandir tetapi juga perbandingan dan kelebihan terbanyak dimiliki oleh orang yang berilmu dari pada orang ‘abid (orang yang suka beribadah). Bayangkan saja orang yang sudah pandir tidak mau beribadah, sudah jauh dan jauh dan sangat jauh perbandingannya dengan orang yang berilmu. Seperti sabda Nabi SAW. berikut ini,
 Dari Abu Darda: saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Kelebihan seorang alim dari seorang ‘abid (orang yang suka beribadah) seperti kelebihan bulan pada bintang-bintang, dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para nabi, mereka tidak mewariskan dinar (uang) tetapi mewariskan ilmu, siapa yang mengambilnya, maka ambillah dengan bagian yang cukup (HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Dalam hadits lain nabi SAW. juga Bersabda.
Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Ath-Thabrani)

Bulan adalah perumpamaan bagi orang yang berilmu atas ahli ibadah sebagai bintang. Nah, jika orang bodoh tidak kita ketahui bagaimana perbandinganya. Bisa saja semut hitam yang berada dalam kelamnya malam adalah perumpamaan orang bodoh. Seorang ‘abid mungkin memiliki sangat sedikit ilmu tentang pahala dan dosa saja sedangkan orang bodoh adalah orang yang tidak tahu apa-apa bahkan tidak bisa membedakan yang mana halal dan haram. Kebodohan yang bersangatan inilah yang berbahaya. Namun lain halnya berilmu dan juga doyan beribadah alias ‘abid, maka keistimewaan yang dimiliki akan berlipat ganda.

4.    Ilmu merupakan salah satu amalan yang terus mengalir hingga mati

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila anak Adam (yakni manusia) meninggal dunia, maka putuslah amalannya (yakni tidak dapat menambah pahalanya lagi), melainkan dari tiga macam perkara, yaitu sedekah jariah atau ilmu yang dapat diambil kemanfaatannya atau anak yang shalih yang suka mendoakan untuknya." (Riwayat Muslim)

Salah satu amalan yang akan terus mengalir meskipun kita tidak melakukannya lagi adalah ilmu yang bermanfaat. Nah, ilmu yang bermanfaat di sini adalah ilmu agama atau ilmu yang memberi manfaat positif bagi kehidupan orang banyak yaitu dimana apabila seseorang yang pernah kita ajarkan untuk beribadah maka pahalanya akan terus mengalir kepada kita selama ia melakukan amalan itu. Ataupun ilmu yang pernah kita ajarkan bisa memberi manfaat dan memudahkan kehidupan. Dan hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW.

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk (yakni kebenaran), maka baginya adalah pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka itu." (Riwayat Muslim)

Selain itu, ajakan-ajakan untuk beramal shaleh juga merupakan ilmu. dan ilmu inilah yang dikatakan bermanfaat. Dan juga ilmu yang dapat menolong sesama manusia baik fisik maupun mental yaitu dalam hal kebaikan maka ini juga termasuk ilmu yang bermanfaat. Namun ingatlah, semunya didasarkan oleh iman kepada Allah SWT. dan keikhlasan. Jika suatu amalan ilmu bermanfaat selain ilmu agama tadi tapi orang tersebut tidak beriman kepada Allah dan/ atau tidak meniatkan dengan keikhlasan maka amalannya juga sia-sia.

5.    Allah SWT. memudahkan jalan masuk syurga

Sebagaimana yang nabi SAW. Sabdakan beriku ini,
Seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Syurga (Shahih Al-Jami)

Dalam hadits riwayat lain beliau bersabda,
Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)

Surga merupakan tujuan dan sasaran utama atas segala amalan yang kita lakukan meskipun kita seharusnya beribadah secara ikhlas alias tidak mengharapkan imbalan. Namun dari pada itu, bagi orang yang menuntut ilmu memiliki keistimewaan yang luar biasa yaitu dimudahkan oleh Allah jalan menuju syurga. Bila kita lihat faktanya, orang yang menuntu ilmu (terutama ilmu agama) pasti mempelajari halal dan haramnya suatu perbuatan. Juga mengenai hal yang mendekatkan kita kepadan Allah dan menjauhkan kita kepada Allah dan termasuk pula bagaimana menuju jalan yang benar. Oleh sebab itu maka jelas bahwa dia akan mudah menuju syurga. Dan juga ini adalah jaminan Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul mustafa Muhammad SAW. selain dari fakta tersebut tadi.

6.    Berada dalam dijalan yang benar

Nabi Muhammad SAW. Bersabda,
Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali (Shahih Tarmizi)

Adapaun jalan Allah adalah jalan yang benar yang diredhai oleh Allah SWT.. bahkan dalam suatu riwayat disebutkan, siapa saja yang wafat ketika dalam keadaan menuntut ilmu  maka mendapat pahala syahid. Dan ini berlaku sejak dia melangkah dari rumah hingga ia kembali dengan syarat apa yang dia pelajari adalah ilmu yang bermanfaat yang tidak menentang dengan aqidah. Kita pergi kesekolah juga menuntut ilmu, terlebih lagi pengajian-pengajian dan pesantren dan termasuk juga majelis-majelis ta’lem yang diselengggarakan disurau-surau atau masjid-masjid.

7.    Kemuliaan yang diberikan oleh para malaikat untuk orang yang menuntut ilmu dengan meletakkan sayapnya

Sabda Nabi SAW.” … Sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu karena rida/ senang terhadap apa yang dicarinya (ilmu).” (HR. Ibnu Abdul Bar)

8.    Dimohonkan ampun dosanya oleh semua makhluk sampai semua binatang dan makhluk.

Seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut ini,
“Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda: menuntut ilmu itu  wajib atas setiap orang Islam, karena sesungguhnya semua (makhluk) sampai binatang-binatang yang ada di laut memohonkan ampun untuk orang yang menuntut ilmu”. (H.R. Ibnu Abdurrahman)

Nah, sungguh sangat banyak keistimewaan bagi orang yang menuntut ilmu. Mulai dari kehidupan dunia hingga kepada kehidupan akhirat Allah telah menjamin kebahagian bagi orang-orang yang menuntut ilmu. Yang harus menjadi catatan dalm diri kita semua bahwa, tuntutlah ilmu dengan niat baik bukan karena niat membangga-banggakan atau ria atu semacamnya dalam kehidupan dunia ini jika demikian maka celaka dan rugilah kita terhadap apa yang telah kita usahakan. Karena semua itu akan berubah menjadi siksaan yang sangat pedih yaitu neraka. Sebagimana sabda Rasulullah SAW. berikut ini,

Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka ... neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Oleh sebab itu, marilah kita menuntut ilmu dengan yakin daan ikhlas serta bersungguh-sungguh, semoga kiranya kita mendapat rahmat dari Yang Kuasa, Aamiin aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

Baca Juga : Hubungan ilmu, iman dan amal dalam Islam

0 Response to "Keutamaaan Menuntut Ilmu dalam Islam"

Post a Comment